Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2015

OMA/EYANG/SIMBAH/NENEK

Itulah sebutan untuk ibu kita, ketika kita sudah omah-omah atau berumahtangga dan punya anak. Ibu adalah orangtua kita. Dia istrinya ayah kita, papa kita, atau apa pun sebutan lainnnya buat bapak kita. Sebagai oma, nenek, eyang, dan lain-lain, kehadiran ibu kita tentu teramat penting buat anak-anak kita. Tanpa mereka, tentu anak-anak kita tidak akan hadir di dunia ini, karena tanpa mereka kita pun juga pasti tidak ada. Simbah atau nenek, seringkali memberikan ketenteraman dan kedamaian tersendiri bagi anak-anak kita. Kehadiran eyang seringkali menjadi pengayom alternatif, manakala anak-anak butuh tempat mengadu yang lain. Tema mengadu menjadi lebih luas ketimbang saat-saat mengadu kepada kita. Bahkan kita pun tak jarang jadi tema aduan anak-anak. Ungkapan kasih sayang oma atau eyang kepada cucunya, di banyak hal, biasanya lebih besar dibandingkan rasa sayang ibu kepada anaknya. Oma lebih memanja, sedang ibu banyak cerewet atau marahnya. Bahayanya, kemanjaan yan...

PEDAS

Sarapan pagi ini aku kepedasan. Pating crekit di mulut. Huweh..huweh, mulut terbuka sedikit, udara kusedot cepat-cepat, deras, lalu buru-buru kulepaskan. Sedikit terasa isis. Lumayan mengurangi rasa panas. Adonan cabe dengan bawang putih dan garam sangat menggodaku. Warnanya merah, tidak lembut, bahkan cabikan cabe marahnya masih terlihat. Selebar satu sentimeter, menjadi daya tarik tersendiri. Tak perlu beraneka ragam lauk untuk menemani nasi putih, pagi ini. Cukup tempe, plus ikan asin. Itu sudah cukup membuat keringat bagai rintik hujan membasahi kening. Makanan boleh bercabe dan membuat seluruh rongga mulut pedas. Tapi dalam berkata-kata, kata bapakku, jangan sampai terasa pedas bagi orang yang mendengarnya. Kalau ngomong yang santun, jangan menusuk hati orang lain, apa pun tema omongannya. Lagi marah pun juga berkatalah dengan pilihan kata yang biasa. Focus pada kemarahan, dan tidak mengumbar nama-nama hewan. Dengan demikian, semoga orang lain bisa menerim...

DARI NOL, YA PAK...

Dodi Sarjana mikir mikir sambil ditemani kopi secangkir Like · Reply · November 3 at 12:34pm Write a comment... News Feed Dodi Sarjana November 2 at 11:37am · Kalimat itu, kerap kudengar setiap kali hendak mengisi BBM di beberapa SPBU atau Pom Bensin. Tidak laki, tidak perempuan, petugas pengisian selalu mengatakannya ketika hendak memasukkan selang ke mulut tangki kendaraan. Dalam perkembangannya, saking banyaknya perempuan yang bertugas atau bekerja di SPBU, banyak lajang berseloroh ketika hendak mencari jodoh. Kata mereka, "Kalau mau mencari istri pakailah falsafah pegawai pom bensin deh. Mereka siap fight dan mau diajak membangun rumahtangga dari ketiadaan. Mereka sudah sangat terbiasa dengan kata2, mulai dari nol ya Pak?" Biasanya, kalimat sapaan itu mengalir begitu saja di telingaku. Tapi pagi ini, aku sedikit kepikiran lagi, saat isi bensin di sebuah Pom Bensin di tengah kota. Meng...

Kado dari Bapak

Namaku Kuntho, tapi orang-orang dekatku memanggilku Saha. Entah apa artinya nama panggilan itu, namun yang pasti aku suka-suka saja mendengarnya. Jarum jam belum lagi menunjukkan angka setengah lima ketika aku mendadak terbangun. Keningku terasa hangat. Aneh, batinku dengan mata masih terpejam. Sejurus kemudian, seperti ada hembusan angin di ujung-ujung rambutku. Ketika kupencet knop lampu, tak kutemukan apa-apa di depanku. Di samping kanan dan kiri, juga tak kulihat siapa-siapa. Perlahan aku kembali ke tempat tidur lalu kubaringkan badanku lagi. Belum semenit kupejamkan mata, keningku terasa hangat lagi. Lagi-lagi aneh, mendadak dalam diam dan pejaman mata, kurasakan bapakku mencium keningku. Semakin aku diam dan merapatkan mata, ciuman bapakku terasa makin hangat dan kuat. Bapak, benar kamukah itu? Bukan kah kamu sedang tidak di sini? Kapan Bapak datang? Tanyaku dalam hati bertubi-tubi, sementara pagi semakin sunyi. Entah datangnya suara dalam hati ini dar...