Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2012

MAS PRAYIT TELAH PERGI

Mas Prayit......! Tak sadar, mulutku berulang-ulang menyebut nama suamiku, ketika mataku tertumbuk ke tempat tidur tua di sudut ruang tamu. Serasa ada pisau yang merobek-robek hati ini ketika terlintas bayangan Mas Prayit tergolek di ranjang itu. Sendiri tak berdaya ditelikung penyakit menahun. Salah satu hiburannya yang paling berharga han yalah di saat siang. Pelukan mesra anak bungsunya sepulang sekolah, sambil bercerita berbagai peristiwa di sekolahnya, bagaikan hujan sehari di tengah kemarau berkepanjangan. Dia hanya berdua saja bersama Gendis, yang kini sudah menginjak remaja. Aku sendiri harus bolak-balik ke kota untuk urusan kantor. Mas Prayit sebenarnya kerap juga mengeluhkan sakitnya padaku. Tapi karena seringkali aku mengacuhkan dan menganggapnya cengeng, Mas Prayit tak pernah lagi berkeluh-kesah. Pekerjaanku jadi tak terganggu. Kini sudah 7 hari sejak kepergian Mas Prayit. Di rumah tidak ada lagi alunan dendang tembang2 kenangan. Tidak ada lagi suar...

BBS ALIAS BOBOK-BOBOK SIANG

Aku mengenal istilah BBS, saat masih kuliah di Yogyakarta. Bukan karena pengalaman, tapi karena cerita teman dan baca koran. BBS alias bobok-bobok siang, katanya pada waktu itu, kegiatan nyantai yang dilakukan di saat-saat terjepit, di sela-sela makan siang. Pegawai negeri atau pekerja swasta, pamit makan siang di luar kantor. Dia sud ah berhitung, istirahat makan siang waktunya satu jam. Sepuluh menit untuk isi perut dan nambah tenaga, sisanya untuk puaskan syahwat. Prakteknya gampang. Tinggal cari selingkuhan rekan sekantor atau tetangga kantor. Praktis dan ekonomis. Belum ada hape, sehingga pesan cukup ditempel di spion motor. Soal biaya BBS bisa ditanggung renteng. Yang penting otak makin enteng karena nafsu terlampiaskan, kata mereka. Bayar hotel untuk BBS bisa patungan, wong sama2 seneng. Hotelnya namanya Hotel Sejaman, karena pakainya dihitung jam-jaman. Aku gak tahu, budaya itu, saat ini masih ada nggak ya? Yang jelas, saat ini, aku sedang BBS. Tidak d...

JANJI PARTO BELUM TERPENUHI

"Mami mlebu igd" pesan singkat tersebut kuterima pagi tadi pukul 2.30. Itu berarti baru setengah jam setelah aku mengakhiri obrolan bersama kawan2 dan masuk kamar tidur. Aku baru sempat membaca pesan itu setengah lima tadi. Rupanya, begitu aku meletakkan kepala di bantal langsung tewas, tertidur. Bunyi pesan masuk tak terdengar. Usia i buku sudah 76 tahun. Sudah melebihi dari usia yang dia targetkan sendiri. Bukan hendak mendahului kehendak yang di atas, tapi memang karena kondisi ibu lah yg membuat dia berserah dan tidak menuntut banyak. Kesederhanaan dan kesabarannya menjadi inspirasi kami, anak2nya. Sejak muda penderita asma berat. Hamil anak pertama langsung dihantui sesak berat, bernafas seperti orang kelelap di kolam. Saat tersengal-sengal wajahnya memucat. Semua disuruhnya menjauh dan dilararangnya berbicara agar bisa konsentrasi menyedot udara. Jarak hisapan satu ke hisapan udara kedua hampir membutuhkan waktu seperempat menit. Saat hamil aku...

