Cer-peli (cerita pendek sekali)
Parto duduk termenung di teras rumah mungilnya. Tiada kawan, selain secangkir teh kental pahit. Bukan karena tak punya gula, tapi dia memang menjauhi yang manis-manis supaya kencing manisnya tak semakin menjadi-jadi.
Sambil memijat-mijat betisnya sendiri, mata Parto menerawang jauuuhhh ke depan. Badannya yang pating crekot, sakit dan ngilu di sana-sini, tidak lagi mampu mengganggu lamunannya.
"Andai badan ini bisa diistirahatkan sebentar dari semua kegiatan, ingin rasanya aku membawanya ke tukang reparasi. Barangkali di dalamnya ada kabel yang putus. Atau ada tulangku yang perlu dilas," desisnya di tengah bayang-bayang bungsunya yang tengah menari-nari.
Tak dipungkiri, Parto sepertinya sudah capek dengan dirinya sendiri. Di puncak sakitnya, semua rasa sakit badan dan hati sudah tak terasa sakit lagi. Yang tersisa dan menguatkannya hanya rasa kasih pada istri dan anak-anaknya yang masih kecil. ****
Parto duduk termenung di teras rumah mungilnya. Tiada kawan, selain secangkir teh kental pahit. Bukan karena tak punya gula, tapi dia memang menjauhi yang manis-manis supaya kencing manisnya tak semakin menjadi-jadi.
Sambil memijat-mijat betisnya sendiri, mata Parto menerawang jauuuhhh ke depan. Badannya yang pating crekot, sakit dan ngilu di sana-sini, tidak lagi mampu mengganggu lamunannya.
"Andai badan ini bisa diistirahatkan sebentar dari semua kegiatan, ingin rasanya aku membawanya ke tukang reparasi. Barangkali di dalamnya ada kabel yang putus. Atau ada tulangku yang perlu dilas," desisnya di tengah bayang-bayang bungsunya yang tengah menari-nari.
Tak dipungkiri, Parto sepertinya sudah capek dengan dirinya sendiri. Di puncak sakitnya, semua rasa sakit badan dan hati sudah tak terasa sakit lagi. Yang tersisa dan menguatkannya hanya rasa kasih pada istri dan anak-anaknya yang masih kecil. ****
Komentar