Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2013

MUNGKINKAH SUAMIKU PEMBUNUHNYA

Cer-peli (cerita pendek sekali) Aku sedih dan bingung, setiap kali melihat suamiku murung, diam lama-lama, lalu tiba-tiba teriak-teriak sendiri. Tak jelas apa yang dikatakannya. Habis itu menangis, melolong sambil memegangi kepala. Menjambaki rambutnya sendiri. Mungkin sudah hampir belasan tahun dia berperilaku seperti itu. Hari-harinya banyak dihabiskan dengan non gkrong di belakang rumah sambil memeloti kliping guntingan koran-koran lama. Berulangkali dia ingin membongkar rahasia kelam hidupnya. Namun selalu gagal. Dia ingin mengurai kerisauan hatinya, dia ingin mencuci dan menebus dosanya dengan mengaku, tapi mereka-mereka justru menghalanginya. Kepadaku, dia tidak cerita banyak. Secuil dia hanya sempat mengatakan, "Ma...aku telah melakukan dosa besar. Bantulah aku dengan doamu." Hingga kini, pikiranku selalu digelayuti seribu pertanyaan, usai mengantarnya melapor, sebelum dia tak bisa diajak komunikasi lagi seperti saat ini. Yah, samalah aku dengan dia. Sama-sama menanggu...

JANGAN PILIH MEREKA

Cer-peli (cerita pendek sekali) Dadaku berdarah. Sakit. Tangan-tanganku terkelupas, perih. Bahuku juga terluka. Banyak paku dan kawat menancap di sana-sini. Sakitnya makin menjadi-jadi, manakala angin berhembus, menggoyang-goyangkan pamflet dan spanduk yang terpaku di sana. Kulihat teman-temanku juga meringis. Menahan sakit seperti diriku. Ini memang wabah empat tahunan yang  selalu menyerang kami. Sebenarnya sudah pernah, teman-teman manusia membelaku. Namun kelompok manusia yang lain, seolah-olah tuli dan buta. Tak mau melihat dan mendengar keluhan kami. Kami hanya bisa membayangkan, kalau semasa kampanye saja, mereka tega menyakiti kami, bagaimana nantinya kalau mereka benar-benar sudah menjadi kepala daerah, pejabat, ataupun politisi serta tokoh penting lainnya? Barangkali mereka tidak hanya memakukan gambar mereka di pohon-pohon seperti yang kami alami kini. Mungkin saja, mereka nanti akan makin menggila, berlomba menebangi kami. Semau mereka, dengan alasan demi pembangunan. P...

PIDATO KEMERDEKAAN

Cer-peli (cerita pendek sekali) Merdeka! Saudara sebangsa dan setanahair, ijinken pertama-tama, saya mengucapken tahniah dan salam sejahtera untuk kita semua. Setelah sekian puluh tahun, perjalanan dan pencapaian kita semua, hari ini, bisa saya sebutken kita sukses luar biasa menunjuken hasil yang gilang-gemilang. Pertumbuhan sektor ekonomi kita, sudah menyalip sekian digit ba ngsa-bangsa tetangga. Tatanan sosial masyarakat kita sudah sedemikian rupa tertata, sehingga tidak ada lagi kelas-kelas miskin dan terisolir. Semua sudah merata. Di bidang hukum, kita juga sudah mampu berpegang teguh pada kebenaran dan azas keadilan. Semua pada melek hukum, semua sudah taat hukum. Kriminalitas boleh dikata sudah punah. Kita juga sudah mencapai prestasi 'zero corruption'. Sehingga dalam beberapa tahun belakangan, sudah tidak pernah terdengar lagi ada hukuman mati atas koruptor. Koruptor sudah habis, dan budaya korupsi sudah mampu kita balikken menjadi budaya menyu...