NGOBROL SAMA BAPAK

Selamat malam pap. Papi sehat2 saja kan? Pasti sekarang lebih sehat. Diabetnya sudah sembuh dan semua sakitnya pun sudah menghilang. Malam2 begini aku selalu teringat saat engkau mendongeng untukku. Banyak cerita yang engkau dongengkan. Namun seringkali aku tak pernah tau endingnya karena keburu tertidur. Kini, aku membiasakan mendongeng pula u ntuk cucumu. Tapi maaf pap, tak bisa aku menirumu dengan sempurna, karena kebiasaanku tertidur sebelum dongeng selesai masih saja berlangsung. Pap.....apakah kakimu masih sering terasa kebas dan badan sakit semua? Tentunya sudah tidak lagi kan? Aku yakin engkau sekarang bisa lebih banyak senyum dan selalu mendoakan kami, anak2mu dan cucu2mu. Oh iya, cucumu tertua, anak dari Mas Nano, baru saja melahirkan. Jadi engkau sudah punya cicit sekarang. Kemarin mami sudah menengok si kecil, "warga" baru itu. Di tengah upayanya menahan sakit, mami banyak terlihat tersenyum bahagia, sampai2 meneteskan ratusan bulir air m...

LAMUN KUMELAMUN

Sayangku... Manik mataku Ijinkan aku mengantuk Sedikit mengatupkan kelopak mata Menyandarkan kepala Di atas meja bertumpukan dua tangan Sambil melamunkan Andai kepala ini bisa kusurukan Di tengah belahan dadamu Ooooooh nikmatnya Sementara sayup-sayup kudengar Obrolan mereka Bagai alunan orkestra

SAJAK APARAT

Hormat...... Selamat pagi, grak Aparat mohon maaf Kubuang kosa kata hebat buatmu Aku sudah menggantinya dengan kata-kata keparat dan bejat Siap laksanakan! Di hadapan bocah-bocah SD engkau beraksi bak koboi liar main keroyok mirip siswa tawuran Di tempat sepi satu lawan satu belum tentu berani Sementara di ajang perang nyata jarang punya nyali Siap lari, grak!! Sok berkuasa merasa paling bener dan terhormat negara seolah hanya milikmu semua bisa diatur dan harus menurut yang tidak manut engkau sikut Berani melawan? Tendang, grakk!!!

MAS TRI BLA BLA BLA

Kita, sebagai pimpinan harus bertanggungjawab pada kondisi partai dan perusahaan. Jatuh bangun, itu hal biasa dan kita harus siap menjalaninya," dengan mimik serius dan dahi berkerut, Mas Triyono membuka komentarnya siang itu. Bla bla bla, ba bi bu, berpanjang lebar Mas Tri berkata-kata. Tak peduli dia, meski Hadi dan Prayogo, terus menerus men guap. Sementara Hartono dan Bambang asyik ngobrol sendiri sambil jarinya lincah mengupas kacang kulit. Plang plung kacang yang sudah terkupas masuk ke mulut. Suaranya berdecah, karena mengunyah sambil tak henti mengoceh. Peserta rapat lainnya, terlihat terkantuk-kantuk. Ada yang mengangguk-angguk, sisanya menggeleng-gelengkan kepala mencoba membuang rasa berat di kepala. Bla bla bla, ba bi bu, ba bi bu. Jadi pimpinan harus begini begitu. Bla bla bla, ba bi bu, pimpinan hakikatnya adalah bla bla bla. Mas Tri tetap semangat berbicara di hadapan anak buahnya. Siang itu, Partai Persida sedang rapat serius. Tantangan ke d...

TIBA-TIBA KURINDU DAHLAN

Sejak pukul setengah lima tadi aku menyusuri tol Bandung-Jakarta. Pagi tadi jalanan masih lengang. Sesekali kutengok spedometer di depan tubuh kurus berjaket hitam. Jarumnya tidak pernah di bawah 120 km/jam. Mantap. Aku tertidur pulas, merasakan nikmatnya jalan tol. Tak terbayangkan seandainya tidak ada jalan itu, mau berapa lama aku berla ma-lama di atas jalanan menuju Jakarta. Sekitar pukul setengah tujuh, goyangan mobil ke kiri ke kanan membangunkanku dari mimpi. Kutengok spedometer hanya di angka 20. Si kurus terkantuk-kantuk pula di belakang kemudi. "Ngantuk Bang?" tanyaku. "Ia Pak, kalo jalanan macet begini bikin ngantuuuk. Namanya tol kok macet ya Pak?" jawabnya sambil kucek2 mata. "Sampai di mana sih kita?" sambungku. "Mau masuk pintu tol Halim. Satu kilo lagi Pak," ujarnya. Kutengok alroji, hampir pukul tujuh. Kulihat semua jalur padat merayap. Di depan, pintu tol belum juga terlihat. Tiba2 kurindu Menteri Dahlan...

