Langsung ke konten utama

Pulang ke Rumah


Rumah Masa Depan
Bukan di Kuburan

Oleh:
RHR Dodi Sarjana


Jika ingin bersendiri tanpa bersepi
Jika ingin hening di tengah bising yang mati
Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali
Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap
jawablah:
kepadamukah kumesti pergi?


SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas.
Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana?
Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu.
Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidup yang dijalin para orangtua menjadi dasar keceriaan atau keburaman kehidupan seseorang di masa depannya.
Dari rumah lah, masing-masing individu mulai mengguratkan tapak kehidupannya. Dari rumah lah bangunan cita-cita hidup mulai ditata. Dari rumah lah, rumah masa depan mulai dirancang tata desainnya.

Kemanapun aku pergi bayang-bayangMu mengejar
Bersembunyi dimanapun selalu Engkau temukan
aku merasa letih dan ingin sendiri
Kutanya pada siapa tak ada yg menjawab,
sebab semua peristiwa ada di rongga dada
Pergulatan yang panjang dalam kesunyian
Aku mencari jawaban di laut
Kuseret langkah menyusuri pantai
Aku merasa mendengar suara
Menutupi jalan, menghentikan petualangan
Kemanapun aku pergi selalu kubawa-bawa
perasaan yang bersalah datang menghantuiku
Masih mungkinkah pintumu kubuka
dengan kunci yang pernah kupatahkan
Lihatlah…aku terkapar dan luka
Dengarkanlah jeritan dari dalam jiwa
Aku ingin pulang
Aku harus pulang


Lewat lagunya, penyanyi Yogyakarta Ebiet G Ade, mendesahkan hatinya yang galau. Dia ingin dan harus pulang. Ke manakah harus pulang?
Dengan rasa bersalah, karena (barangkali) gagal dalam menentukan langkah, sang tokoh dalam lagu Ebiet sangsi bisa pulang dan masuk rumahnya.
Kesalahan yang dilakukan telah membuat kunci rumah (masa depannya) patah. Dosa yang dia rasakan membuatnya tak pantas masuk dalam dekapan Bapanya.
Pulang ke rumah, berarti meninggalkan jasad wadag di dunia. Jasad yang dipenuhi belatung dosa, sudah tentu tak layak dibawa pulang ke rumah. Dia harus ditinggal dan menjadi residu bagi dunia.
Namun masyaallah........ wadag kotor seperti yang saya punya ini ternyata juga tak layak diselimuti hangatnya tanah liat dunia.
Lebih baik dia dibakar menjadi abu ketika suatu saat di dalamnya sudah tidak ada kehidupan lagi. Dan biarkan angin membawanya bertebaran ke semua penjuru.
Dengan begitu anak-cucu keturunan tak perlu repot membersihkan makam. Cukuplah dikenang lewat doa saja. ***

(foto ilustrasi diambil dari situs di internet)

Komentar

Anonim mengatakan…
Saya baca tulisan ini dengan air mata berlinang. Bukan karena kesalahan rangkai kata di sini, tapi karena seberapapun jauhnya seseorang pergi jauh dari rumahnya, ia butuh PULANG.
Anonim mengatakan…
Pulang......betapa indahnya membayangkannya. Aku selalu rindu pulang. Rindu dekapan org2 terkasih di masa lalu. Rindu hembusan nafasnya di kepalaku
Anonim mengatakan…
Hiks Hiks hiks hiks....aku pengin nagis rasanya
- Catatan Nico Surya - mengatakan…
Saya pernah berpikir bahwa pulang hanyalah pembenaran bagi seorang pecundang yang ingin tetap bermartabat ketika meninggalkan medan perang. Tapi sesungguhnya perang sedahsyat apapun hanya akan membuka jalan lebih lapang menuju arah pulang bahkan untuk seorang pemenang sejati sekalipun. Karena pulang adalah fitrah ...

nico surya
Gama mengatakan…
Aku ingin pulang.....aku akan pulang ....aku harus pulang !!!!!
Dan setelah bertemu dengan Yang kucari.....aku akan kembali .
Wass,

Postingan populer dari blog ini

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...