SUAP 7 MILIAR

Cer-peli (cerita pendek sekali) Berita penangkapan Pak Rudi yang gencar diekspose televisi dan koran membuatku ngeri juga. Tiap kali berita itu tayang di televisi, jantungku deg-degan. Berdegup kencang, sampai terkadang membuatku lemas. KPK memang semakin edan dan ngawur. Pejabat-pejabat ditelanjangi dan dibuat malu. Sama sekali tidak menghormati marwah pejabat, batinku. Hmmm, kala u makin banyak pejabat dan penggede yang ditangkap, bagaimana citra negara kita? Siapa sih yang tak kenal kesantunan dan kesederhanaan Bos SKK Migas Pak Rudi Rubiandini? Pejabat dan Penggede lain saja banyak yang terkejut atas peristiwa itu. Aku yang sesama pejabat penting juga terkejut. Tapi keterkejutanku terlebih pada gerak KPK yang mulai sabet sana sabet sini kepada semua pentolan bangsa ini. Dan kini, keterkejutanku ditimpali ketakutanku. "Tulit...." tiba-tiba hp di genggamanku berbunyi. Kubuka SMS: "Pak, jadi merapat? Sebaiknya jam berapa. Sekarang ya Pak? Saya ...

PARTO MANIS

Cer-peli (cerita pendek sekali) Parto duduk termenung di teras rumah mungilnya. Tiada kawan, selain secangkir teh kental pahit. Bukan karena tak punya gula, tapi dia memang menjauhi yang manis-manis supaya kencing manisnya tak semakin menjadi-jadi. Sambil memijat-mijat betisnya sendiri, mata Parto menerawang jauuuhhh ke depan. Badannya yang pating crekot, sakit dan ngilu di sana-sini , tidak lagi mampu mengganggu lamunannya. "Andai badan ini bisa diistirahatkan sebentar dari semua kegiatan, ingin rasanya aku membawanya ke tukang reparasi. Barangkali di dalamnya ada kabel yang putus. Atau ada tulangku yang perlu dilas," desisnya di tengah bayang-bayang bungsunya yang tengah menari-nari. Tak dipungkiri, Parto sepertinya sudah capek dengan dirinya sendiri. Di puncak sakitnya, semua rasa sakit badan dan hati sudah tak terasa sakit lagi. Yang tersisa dan menguatkannya hanya rasa kasih pada istri dan anak-anaknya yang masih kecil. ****

KREDIT MOBIL

Cer-peli (cerita pendek sekali) Belum lagi meletakkan belanjaannya di dapur, Marlina bergegas mendekati suaminya yang sedang menyeterika baju kerja. "Pah.....pah....pah...sebentar to. Berhenti dulu menggosok. Mamah mau ngomong nih, penting Pah. Papah pasti tertarik dan setuju," tanpa jeda Marlina nyerocos berbicara, tangannya meraih lengan suaminya. Sambil merogoh kantong dasternya, mengeluarakn secarik kertas selebaran, Marlina melanjutkan kata-katanya. "Tahu nggak Pah, tadi di pasar ada orang nawarin mobil Pah. Murah loh Pah cicilannya. Cuma dua juta per bulan. Murah khan....gaji Papa masih cukup. Ayolah Pah, biar kita kayak Bu Ria, sebelah itu," bujuknya sambil menggelendot manja di lengan Yanto, suaminya. Tak menjawab, Yanto meraih brosur mobil yang dibawa istrinya. Dibacanya pelan-pelan brosur itu. "Iya ya...," batinnya. Namun belum lagi sempat berpikir ulang, tiba-tiba anaknya membuyarkan konsentrasinya. "Pah...berangkat sekolah ya. Nanti siang...

FEELING MENTARI

Cer-peli (cerita pendek sekali) Usai sowan-sowan ke tetangga, hati Mentari siang ini dipenuhi rasa bahagia yang membuncah. Entah apa yang membuatnya seperti itu, dia pun tak tahu. Mau makan, rasanya sudah kenyang. Mau minum, dahaga pun mendadak lenyap. Perjalanan keliling kampung untuk berhalal bilahal dengan tetangga tak juga membuatnya kecapekan. Iseng dibukanya komputer untuk  bercanda dengan waktu. Dibukanya facebook yang sudah hampir satu minggu dilupakannya. Mendadadk dadanya berdegup. Di kotak pesan diterimanya untaian kata dari Mas Hata. "Selamat ulang tahun. Jaga kesehatan. Slmt berbahagia dan salam untuk keluarga ya." Meski singkat, pesan itu tetap membetot hatinya. Mas Hata yang selama ini selalu disakiti dan ditinggalkannya, tak pernah lupa akan hari istimewanya. Selalu saja mas Hata mengingatnya, mendoakan, dan terkadang menyemangati. Dilihatnya jam pengiriman. Di sana tertulis 00.05. Berarti dinihari pesan itu dikirim, seolah tak mau ada yang mendahului. Hati Me...

