Mas Prayit......! Tak sadar, mulutku berulang-ulang menyebut nama suamiku, ketika mataku tertumbuk ke tempat tidur tua di sudut ruang tamu. Serasa ada pisau yang merobek-robek hati ini ketika terlintas bayangan Mas Prayit tergolek di ranjang itu. Sendiri tak berdaya ditelikung penyakit menahun. Salah satu hiburannya yang paling berharga han yalah di saat siang. Pelukan mesra anak bungsunya sepulang sekolah, sambil bercerita berbagai peristiwa di sekolahnya, bagaikan hujan sehari di tengah kemarau berkepanjangan. Dia hanya berdua saja bersama Gendis, yang kini sudah menginjak remaja. Aku sendiri harus bolak-balik ke kota untuk urusan kantor. Mas Prayit sebenarnya kerap juga mengeluhkan sakitnya padaku. Tapi karena seringkali aku mengacuhkan dan menganggapnya cengeng, Mas Prayit tak pernah lagi berkeluh-kesah. Pekerjaanku jadi tak terganggu. Kini sudah 7 hari sejak kepergian Mas Prayit. Di rumah tidak ada lagi alunan dendang tembang2 kenangan. Tidak ada lagi suar...
Adalah house of art&culture. Rumah seni&budaya, kuliner, serta rumah kehidupan. Omah Kebon, diharap tak hanya jadi rumah mimpi, tapi rumah kasunyatan. Because, se-beruntung2-nya orang yg lupa, masih untung yg slalu ingat&waspada. Ketika sadar kita sering tergagap&terperangah. Ternyata selama ini kita banyak dibuai mimpi. Persoalannya, bagaimana cara mewujudkan mimpi2 itu? I think, biarkan kesadaran membimbing kita. Soo good luck, smg Anda beruntung dlm kehidupan ini.