Cerita Jemima:
Efraim………air mata ini selalu saja ingin menetes tatkala menatapmu, menelusuri setiap lekuk tubuh dan melihat senyummu yang selalu terkembang tatkala sua.
Kedekatan dan kesetiaanmu padanya, membuatku terharu. Kebaikanmu begitu membekas di hati kami.
Efraim………selalu saja aku terharu dan menangis dalam hati setiap menatapmu. Sosokmu begitu lekat dan membuat jalinan kenangan memuncak. Kau mengobati sekaligus menebalkan rasa rindu ini.
Efraim……..kalau kau tahu, seringkali aku hampir terlupa kalau kau bukan siapa-siapa. Mendadak, kerap aku ingin memelukmu, menciummu dan mendongengkan cerita.
Tatapan matamu polos, sepolos sorot mata kelinci. Setiap sorot mata ketemu sorot mata, bibirmu menyunggingkan senyum. Persis senyum yang kuimpikan.
Efraim, terimakasih kami yang tulus buatmu….
Efraim………air mata ini selalu saja ingin menetes tatkala menatapmu, menelusuri setiap lekuk tubuh dan melihat senyummu yang selalu terkembang tatkala sua.
Kedekatan dan kesetiaanmu padanya, membuatku terharu. Kebaikanmu begitu membekas di hati kami.
Efraim………selalu saja aku terharu dan menangis dalam hati setiap menatapmu. Sosokmu begitu lekat dan membuat jalinan kenangan memuncak. Kau mengobati sekaligus menebalkan rasa rindu ini.
Efraim……..kalau kau tahu, seringkali aku hampir terlupa kalau kau bukan siapa-siapa. Mendadak, kerap aku ingin memelukmu, menciummu dan mendongengkan cerita.
Tatapan matamu polos, sepolos sorot mata kelinci. Setiap sorot mata ketemu sorot mata, bibirmu menyunggingkan senyum. Persis senyum yang kuimpikan.
Efraim, terimakasih kami yang tulus buatmu….
Komentar