BALADA ANTAH BERANTAH

Cer-peli (cerita pendek sekali) Sudah lebih dari sepuluh tahun matahari kehilangan rembulan. Tiap malam, pekat tak berbayang. Semuanya seolah hanya menjadi angan-angan. Akhirnya, malam ini, aku selesai juga menulis satu puisi tentangmu. Butuh dua halaman untuk menguntai serpihan-serpihan hidup yang pernah terlalui.  Tidak sempurna benar, tapi paling tidak beberapa momen pe nting tidak terlewatkan. Aku memang tidak piawai benar dalam hal menulis, tapi paling tidak, talentaku yang secuil ini semoga mampu memberi arti bagimu. Aku, paling tidak, ingin bersekutu dengan kesetiaan untuk selalu siap menghiburmu di kala duka. Menampung segala keluh kesahmu. Memberi harapan, meski terkadang semu. Lalu kita pun saling berbagai rasa. Dan rasa masa lalu kusimpan rapi, serapi aku menyimpan gambar kita bersama, di masa lalu. Cukup serimg aku membukanya di kala rindu menderu. Lalu kita pun saling menyapa dan mendoa, di bulan empat dan dua kalinya. Tak pernah lewat. Karena itu sisa kebersamaan yang...

SYUKUR SUKADI TIADA HENTI

Cer-peli (cerita pendek sekali) Pagi itu, panas belum begitu menyengat. Baru pukul setengah sembilan, tapi peluh Sukadi sudah bercucuran.  Dengan punggung tangannya, berkali-kali dia usap dahinya. Tak juga habis air yang menggenang di kening hitam itu. Lalu disobeknya selembar koran, dua kali diusapnya peluh itu. Lumayan sedikit berkurang. Seulas senyum, yang memperlih atkan jajaran gigi tidak rata, tidak pula putih, sebentar-sebentar menghiasi bibir Sukadi. Mata tua itu berbinar-binar melihat lembaran koran bertebaran di sana-sini memenuhi lapangan Bangun Jiwo. Sebentar dia berhenti menjumputi koran bekas alas sajadah shalat Ied tersebut. Dibukanya kopiah dan baju pemberian tetangganya. Lalu hanya berbalut kaos oblong yang sudah robek di bagian punggung, Sukadi meneruskan kegiatannya. "Ini rejeki nomplok yang datangnya setahun sekali," batin Sukadi senang. Sukadi sehari-harinya bekerja serabutan. Pekerjaan tetapnya menyapu halaman rumah Pak RT. Dia membayangkan, hari ini aka...

KAMPRET BENAR DIRIKU

Cer-peli (cerita pendek sekali) Ti...tut. Hapeku berbunyi, tanda SMS masuk. Singkatan apa itu SMS, aku sendiri sudah lupa. Huruf SMS seolah sudah menjelma jadi kata-kata tersendiri dan punya arti tersendiri, yakni: p e s a n. Bergegas kuraih Nokia lamaku, lalu kupencet tombol pembuka SMS terbaru. Rupanya ibuku kirim pesan. "Le, klo mmg Lebaran ini tak bisa plg lagi tak papa . Jangan dipaksakan. Ibu sehat, hy Bapak saja sudah lima hari ini agak gak enak badan." Aku jelas bukan Bang Thoyib. Tapi, sialan, kenapa aku seolah dikutuk jadi dia. Sudah empat Lebaran ini aku gak pulang mudik. Ada saja alasan dan masalah yang menghambatku untuk menengok orangtuaku. Yang kehabisan tiketlah, yang nunggu pacar karena katanya mau ikut tapi batal lah, ada tugas kantor lah, atau alibi yang lainnya. Pokoknya dibikin sedemikian rupa agar nampak masuk akal. Namun kini, sehabis membaca SMS ibuku, mendadak aku jadi benci pada diriku sendiri. Ternyata aku egois benar. Bapak Ibuku yang penuh pengert...

