Cer-peli (cerita pendek sekali)
Sudah lebih dari sepuluh tahun matahari kehilangan rembulan. Tiap malam, pekat tak berbayang. Semuanya seolah hanya menjadi angan-angan.
Akhirnya, malam ini, aku selesai juga menulis satu puisi tentangmu. Butuh dua halaman untuk menguntai serpihan-serpihan hidup yang pernah terlalui.
Tidak sempurna benar, tapi paling tidak beberapa momen penting tidak terlewatkan. Aku memang tidak piawai benar dalam hal menulis, tapi paling tidak, talentaku yang secuil ini semoga mampu memberi arti bagimu.
Aku, paling tidak, ingin bersekutu dengan kesetiaan untuk selalu siap menghiburmu di kala duka. Menampung segala keluh kesahmu. Memberi harapan, meski terkadang semu.
Lalu kita pun saling berbagai rasa. Dan rasa masa lalu kusimpan rapi, serapi aku menyimpan gambar kita bersama, di masa lalu. Cukup serimg aku membukanya di kala rindu menderu.
Lalu kita pun saling menyapa dan mendoa, di bulan empat dan dua kalinya. Tak pernah lewat. Karena itu sisa kebersamaan yang kita miliki.
Dan akhirnya aku berseru. Akulah langit dan engkau bumi. Akulah api dan engkau air. Akulah besi dan engkau kayu. Akulah malam dan engkau siang.
Terimakasih hidup, dengan caramu yang luar biasa, engkau telah mengajariku menjadi dewasa. ****
Sudah lebih dari sepuluh tahun matahari kehilangan rembulan. Tiap malam, pekat tak berbayang. Semuanya seolah hanya menjadi angan-angan.
Akhirnya, malam ini, aku selesai juga menulis satu puisi tentangmu. Butuh dua halaman untuk menguntai serpihan-serpihan hidup yang pernah terlalui.
Tidak sempurna benar, tapi paling tidak beberapa momen penting tidak terlewatkan. Aku memang tidak piawai benar dalam hal menulis, tapi paling tidak, talentaku yang secuil ini semoga mampu memberi arti bagimu.
Aku, paling tidak, ingin bersekutu dengan kesetiaan untuk selalu siap menghiburmu di kala duka. Menampung segala keluh kesahmu. Memberi harapan, meski terkadang semu.
Lalu kita pun saling berbagai rasa. Dan rasa masa lalu kusimpan rapi, serapi aku menyimpan gambar kita bersama, di masa lalu. Cukup serimg aku membukanya di kala rindu menderu.
Lalu kita pun saling menyapa dan mendoa, di bulan empat dan dua kalinya. Tak pernah lewat. Karena itu sisa kebersamaan yang kita miliki.
Dan akhirnya aku berseru. Akulah langit dan engkau bumi. Akulah api dan engkau air. Akulah besi dan engkau kayu. Akulah malam dan engkau siang.
Terimakasih hidup, dengan caramu yang luar biasa, engkau telah mengajariku menjadi dewasa. ****
Komentar