Cer-peli (cerita pendek sekali)
Pagi itu, panas belum begitu menyengat. Baru pukul setengah sembilan, tapi peluh Sukadi sudah bercucuran.
Dengan punggung tangannya, berkali-kali dia usap dahinya. Tak juga habis air yang menggenang di kening hitam itu. Lalu disobeknya selembar koran, dua kali diusapnya peluh itu. Lumayan sedikit berkurang.
Seulas senyum, yang memperlihatkan jajaran gigi tidak rata, tidak pula putih, sebentar-sebentar menghiasi bibir Sukadi.
Mata tua itu berbinar-binar melihat lembaran koran bertebaran di sana-sini memenuhi lapangan Bangun Jiwo.
Sebentar dia berhenti menjumputi koran bekas alas sajadah shalat Ied tersebut. Dibukanya kopiah dan baju pemberian tetangganya. Lalu hanya berbalut kaos oblong yang sudah robek di bagian punggung, Sukadi meneruskan kegiatannya.
"Ini rejeki nomplok yang datangnya setahun sekali," batin Sukadi senang. Sukadi sehari-harinya bekerja serabutan. Pekerjaan tetapnya menyapu halaman rumah Pak RT.
Dia membayangkan, hari ini akan bisa mengantongi uang tak kurang dari 20 ribu. Lumayan, itu THR yang cukup besar baginya.
"Mak kita akhirnya bisa beli tepung dan sayuran untuk bikin bakwan. Sisanya beli gula dan teh ya. Hmm.....jadinya ada kue Lebaran di rumah. Emak dan anak-anak pasti senang," kata Sukadi dalam hati. Lagi-lagi senyumnya mengembang lebar di bibirnya.
Lelaki kurus itu tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Masih saja ada sisa rejeki yang diperuntukkan baginya.
"Terimakasih ya Allah, Engkau selalu saja menyimpan rejeki untukku. Dan Engkau memberikannya di saat-saat yang tepat. Aku bahagia sekali ya Allah......."
Tak terasa di sudut mata tua itu menggenang air mata. ****
Pagi itu, panas belum begitu menyengat. Baru pukul setengah sembilan, tapi peluh Sukadi sudah bercucuran.
Dengan punggung tangannya, berkali-kali dia usap dahinya. Tak juga habis air yang menggenang di kening hitam itu. Lalu disobeknya selembar koran, dua kali diusapnya peluh itu. Lumayan sedikit berkurang.
Seulas senyum, yang memperlihatkan jajaran gigi tidak rata, tidak pula putih, sebentar-sebentar menghiasi bibir Sukadi.
Mata tua itu berbinar-binar melihat lembaran koran bertebaran di sana-sini memenuhi lapangan Bangun Jiwo.
Sebentar dia berhenti menjumputi koran bekas alas sajadah shalat Ied tersebut. Dibukanya kopiah dan baju pemberian tetangganya. Lalu hanya berbalut kaos oblong yang sudah robek di bagian punggung, Sukadi meneruskan kegiatannya.
"Ini rejeki nomplok yang datangnya setahun sekali," batin Sukadi senang. Sukadi sehari-harinya bekerja serabutan. Pekerjaan tetapnya menyapu halaman rumah Pak RT.
Dia membayangkan, hari ini akan bisa mengantongi uang tak kurang dari 20 ribu. Lumayan, itu THR yang cukup besar baginya.
"Mak kita akhirnya bisa beli tepung dan sayuran untuk bikin bakwan. Sisanya beli gula dan teh ya. Hmm.....jadinya ada kue Lebaran di rumah. Emak dan anak-anak pasti senang," kata Sukadi dalam hati. Lagi-lagi senyumnya mengembang lebar di bibirnya.
Lelaki kurus itu tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Masih saja ada sisa rejeki yang diperuntukkan baginya.
"Terimakasih ya Allah, Engkau selalu saja menyimpan rejeki untukku. Dan Engkau memberikannya di saat-saat yang tepat. Aku bahagia sekali ya Allah......."
Tak terasa di sudut mata tua itu menggenang air mata. ****
Komentar