SEJENAK INGIN SENDIRI

Biarkan saja Aku hanya ingin istirahat sejenak Melupakan semuanya Melompong kayak kepompong Kosong Biarkan saja Aku ingin apa adamya Sendiri tanpa pikiran Meletakkan sejenak semua beban Plong Biarkan saja Aku mau tidur secepatnya Melepaskan jiwa mengembara Menembus batas hidup menuju titik Nol Biarkan saja Jangan sapa Jangan sentuh Jangan rindukan Aku

GAYA LOKAL BIKIN BEDA

Pagi ini aku, Suprapto Pangripto, bangun terlalu dini. Punggung masih terasa kaku. Mau tidur lagi, tak bisa. Tak tahu kenapa. Padahal baru jam setengah tiga rasanya aku katupkan kelopak mata ini. Pikiranku sendiri sebenarnya tak kemana-mana. Tak juga sedang capek karena mikirin yang bukan-bukan. Cuma hati saja yang agak gelisah, tapi susah me ncari sebabnya. Iseng kubolak-balik tumpukan koran di meja sebelahku. Tak biasanya aku suka baca berita selebriti. Tapi pagi ini agak di luar kebiasaan. Aku membaca "Syahrini Kembali Menjomblo". Terus terang aku bukan pemuja Si Jambul Khatulistiwa itu. Bagiku, kelakuannya banyak yang meleset. Namun demikian aku juga tak membencinya. Bukan levelku, karenanya aku tak pernah perhatian sama dia. Mau jungkir balik kek, telentang atau tengkurap, silakan saja. Pagi ini aku kheki aja lihat berita-berita smua koran di mejaku. Kompak memberitakan tentang Syahrini. Apa sih istimewanya Si Jambul ini? Macam tak ada artis lain...

I'AM NOT THE BODY

Syech Ngampar bilang i'am not the body. Maka bermetateaterlah Aryo dengan iringan musik zikir Gabano. Pemain Gabano sudah tua-tua atau kalau tidak kita sebut saja uzur. Bayangkan, di usianya yang sudah berkepala 7 dan 8, mereka tetap asyik menyanyi dan menari sambil tak tung tak tung mengeplak rebana. Aryo menggerai rambutnya yang lepas sebahu. Misainya direntangkannya menyentuh pipi dan matanya sayu menyatu dengan malam. Tak tung...tak tung, Aryo melepas baju. Bertelanjang dada di gelap dingin dalam balutan rintik hujan. Tak tung...tak tung, diambilnya onggokan daun pisang kering. Dipakainya sbg jubah kebesaran. Berguling-guling lalu nyebur ke kolam. Hilir mudik berenang mirip biawak kesepian. Puas berendam naik ke daratan sambil menari dan berkata-kata dalam bahasa purba. "hawnengneng....nangningnung.. .nengnong.....allalahu...allal ahu...huah!" Gusti memberi kita badan untuk mewadahi ruh. Inti manusia. Sebagus apa pun badan kita atau sejelek-jele...

Sudah Malam

Sudah malam di luar tak ada siapa-siapa sejauh mata memandang yang ada cuma kelam Sudah malam di kamar cuma kami berdua tak ada air kata-kata kami hanya saling merasa Bahwa hidup tak sekadar harus berlanjut tapi musti juga tak berkerut agar hidup makin berdenyut Bahwa hidup bukanlah kayak kentut yang bisa ditahan-tahan meski perut sudah kalang kabut

SUNGGUH BAPAK YAHUD

(seri ngisruh 3) "Sungguh Bapak Yahud" "Sungguh Bapak Yes" "Saya Bangga Yud" Dada saya rasanya plong membaca spanduk-spanduk yang tertempel di tembok-tembok pasar. Meski hanya terbuat dari kertas-kertas bekas, tetap saja spanduk itu membanggakan hati. Kuhitung jumlahnya lebih kalau hanya limabelas buah. Ada yang ditulis dengan cat merah, hijau, kuning. Tapi yang lebih banyak dengan cat biru. Aku senyum-senyum dalam hati setiap kali membaca tulisan2 itu. Orang-orang pada mengakui ketepatanku dalam mengambil sikap. Aku dianggap pro antipreman pasar. "Hehehehe.....makanya jangan meremehkan aku. Setiap kali, kalian menganggap aku ibarat siput. Lambat bersikap dan peragu. Padahal, di saat-saat itulah, aku tengah menganalisa, mengevaluasi. Mencoba mencari teori2 yang pas untuk ambil tindakan. Saking banyaknya buku teori yang aku punya, aku sampai harus bongkar2 isi udang." Kalau hanya untuk berpulitik diantara kita-kita....

