Langsung ke konten utama

PARDI OBATI SAJA DULU BATUKMU ITU

Cer-PELI (Cerita Pendek Sekali)

Dari hari ke hari, rasa bahagia di hati Bertha makin membuncah-buncah. Tidak sampai tiga minggu lagi, sebuah perjalanan yang amat sangat menyenangkan akan ditempuhnya.

Sebenarnya bukanlah perjalanan baru yang akan dilaluinya. Sudah berkali-kali dia menyongsongnya, tapi yang kali ini memang rasanya lain.

Dia sendiri mengaku, sampai-sampai tidak mampu menggambarkan rasa sukacitanya itu. Bahkan dia tidak bisa merinci apa saja sih yang membuatnya sangat bergairah, exciting, dalam perjalanan kali ini ?

“Apa ya yang membuatku sedemikian semangat dan senang? Ketemu orang-orang yang kurindu dan kucintai? Itu sudah pasti. Tapi…….tapi ada hal lain yang masih misteri yang membuatku makin bergairah dan hidup,” batin Bertha.

Belum lagi Bertha bisa berkompromi dengan pikirannya untuk menemukan jawaban yang tepat, hp-nya berdering. Dilihatnya sebuah nomor yang sangat dikenal.

“Aduuhh Pardi, berkali-kali aku khan sudah bilang nggak akan sempat nengok lama-lama. Itu pun kalau jalurnya nggak kebetulan nglewati, aku mungkin malah gak mampir. My closed friends want to meet me, Di,” kata Bertha buru-buru memencet tombol off.

Pardi belum sempat berucap apa-apa, dia hanya bisa menelan ludah saja. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kata ‘Halo’ pun, belum sempat disiapkannya, ketika cucuran kata-kata adik kandungnya itu meluncur deras.

Padahal tadi Pardi sempat senang, ketika telponnya tersambung ke adik tersayang itu. Biasanya, dia harus puas mendengar suara tulalit-tulalit di ujung sana, meski sudah lima kali berupaya menyambung telepon.

Bertha sendiri, seusai menutup telponnya tak sadar menyunggingkan senyum. Mendadak kata-kata closed friends yang tiba-tiba terlontar saat telepon tadi membuatnya ingat akan sesuatu. Iya…kata-kata itu telah menuntunnya pada kesadaran bahwa ada someone yang very closed-lah yang membuatnya amat bergairah pulang kali ini.

Someone yang diakuinya sering memberi penghiburan yang benar-benar menghibur. Munculnya pun bagai malaikat, tepat pada saat-saat yang dibutuhkan. Tidak seperti Pardi yang kemunculannya serasa hanya untuk merecoki saja.

Sementara adiknya menemukan jawaban, Pardi juga menemukan realita bahwa adiknya banyak berubah. Dulu mereka sangat dekat. Segala keluh kesah tentang kehidupan selalu jadi bahan diskusi bersama.

Kini, kata-kata closed friends menyadarkan Pardi bahwa ada yang lebih penting dan utama dibanding saudara, di hati adiknya, saat ini.

Pardi tidak protes. Dia hanya bisa merenungi nasibnya sambil mengusap-usap kakinya yang makin kurus dan kering. Sesekali dipijitnya dadanya yang nyeri. “Uhuk…uhuk,” suara batuknya menyeruak tak tertahan. ****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...