Langsung ke konten utama

JANGAN PILIH MEREKA

Cer-peli (cerita pendek sekali)


Dadaku berdarah. Sakit. Tangan-tanganku terkelupas, perih. Bahuku juga terluka. Banyak paku dan kawat menancap di sana-sini.

Sakitnya makin menjadi-jadi, manakala angin berhembus, menggoyang-goyangkan pamflet dan spanduk yang terpaku di sana.

Kulihat teman-temanku juga meringis. Menahan sakit seperti diriku. Ini memang wabah empat tahunan yang selalu menyerang kami.

Sebenarnya sudah pernah, teman-teman manusia membelaku. Namun kelompok manusia yang lain, seolah-olah tuli dan buta. Tak mau melihat dan mendengar keluhan kami.

Kami hanya bisa membayangkan, kalau semasa kampanye saja, mereka tega menyakiti kami, bagaimana nantinya kalau mereka benar-benar sudah menjadi kepala daerah, pejabat, ataupun politisi serta tokoh penting lainnya?

Barangkali mereka tidak hanya memakukan gambar mereka di pohon-pohon seperti yang kami alami kini. Mungkin saja, mereka nanti akan makin menggila, berlomba menebangi kami. Semau mereka, dengan alasan demi pembangunan. Padahal, bisa saja mereka sebenarnya menjual kami. Mencuri kami dari bumi pertiwi ini demi keuntungan pribadi mereka.

Ahhhh, seandainya kami bisa berbicara, ingin rasanya kami mengajak para manusia berdemo bersama-sama. Jangan memilih mereka-mereka yang memakukan gambar mereka pada tubuh kami. Untuk urusan hal yang kecil dan sepele itu saja mereka 'bloon'. Apalagi nanti untuk urusan yang besar.

Dengan bantuan hembusan angin yang kencang, aku coba kibas-kibaskan lengan, kaki, kepalaku. Sambil menahan sakit yang luar biasa, aku terus mencoba melepaskan benda-benda yang tertancap di badanku.

Tapi sia-sia saja, foto-foto jelek itu tetap menempel. Sialan! ****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...