KALAU BATUK DIKOMIK SAJA

(seri ngisruh 2) Sloomprett....! Bedunnduuk....! jiiYembuut.....! Lagi-lagi Pak Kumis misuh. Pak Kumis mengumpat sepuas-puasnya. Seluruh koleksi kata2 saru, porno, dan tak pantas, yg selama ini dikoleksi dari Sabang hingga Merauke, dikeluarkan. Hatinya membara....terbakar sekam yang selama dipendam. Maksud hati dia hendak 'menanam' anak buah di kandang lawan. Dia hendak mencuri rahasia dan kekuatan lawan. Jebulnya.......atau kenyataannya...? Harapan tinggal harapan. Yg tersisa cuma penyesalan dan amarah. Anak buahnya ternyata 'berselingkuh' dan justru jatuh cinta pada lawan. Si Komik, anak buahnya yg disusupkan ternyata berubah pandangan. Entah malaikat siapa yg telah menaklukan hati Komik dan membuat Komik berhati luhur. Bukannya mencuri rahasia lawan, tapi Si Komik justru membocorkan simpanan dosa bosnya kepada Rahmat. Berbekal daftar dosa dari Komik itulah, Rahmat beserta krunya bergerak cepat. Rahmat membuat operasi khusus pember...

PAK KUMIS BLUDREG

(seri ngisruh 1) "Suoontoloyo...!" "Buajingan....!" "jiYangkriik...!" Aku hitung sudah belasan kali Pak Kumis meneriakan umpatan itu. Gak jelas ditujukan pada siapa, tapi setiap kali anak buahnya mendekat, kata-kata tak senonoh itu muncrat. Pak Kumis tampaknya lagi kesal sekali. Sebagai dedengkotnya preman, dia marah karena keangkerannya mulai diremehkan orang. "Rahmat ini memang kere yang tak tahu diuntung. Anak kampung. Anak kemarin sore. Buang ingus aja belum pandai sudah akal2an nglawan aku. Hmmm, tunggu aja kau ya le!" geraham Pak Kumis terdengar krutug-krutug, saat berkata-kata. Pak Kumis juga kecewa terhadap Pak Setyo Bowonyolondono, Kepala Pasar. Dulu, katanya, dia diberi mandat penuh mengelola keamanan pasar. Tapi kenyataannya mana? "Masak si kepala korek api, dibiarkannya nguthak-uthik aku," gerutunya. "Dikira aku gak punya akal ya. Meski pernah gegar otak, tapi aku masih bisa mikir. Aku pun...

LUWENG TIKUS

Entah sejak kapan Lobang sumur tanpa dasar itu dinamai luweng tikus Tak terbayangkan seberapa besar tikusnya kalau lobang rumahnya saja sebegitu besarnya, dalam lagi menengoknya pun tak terlihat dasarnya Pak Siban dan Mbok Warni yang puluhan tahun lalu dilahirkan di sekitar lobang itu tak tahu sejak kapan sumur itu dinamai Luweng atau Lobang atau Gorong-gorong Tikus Ibu bapaknya dan juga kakek neneknya tak pernah cerita ttg hal itu Takut, katanya Hanya sekali, cerita tentang tikus pernah didengarnya bahwa hewan pengerat nan menjijikkan itu dikutuk jadi musuh abadi manusia Tidak hanya makanan manusia yang diembatnya Di tahun 65, tulang dan daging rakyat pun dilahapnya Jiwa rakyat dihisapnya ke Luweng Tikus Dan kini, tikus-tikus itu masih terus berulah Kini uang rakyat digerogoti Tanpa takut dan rasa malu Tertangkap satu tikus Yang lain justru berlomba Bagaimana menggeroti uang rakyat tapi tak tertangkap Luweng Tikus pun lalu menjadi saksi Bahwa tiku...

