Langsung ke konten utama

COUNT DOWN SAERY UNTUK TINAH

Cer-PELI (Cerita Pendek Sekali)

“Ry…..terimakasih, kamu selalu mengenangku. Mengingatku di saat-saat seperti itu. Selalu kamu menyempatkan menyapaku, menegurku, memberikan perhatian istimewa di tanggal istimewa itu. Tak kenal putus asa dan tak kenal lelah kamu mencari cara untuk mengontakku.”

“Kini dengan cara yang istimewa, engkau memberikan usulan yang istimewa pula untuk menggelar acara istimewa di tanggal yang menurutmu istimewa hingga kamu mati nanti itu. Aku terharu dihimpit rasa bangga dan senang.”

“Aku ikut dengan usulanmu Ry…”

Saery berulangkali membaca surat biru muda itu. Baru kemarin dia menerima surat yang di bawahnya tertera dengan jelas nama Partinah sebagai pengirim surat.

Partinah bukanlah orang asing bagi Saery. Bahkan barangkali,seperti disebut-sebut berulangkali di surat itu, Partinah adalah yang teristimewa, disamping sosok-sosok istimewa lainya.

Dipandanginya surat itu sekali lagi. Lalu didekapnya di dada sebelum akhirnya dicium lekat-lekat dan lama.

Saery menyesal telah menorehkan cerita berujung duka dan perpisahan.Kini dia menangis dan digubal rasa rindu akan cinta lama. Ingin dia mengorbankan hidupnya, memusatkan seluruh perhatiannya hanya untuk Partinah.

Meski terkesan sepele dan biasa, dia ingin memulainya dengan cara yang sederhana. Tidak akan pernah melupakan tanggal istimewa itu. Bahkan jika perlu, setiap hari dia akan mengabarkan pada Partinah bahwa akan membuat acara istimewa di tanggal istimewa itu.

Saery bertekad akan kirim kabar lewat SMS maupun surat, maupun FB yang lagi ngetrend, saat ini. Dia akan membuat hitungan mundur (count down) untuk tanggal istimewa itu pada Partinah. Dia ingin menunjukkan bahwa dirinya tak pernah sedetikpun melupakan Partinah.

“Semoga Partinah tahu akan maksudku. Aku tak bosan menunggu. Tinah….rasakan getar hatiku ya say……” sebut Saery dalam hati.

Lalu….bagaimana denganmu Tinah? ****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...