Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2012

SURAT PAPAKU UNTUK EFRAIM

Cerita Jemima: Efraim………air mata ini selalu saja ingin menetes tatkala menatapmu, menelusuri setiap lekuk tubuh dan melihat senyummu yang selalu terkembang tatkala sua. Kedekatan dan kesetiaanmu padanya, membuatku terharu. Kebaikanmu begitu membekas di hati kami. Efraim………selalu saja aku terharu dan menangis dalam hati setiap menatapmu. Sosokmu begitu lekat dan membuat jalinan kenangan memuncak. Kau mengobati sekaligus menebalkan rasa rindu ini. Efraim……..kalau kau tahu, seringkali aku hampir terlupa kalau kau bukan siapa-siapa. Mendadak, kerap aku ingin memelukmu, menciummu dan mendongengkan cerita. Tatapan matamu polos, sepolos sorot mata kelinci. Setiap sorot mata ketemu sorot mata, bibirmu menyunggingkan senyum. Persis senyum yang kuimpikan. Efraim, terimakasih kami yang tulus buatmu….

COUNT DOWN SAERY UNTUK TINAH

Cer-PELI (Cerita Pendek Sekali) “Ry…..terimakasih, kamu selalu mengenangku. Mengingatku di saat-saat seperti itu. Selalu kamu menyempatkan menyapaku, menegurku, memberikan perhatian istimewa di tanggal istimewa itu. Tak kenal putus asa dan tak kenal lelah kamu mencari cara untuk mengontakku.” “Kini dengan cara yang istimewa, engkau memberikan usulan yang istimewa pula untuk menggelar acara istimewa di tanggal yang menurutmu istimewa hingga kamu mati nanti itu. Aku terharu dihimpit rasa bangga dan senang.” “Aku ikut dengan usulanmu Ry…” Saery berulangkali membaca surat biru muda itu. Baru kemarin dia menerima surat yang di bawahnya tertera dengan jelas nama Partinah sebagai pengirim surat. Partinah bukanlah orang asing bagi Saery. Bahkan barangkali,seperti disebut-sebut berulangkali di surat itu, Partinah adalah yang teristimewa, disamping sosok-sosok istimewa lainya. Dipandanginya surat itu sekali lagi. Lalu didekapnya di dada sebelum akhirnya dicium lekat-lekat dan lama. Saery menyesa...

PARDI OBATI SAJA DULU BATUKMU ITU

Cer-PELI (Cerita Pendek Sekali) Dari hari ke hari, rasa bahagia di hati Bertha makin membuncah-buncah. Tidak sampai tiga minggu lagi, sebuah perjalanan yang amat sangat menyenangkan akan ditempuhnya. Sebenarnya bukanlah perjalanan baru yang akan dilaluinya. Sudah berkali-kali dia menyongsongnya, tapi yang kali ini memang rasanya lain. Dia sendiri mengaku, sampai-sampai tidak mampu menggambarkan rasa sukacitanya itu. Bahkan dia tidak bisa merinci apa saja sih yang membuatnya sangat bergairah, exciting, dalam perjalanan kali ini ? “Apa ya yang membuatku sedemikian semangat dan senang? Ketemu orang-orang yang kurindu dan kucintai? Itu sudah pasti. Tapi…….tapi ada hal lain yang masih misteri yang membuatku makin bergairah dan hidup,” batin Bertha. Belum lagi Bertha bisa berkompromi dengan pikirannya untuk menemukan jawaban yang tepat, hp-nya berdering. Dilihatnya sebuah nomor yang sangat dikenal. “Aduuhh Pardi, berkali-kali aku khan sudah bilang nggak akan sempat nengok lama-lama. Itu pun ...

SAJAK MENJEMPUT PAGI

setengahluka, setengahduka, setengahlara, setengahgalau, setengahrisau, setengahamarah, setengahmati aku menyimpannya dalam hati, hanya tuk sembunyikannya dari padaMu tapi percuma sia-sia, Kau tetap merasakannya, karna Kau pemilik hidup sejati maka lebih baik aku terbuka danberserah saja, menurut apa mauMu