SAJAK PENDEK BUAT IBU

Sejenak telepon berdering di ujung, suara tua terdengar bergetar lirih....... tapi jelas di telinga: Sudah hampir setengah satu waktumu, saat itu, hampir tiba dari jauh, kutiupkan cintaku Tak ada kain yang hendak kusandangkan tak ada kue yang hendak kusuapkan selain hujan kata-kata doa Terimakasih, jawabku serak kata-kata itu sudah lebih dari cukup buat bekalku mengarungi lautan kehidupan ini
Matahari retak Ranting2 gemeretak menahan luka Keadilan tlah dicabik Realita dielak Kesabaran pun diinjak Di ujung gelisah, rerumputan sesak meratap; Belum cukupkah yg selama ini?
Pucuk randu Pucuk randu Batangmu menjulang menembus sepi Di dahanmu, tekukur jantan, sendiri, berselimut rindu meminang pagi . . .kugeruk......kugeruuk......ku geruuuuk....

AKU MEMBANGUNKAMU LEBIH DINI

Itulah sebabnya aku membangunkamu lebih dini//supaya kita tidak ditinggalkan pagi//bisa menyapa rerumputan//berbincang denganya sambil menyeruput kopi, smtr dia menadah embun//Itulah sebabnya aku membangunkanmu lebih dini//supaya engkau menjadi lebih tahu//pagi di sini tidak seperti di tempatmu//kalau terbiasa dengan selimut kabut// aku dipaksa berselimut asap//tengoklah embun yg ditadah rumput//beningnya bercampur jelaga sisa pembakaran hutan semalam

Titik Iyek

Melihatmu Seperti mengenang masa kecil Berlarian Berkejaran di pematang sawah Bercumbu dengan aroma jerami basah Sudah lama Kurindu gigitan mungilmu Di ujung jari, tatkala terpegang ekormu Tiada sakit hanya teriakan kaget Sementara sore makin menggantung Kecipak air di sungai Riuh Bertumpang tindih Dengan tempik sorak anak-anak

GINASTEL WITH UDUT

Segelas teh manis panas dan kental teronggok di meja ditemani sebungkus rokok utuh belum terbuka lengkap dengan korekapinya Jam sudah menunjuk angka delapan tapi di luar masih pekat keabu-abuan hujan dinihari telah meluruhkan asap yang seminggu terakhir ini menyelimuti kotaku Teh sudah kuteguk hingga seleher gelas hangatnya mengalir di dada mengusir dingin yg dibawa angin sementara rokok tak kusentuh-sentuh Ingin memang rasanya membiarkannya utuh tak hendak membuka apalagi membakarnya dalam jepitan bibir menghembuskan asapnya diantara asap yg sudah ada biarlah hari ini aku puas menghirup asap yg sudah ada saja (aku malu, kabarnya atlet PON akan bertanding memakai masker. Lalu bgn dg atlet renang? Yuuk berhenti ikut nyumbang asap)

NINA BOBOK

Menjelang tidur, mendadak Parto gelisah. Hatinya resah. Ingin dia sebenarnya luapkan marah, tapi tak tahu harus bagaimana. Memang, baginya persoalan marah bukanlah hal mudah. Selama ini hatinya t erlanjur diajari bersabar terhadap persoalan apa pun juga. Jangankan persoalan sepele. Persoalan besar menyangkut harga diri saja, dia bisa menjaga hati. Dia beranggapan, dia orang biasa, yg tak punya kuasa atas hidup ini. Hidup sudah digariskan. Karenanya manusia lebih baik berserah saja. Kegelisahan Parto malam ini sebenarnya gara-gara persoalan sepele. Jengkel dan marahnya tiba2 meluap ktika mendapati seekor nyamuk dengan santainya nongkrong di pipi gadis bungsunya yg dia sayangi. Tubuh nyamuk sudah terlihat gemuk. Menandakan dia sdh lama menghisap pipi montok itu. 'Kurangajar kau,' gerutu Parto sambil mengayunkan tangannya kuat PLOK ke pipi mungil itu. Bukan hanya nyamuk yang penyet tergencet telapak kekar itu. Tapi pipi mungil itu spontan juga memerah. Untun...

