Langsung ke konten utama

FEELING MENTARI

Cer-peli (cerita pendek sekali)


Usai sowan-sowan ke tetangga, hati Mentari siang ini dipenuhi rasa bahagia yang membuncah. Entah apa yang membuatnya seperti itu, dia pun tak tahu.

Mau makan, rasanya sudah kenyang. Mau minum, dahaga pun mendadak lenyap. Perjalanan keliling kampung untuk berhalal bilahal dengan tetangga tak juga membuatnya kecapekan.

Iseng dibukanya komputer untuk bercanda dengan waktu. Dibukanya facebook yang sudah hampir satu minggu dilupakannya.

Mendadadk dadanya berdegup. Di kotak pesan diterimanya untaian kata dari Mas Hata. "Selamat ulang tahun. Jaga kesehatan. Slmt berbahagia dan salam untuk keluarga ya."

Meski singkat, pesan itu tetap membetot hatinya. Mas Hata yang selama ini selalu disakiti dan ditinggalkannya, tak pernah lupa akan hari istimewanya.

Selalu saja mas Hata mengingatnya, mendoakan, dan terkadang menyemangati. Dilihatnya jam pengiriman. Di sana tertulis 00.05. Berarti dinihari pesan itu dikirim, seolah tak mau ada yang mendahului. Hati Mentari berdelu haru.

Mentari makin kelu. Tak mampu berkata-kata. Inikah sumber bahagiaku yang kurasa sejak tadi, batinnya.

Tak mau kehilangan waktu, segera dibalasnya pesan itu "You too mas. Jaga kesehatan juga ya," ditimang-timangnya kalimat itu. Rasanya sudah cukup. Sudah mewakili semua perhatiannya.

Namun sebelum mengirimnya, Mentari menambah sedikit kalimat permintaan maaf. "Mumpung hari Idul Fitri juga, maafkan Tari ya. Tari dulu banyak salah."

Usai pesan terkirim, lamunan Mentari menyusuri masa lalunya. Bukan hendak menyesali, tapi mencoba mencari pembenar bahwa feelingnya ternyata masih kuat. Deru bahagianya sedari pagi ternyata bukan tanpa alasan. Lalu, mungkinkah rasa itu masih ada? ****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...