Langsung ke konten utama

DOA AYAH, DOA PARTO

Cer-peli (cerita pendek sekali)


Bangun tidur, Parto Kelir tidak segera beranjak dari peraduannya. Pikirannya keburu meloncat mendahului badannya, menyisir ruas-ruas kehidupan yang belum dijalaninya.

Ada satu mimpi yang mengganggunya. Satu 'kebahagiaan' yg selama ini hanya hadir dalam mimpinya itu.

Tak hendak memprotes pada. Tuhannya, Parto Kelir hanya ingin sedikit mempertanyakannya. Atau lebih tepatnya menganalisanya.

"Aku tahu, Tuhan maha adil, mengetahui, dan menyanyangi. Tapi kalau benar Dia sayang, kenapa tidak kunjung menjawab doaku ya. Atau minimal memberi petunjuk, sinyal, atau entah apa namanya agar aku tentram, karena ada bocoran sedikit akan jawabannya," batin Parto.

Batin Parto, pagi ini, memang lagi bergejolak. Badannya yang tidak sesehat dulu, sering sakit-sakitan, semakin membuatnya galau.

Namun demikian Parto  tetap mencoba bertahan. Yang dia tahu hidup memang tak mudah. Yang dia tahu hidup memang harus berjuang. Segala keindahan dan kenikmatan harus diciptakan sendiri di hati. Dengan demikian baru bisa merasakan indahnya hidup.

Dilihatnya jam, masih pukul 4. Terlalu pagi untuk memulai aktivitas yang lain. Parto kembali berbicara dalam batinnya.

"Ya....Tuhanku, aku tak meminta kemudahan dalam hidupku. Tapi tolonglah aku ajari untuk paham akan proses hidup. Tolong ajari dan bimbing aku untuk tak mudah mengeluh, kuat menjalani semuanya."

"Aku yakin, perjalanan sisa hidupku ini tidaklah seberat perjalanan yang sudah kulalui. Dan sungguh, aku senang Engkau mempercayaiku untuk memberi penghiburan pada orang lain, di saat dimana diriku sebenarnya juga butuh hiburan itu," kata Parto seolah berbicara langsung pada Tuhannya.

Tiba-tiba Parto mengaduh. Tulang-tulang dan giginya mendadak ngilu. Badannya gemetaran.

Sedetik kemudian dia tersenyum. Dia bersyukur masih diijinkan merasakan sakit. Di tengoknya bungsungnya yang pulas di sisinya. Lalu diciumnya keningnya. "Semoga Ayah diberi umur panjang ya nak. Ayah ingin menjagamu hingga tua," bisiknya. ****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...