SRI AKU KEHILANGANMU

Pagi-pagi Rusman terpekur di samping rumah. Bangun tidur dia kehilangan kehangatan tubuh istrinya yg biasanya melingkarkan tangannya di perut Rusman yang mulai membuncit. Hanya secarik kertas tertinggal di atas bantal. "Bang, aku sudah nggak tahan. Percuma kau cari. Aku tak akan pulang," itu bunyi tulisannya. Seketika Rusman bangun, berlari keluar rumah. Hanya didapatinya sepasang sandal tua milik istrinya, Srihati, di pinggir jalan setapak. Tampaknya tak sempat lagi istrinya bersandal karena takut Rusman keburu terbangun. Sri artinya baik. Srihati mengandung makna hati yang baik. Nama itu memang sesuai orangnya. Selama ini Srihati lah yang bisa mengendalikan segala nafsu Rusman. Bahkan karena Srihati lah Rusman bisa seperti saat ini. Menjadi lurah di kampung Rantau, dihargai banyak orang, dan terpandang dari segala sisi. Namun sebagai wanita nampaknya Sri punya keterbatasan. Lama-lama kesabarannya retak melihat suami maunya dipuja-puji terus. Bikin ac...

SAJAK INI BUDI

Be Uu Bu De Ii Di Budi Ini Budi Budi sakit panas Budi tidur tiduran Budi istirahat supaya cepat sehat Tiba tiba bos Budi datang Budi dimarahi Budi tak sempat cerita Budi terus bangun Budi ambil gerobak Budi kerja lagi baik baik Budi akhirnya berkeringat Budi sudah lupa kalo sakit Ini Budi, Budi tidak mau sakit lagi Budi tidak mau tidur lagi kalau sakit Budi maunya langsung mati saja Tapi Budi belum mau mati Anak Budi masih kecil Ini Budi Budi kangen masa kecil......

NAMANYA KAK ITA

Sssstt.... Sinilah, mendekat. Kuberitahu ya, dia kuberi nama lengkap Margarita Bonita Rosyita, meski dia mengaku padaku bernama Anneke Anita. Dia sendiri, dalam keseharian lebih suka dipanggil Kak Ita. Seperti halnya dia juga memanggil Bapak dan Emakku, Kakak. Emakku sih diam aja dipanggil kakak. Tapi Bapakku sempat menolak dan mengajari memanggil bapak. Tapi, karena berpuluh kali mengajari dan berpuluh kali pula Kak Ita tetap memanggil kakak, akhirnya bapakku menyerah. Aku sendiri gak tahu kenapa dia enggan memanggil bapak ke bapakku. Tidak pernah aku menanyakannya, seperti halnya bapakku yang memilih membiarkannya, karena masih banyak persoalan hidup yang lebih penting yang lebih layak dipikirkan. Dulu, hampir 20 tahun, Kak Ita pernah hidup dalam penyiksaan dunia. Gerahamnya rompal, beradu dengan kepalan tangan bekas majikannya. Trauma masa lalunya membuat dia seolah hidup di luar dirinya sendiri. Jangankan berpikir, membaca saja dia tidak mampu. Kalau diajak berbicara atau disuruh...

Cer-peli (cerita pendek sekali) ATMO KETHER

(renungan atas G 30 S) Tidak seperti biasanya. Pagi ini, sebelum subuh, Mbah Atmo (95) sudah keluar rumah. Membawa kakinya menuju sudut desa. Di sana ada bongkahan batu besar, sisa letusan gunung di saat dia kecil. Pelan diletakkannya pantatnya di batu itu, sambil mendesah. Setiap kali tanggal 1 Okt, pikirannya resah. Galau, namun hatinya kosong. Dulu, di setiap akhir bulan September, dia selalu dikejar-kejar ketakutan. Selama seminggu, badannya selalu menggigil. Itu sebabnya ia dijuluki kether. Atmo Kether. Kini, ketakutannya telah membatu. Menjelma menjadi keberanian dan kepasrahan menerima apa pum juga. Mbah Atmo orang biasa dan prasojo. Buta huruf dan tak kenal ilmu pengetahuan, apalagi ilmu pulitik. Anak satu-satunya meninggal di depan matamya, saat Mbah Atmo baru saja menghabiskann bubur merah kiriman anaknya itu. Saeran, anaknya, bersama istri biasa kirim bubur di saat Mbah Atmo ulang tahun. Waktu itu pendak warsa ke-48. Tiba-tiba serombongan orang berbaju hijau datan...