Langsung ke konten utama

SRI AKU KEHILANGANMU


Pagi-pagi Rusman terpekur di samping rumah. Bangun tidur dia kehilangan kehangatan tubuh istrinya yg biasanya melingkarkan tangannya di perut Rusman yang mulai membuncit.

Hanya secarik
kertas tertinggal di atas bantal. "Bang, aku sudah nggak tahan. Percuma kau cari. Aku tak akan pulang," itu bunyi tulisannya.

Seketika Rusman bangun, berlari keluar rumah. Hanya didapatinya sepasang sandal tua milik istrinya, Srihati, di pinggir jalan setapak. Tampaknya tak sempat lagi istrinya bersandal karena takut Rusman keburu terbangun.

Sri artinya baik. Srihati mengandung makna hati yang baik. Nama itu memang sesuai orangnya. Selama ini Srihati lah yang bisa mengendalikan segala nafsu Rusman.

Bahkan karena Srihati lah Rusman bisa seperti saat ini. Menjadi lurah di kampung Rantau, dihargai banyak orang, dan terpandang dari segala sisi.

Namun sebagai wanita nampaknya Sri punya keterbatasan. Lama-lama kesabarannya retak melihat suami maunya dipuja-puji terus.

Bikin acara kampung, tak mikir ada uang atau tidak. Yang penting biar orang berdecak kagum, dan buntutnya memuji Rusman.

Kali ini acara pasar malam tujuh hari tujuh malam hendak digelar. Rusman tak mau peduli uangg dari mana untuk membuat acara itu.

Paling menggelisahkan Sri adalah ketika istri beberapa pamong desa curhat kepadanya, ttg kesendirian mereka setelah para suami harus berurusan dengan polisi terkait isu penggelapan tanah bengkok.

Rumah tangga mereka menjadi seperti bara. Puanas. Sementara para suami mengaku tak bisa berbuat lain selain menuruti perintah Lurah Rusman.

Sri tak tahan lagi. Dia tak rela melihat orang lain menderita demi nafsu suaminya. Dia minggat karena ingin memberi pelajaran suami. Biar Rusman semakin gelisah karena danau luapan kegelisahannya sudah musnah.

Sri hanya berharap, di puncak kegelisahan Rusman semoga nanti ada penyesalan. ........

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...