BERSAHABAT DENGAN SEPI

Cer-peli (cerita pendek sekali) "Hati-hati di jalan ya Wuk. Ingatkan suamimu, kalau ngantuk jangan dipaksakan nyopir. Istirahat dulu," kataku pada Giwuk sambil mencium kepalanya. Giwuk dan suaminya, Tono, menjadi kloter terakhir dari anak-anakku yang hari ini harus kembali kekotanya, setelah mudik beberapa hari untuk menengokku. Hari Minggu ini, mereka harus menempuh perj alanan panjang Kertosono-Bandung, bersama tiga anaknya. Kata Tono, kalau perjalanan tidak macet, besok siang mereka sudah sampai rumah. Mobil Kijang tuanya, sudah untuk ketiga kalinya menjalani tugas berat ini. Tiga anakku yang lain, bersama cucu-cucuku sudah balik duluan. Inel bersama suami dan anak-anaknya, kemarin, sudah terbang ke Batam. Nanok sekeluarga ke Kupang. Bungsuku dan istrinya, subuh tadi ke Surabaya. Lebaran selalu menjadi hari yang bahagia untuk kami. Kumpul, bersendaugurau sambil mengenang masa-masa kecil mereka. Namun sebenarnya harus kuakui, sepeninggal mereka, hatiku sangat tersiksa. Ruma...

SENYUMU PINTU REZEKI KITA

Cer-peli (cerita pendek sekali) Usai sahur, pagi ini, aku dengan istriku hendak bergegas ke terminal bus AKAP. Antar Kota Antar Provinsi. Hati kami rasanya sudah tak sabar. Sambil mempersiapkan segalanya, tak sadar bibir kami senandungkan lagu-lagu lama. Kulirik istriku, tak tahunya dia juga sdg melirikku. Kami lalu sama-sama tersenyum. Bahagia. "Buyung jgn dibangunkan ya. Nanti saja kalau semua sudah beres, langsung kita gendong. Kasihan dia. Masih pulas," kataku pada istriku. Buyung masih 3 tahun. Dua kakaknya yang masih SD, pergi duluan sejak tadi. Mereka sudah libur sekolah sejak minggu lalu. Dua keranjang di sisi kanan-kiri motorku sudah penuh dengan makanan khas daerah. Dengan berkaos oblong yang kutumpuki dua baju lusuh, kubonceng istriku yg memeluk erat Buyung. Istriku menutupi anak bungsunya itu dengan selimut tua yang sudah menguning. Kata berita di koran, hari ini puncak arus mudik. Hari ini akan banyak orang pulang kampung memakai bus AKAP. ...

DOA AYAH, DOA PARTO

Cer-peli (cerita pendek sekali) Bangun tidur, Parto Kelir tidak segera beranjak dari peraduannya. Pikirannya keburu meloncat mendahului badannya, menyisir ruas-ruas kehidupan yang belum dijalaninya. Ada satu mimpi yang mengganggunya. Satu 'kebahagiaan' yg selama ini hanya hadir dalam mimpinya itu. Tak hendak memprotes pada. Tuhannya, Parto Kelir hanya ingin sedikit mempertanyakannya. Atau lebih tepatnya menganalisanya. "Aku tahu, Tuhan maha adil, mengetahui, dan menyanyangi. Tapi kalau benar Dia sayang, kenapa tidak kunjung menjawab doaku ya. Atau minimal memberi petunjuk, sinyal, atau entah apa namanya agar aku tentram, karena ada bocoran sedikit akan jawabannya," batin Parto. Batin Parto, pagi ini, memang lagi bergejolak. Badannya yang tidak sesehat dulu, sering sakit-sakitan, semakin membuatnya galau. Namun demikian Parto  tetap mencoba bertahan. Yang dia tahu hidup memang tak mudah. Yang dia tahu hidup memang harus berjuang. Segala keindahan dan kenikmat...