Cer-PELI (Cerita Pendek Sekali)
“Ry…..terimakasih, kamu selalu mengenangku. Mengingatku di saat-saat seperti itu. Selalu kamu menyempatkan menyapaku, menegurku, memberikan perhatian istimewa di tanggal istimewa itu. Tak kenal putus asa dan tak kenal lelah kamu mencari cara untuk mengontakku.”
“Kini dengan cara yang istimewa, engkau memberikan usulan yang istimewa pula untuk menggelar acara istimewa di tanggal yang menurutmu istimewa hingga kamu mati nanti itu. Aku terharu dihimpit rasa bangga dan senang.”
“Aku ikut dengan usulanmu Ry…”
Saery berulangkali membaca surat biru muda itu. Baru kemarin dia menerima surat yang di bawahnya tertera dengan jelas nama Partinah sebagai pengirim surat.
Partinah bukanlah orang asing bagi Saery. Bahkan barangkali,seperti disebut-sebut berulangkali di surat itu, Partinah adalah yang teristimewa, disamping sosok-sosok istimewa lainya.
Dipandanginya surat itu sekali lagi. Lalu didekapnya di dada sebelum akhirnya dicium lekat-lekat dan lama.
Saery menyesal telah menorehkan cerita berujung duka dan perpisahan.Kini dia menangis dan digubal rasa rindu akan cinta lama. Ingin dia mengorbankan hidupnya, memusatkan seluruh perhatiannya hanya untuk Partinah.
Meski terkesan sepele dan biasa, dia ingin memulainya dengan cara yang sederhana. Tidak akan pernah melupakan tanggal istimewa itu. Bahkan jika perlu, setiap hari dia akan mengabarkan pada Partinah bahwa akan membuat acara istimewa di tanggal istimewa itu.
Saery bertekad akan kirim kabar lewat SMS maupun surat, maupun FB yang lagi ngetrend, saat ini. Dia akan membuat hitungan mundur (count down) untuk tanggal istimewa itu pada Partinah. Dia ingin menunjukkan bahwa dirinya tak pernah sedetikpun melupakan Partinah.
“Semoga Partinah tahu akan maksudku. Aku tak bosan menunggu. Tinah….rasakan getar hatiku ya say……” sebut Saery dalam hati.
Lalu….bagaimana denganmu Tinah? ****
“Ry…..terimakasih, kamu selalu mengenangku. Mengingatku di saat-saat seperti itu. Selalu kamu menyempatkan menyapaku, menegurku, memberikan perhatian istimewa di tanggal istimewa itu. Tak kenal putus asa dan tak kenal lelah kamu mencari cara untuk mengontakku.”
“Kini dengan cara yang istimewa, engkau memberikan usulan yang istimewa pula untuk menggelar acara istimewa di tanggal yang menurutmu istimewa hingga kamu mati nanti itu. Aku terharu dihimpit rasa bangga dan senang.”
“Aku ikut dengan usulanmu Ry…”
Saery berulangkali membaca surat biru muda itu. Baru kemarin dia menerima surat yang di bawahnya tertera dengan jelas nama Partinah sebagai pengirim surat.
Partinah bukanlah orang asing bagi Saery. Bahkan barangkali,seperti disebut-sebut berulangkali di surat itu, Partinah adalah yang teristimewa, disamping sosok-sosok istimewa lainya.
Dipandanginya surat itu sekali lagi. Lalu didekapnya di dada sebelum akhirnya dicium lekat-lekat dan lama.
Saery menyesal telah menorehkan cerita berujung duka dan perpisahan.Kini dia menangis dan digubal rasa rindu akan cinta lama. Ingin dia mengorbankan hidupnya, memusatkan seluruh perhatiannya hanya untuk Partinah.
Meski terkesan sepele dan biasa, dia ingin memulainya dengan cara yang sederhana. Tidak akan pernah melupakan tanggal istimewa itu. Bahkan jika perlu, setiap hari dia akan mengabarkan pada Partinah bahwa akan membuat acara istimewa di tanggal istimewa itu.
Saery bertekad akan kirim kabar lewat SMS maupun surat, maupun FB yang lagi ngetrend, saat ini. Dia akan membuat hitungan mundur (count down) untuk tanggal istimewa itu pada Partinah. Dia ingin menunjukkan bahwa dirinya tak pernah sedetikpun melupakan Partinah.
“Semoga Partinah tahu akan maksudku. Aku tak bosan menunggu. Tinah….rasakan getar hatiku ya say……” sebut Saery dalam hati.
Lalu….bagaimana denganmu Tinah? ****
Komentar