Dodi Sarjana mikir mikir sambil ditemani kopi secangkir

Write a comment...
News Feed
Kalimat itu, kerap kudengar setiap kali hendak mengisi BBM di beberapa SPBU atau Pom Bensin. Tidak laki, tidak perempuan, petugas pengisian selalu mengatakannya ketika hendak memasukkan selang ke mulut tangki kendaraan.
Dalam perkembangannya,
saking banyaknya perempuan yang bertugas atau bekerja di SPBU, banyak
lajang berseloroh ketika hendak mencari jodoh. Kata mereka, "Kalau mau
mencari istri pakailah falsafah pegawai pom bensin deh. Mereka siap
fight dan mau diajak membangun rumahtangga dari ketiadaan. Mereka sudah
sangat terbiasa dengan kata2, mulai dari nol ya Pak?"
Biasanya, kalimat sapaan itu mengalir begitu saja di telingaku. Tapi pagi ini, aku sedikit kepikiran lagi, saat isi bensin di sebuah Pom Bensin di tengah kota.
Mengawali perjalanan hidup, di pagi hari, sebaiknya memang dari nol. "Ibarat minuman, kosongkan gelas kita di pagi hari agar bisa menampung kembali berbagai minuman yang bakal tersuguh seharian nanti.
Tidak perlu merasa sudah pandai, sudah ahli, sehingga tak mau mendengarkan masukan dari orang-orang yang bakal kita jumpai hari ini. Kesombongan hanya akan membuat kita takabur, dan membuka lubang jebakan bagi perjalanan kita sendiri dalam kisah sehari-hari.
Hidup betul-betul dari nol, hari-hari dilakoni Pak Suparto, pemulung yang biasa kujumpai di pinggir jalan. Jangankan uang saku sisa belanja istrinya, sedikit minuman atau makanan penganjal perut pun dia tiada bawa.
Nanti menjelang siang dia baru bisa isi perut kalo sudah mampir kara-kara untuk menjual sebagian hasil pulunggannya. Tapi anehnya itu lo, saban jumpa, selalu saja senyumnya mengembang. Terlihat bahagia, tanpa beban, dan terasa ada rasa syukur di dalamnya.
Meraih kebahagiaan ternyata sebenarnya memang tidak mahal. Kosongkan ego, bersyukur, berserah, dan murah senyum. Soal kantong, nanti ada rezekinya sendiri. Percayalah.
" Sudah selesai Pak ngisinya. Terimakasih, sampai jumpa lagi. Hati-hati di jalan," kata wanita petugas SPBU kepadaku. Sementara lamat-lamat di sebelahnya k
Biasanya, kalimat sapaan itu mengalir begitu saja di telingaku. Tapi pagi ini, aku sedikit kepikiran lagi, saat isi bensin di sebuah Pom Bensin di tengah kota.
Mengawali perjalanan hidup, di pagi hari, sebaiknya memang dari nol. "Ibarat minuman, kosongkan gelas kita di pagi hari agar bisa menampung kembali berbagai minuman yang bakal tersuguh seharian nanti.
Tidak perlu merasa sudah pandai, sudah ahli, sehingga tak mau mendengarkan masukan dari orang-orang yang bakal kita jumpai hari ini. Kesombongan hanya akan membuat kita takabur, dan membuka lubang jebakan bagi perjalanan kita sendiri dalam kisah sehari-hari.
Hidup betul-betul dari nol, hari-hari dilakoni Pak Suparto, pemulung yang biasa kujumpai di pinggir jalan. Jangankan uang saku sisa belanja istrinya, sedikit minuman atau makanan penganjal perut pun dia tiada bawa.
Nanti menjelang siang dia baru bisa isi perut kalo sudah mampir kara-kara untuk menjual sebagian hasil pulunggannya. Tapi anehnya itu lo, saban jumpa, selalu saja senyumnya mengembang. Terlihat bahagia, tanpa beban, dan terasa ada rasa syukur di dalamnya.
Meraih kebahagiaan ternyata sebenarnya memang tidak mahal. Kosongkan ego, bersyukur, berserah, dan murah senyum. Soal kantong, nanti ada rezekinya sendiri. Percayalah.
" Sudah selesai Pak ngisinya. Terimakasih, sampai jumpa lagi. Hati-hati di jalan," kata wanita petugas SPBU kepadaku. Sementara lamat-lamat di sebelahnya k

Komentar