Cer-peli (cerita pendek sekali)
Belum lagi meletakkan belanjaannya di dapur, Marlina bergegas mendekati suaminya yang sedang menyeterika baju kerja.
"Pah.....pah....pah...sebentar to. Berhenti dulu menggosok. Mamah mau ngomong nih, penting Pah. Papah pasti tertarik dan setuju," tanpa jeda Marlina nyerocos berbicara, tangannya meraih lengan suaminya.
Sambil merogoh kantong dasternya, mengeluarakn secarik kertas selebaran, Marlina melanjutkan kata-katanya.
"Tahu nggak Pah, tadi di pasar ada orang nawarin mobil Pah. Murah loh Pah cicilannya. Cuma dua juta per bulan. Murah khan....gaji Papa masih cukup. Ayolah Pah, biar kita kayak Bu Ria, sebelah itu," bujuknya sambil menggelendot manja di lengan Yanto, suaminya.
Tak menjawab, Yanto meraih brosur mobil yang dibawa istrinya. Dibacanya pelan-pelan brosur itu. "Iya ya...," batinnya.
Namun belum lagi sempat berpikir ulang, tiba-tiba anaknya membuyarkan konsentrasinya. "Pah...berangkat sekolah ya. Nanti siang Papah jadi nggak nyuruh Adi ke bank bayar bulanan rumah dan motor," kata Sulungnya yang sudah SMA kelas satu.
Bayar cicilan rumah satu juta seratus, motor tujuh ratus. Total sejuta delapan ratus. Ditambah biaya bulanan yang lain, uang Yanto biasanya tersisa rata-rata sembilan ratus, atau katakanlah sejuta.
"Mah......ntar yang sejuta lagi kalau kita mau nyicil mobil darimana ya? Ehh....lagian tuh coba liat. Ternyata ada dp-nya mah. Tiga puluh persen lagi," ujar Yanto sambil garuk2 kepala.
Lalu diajukannya usulan pada Marlina. "Gimana mah kalau kredit mobilnya sepuluh tahun lagi nunggu rumah lunas? Sembari itu, kita nabung buat uang mukanya. Setuju nggak mamah?"
Marlina tidak segera menyahut. Lama dia terdiam. Hingga akhirnya...."Iya deh pah, gapapa. Tapi semoga sepuluh tahun lagi, cicilan dan harga mobilnya tetap ya Pah!?" ujar Marlina lemas. ****
Belum lagi meletakkan belanjaannya di dapur, Marlina bergegas mendekati suaminya yang sedang menyeterika baju kerja.
"Pah.....pah....pah...sebentar to. Berhenti dulu menggosok. Mamah mau ngomong nih, penting Pah. Papah pasti tertarik dan setuju," tanpa jeda Marlina nyerocos berbicara, tangannya meraih lengan suaminya.
Sambil merogoh kantong dasternya, mengeluarakn secarik kertas selebaran, Marlina melanjutkan kata-katanya.
"Tahu nggak Pah, tadi di pasar ada orang nawarin mobil Pah. Murah loh Pah cicilannya. Cuma dua juta per bulan. Murah khan....gaji Papa masih cukup. Ayolah Pah, biar kita kayak Bu Ria, sebelah itu," bujuknya sambil menggelendot manja di lengan Yanto, suaminya.
Tak menjawab, Yanto meraih brosur mobil yang dibawa istrinya. Dibacanya pelan-pelan brosur itu. "Iya ya...," batinnya.
Namun belum lagi sempat berpikir ulang, tiba-tiba anaknya membuyarkan konsentrasinya. "Pah...berangkat sekolah ya. Nanti siang Papah jadi nggak nyuruh Adi ke bank bayar bulanan rumah dan motor," kata Sulungnya yang sudah SMA kelas satu.
Bayar cicilan rumah satu juta seratus, motor tujuh ratus. Total sejuta delapan ratus. Ditambah biaya bulanan yang lain, uang Yanto biasanya tersisa rata-rata sembilan ratus, atau katakanlah sejuta.
"Mah......ntar yang sejuta lagi kalau kita mau nyicil mobil darimana ya? Ehh....lagian tuh coba liat. Ternyata ada dp-nya mah. Tiga puluh persen lagi," ujar Yanto sambil garuk2 kepala.
Lalu diajukannya usulan pada Marlina. "Gimana mah kalau kredit mobilnya sepuluh tahun lagi nunggu rumah lunas? Sembari itu, kita nabung buat uang mukanya. Setuju nggak mamah?"
Marlina tidak segera menyahut. Lama dia terdiam. Hingga akhirnya...."Iya deh pah, gapapa. Tapi semoga sepuluh tahun lagi, cicilan dan harga mobilnya tetap ya Pah!?" ujar Marlina lemas. ****
Komentar