Langsung ke konten utama

BERSAHABAT DENGAN SEPI

Cer-peli (cerita pendek sekali)


"Hati-hati di jalan ya Wuk. Ingatkan suamimu, kalau ngantuk jangan dipaksakan nyopir. Istirahat dulu," kataku pada Giwuk sambil mencium kepalanya.

Giwuk dan suaminya, Tono, menjadi kloter terakhir dari anak-anakku yang hari ini harus kembali kekotanya, setelah mudik beberapa hari untuk menengokku.

Hari Minggu ini, mereka harus menempuh perjalanan panjang Kertosono-Bandung, bersama tiga anaknya. Kata Tono, kalau perjalanan tidak macet, besok siang mereka sudah sampai rumah. Mobil Kijang tuanya, sudah untuk ketiga kalinya menjalani tugas berat ini.

Tiga anakku yang lain, bersama cucu-cucuku sudah balik duluan. Inel bersama suami dan anak-anaknya, kemarin, sudah terbang ke Batam. Nanok sekeluarga ke Kupang. Bungsuku dan istrinya, subuh tadi ke Surabaya.

Lebaran selalu menjadi hari yang bahagia untuk kami. Kumpul, bersendaugurau sambil mengenang masa-masa kecil mereka.

Namun sebenarnya harus kuakui, sepeninggal mereka, hatiku sangat tersiksa. Rumah tua yang sejenak beberapa hari, riuh dan hidup, mendadak sepi. Mati.

Dinding-dinding membisu. Warna buramnya seolah mengikuti kesedihanku, kerisauanku, dan kesepianku. Suara cicak yang seolah menghiburku pun, tak mampu mengisi kekosongan hatiku.

Pernah Inel menawariku untuk ikut dia saja. Namun aku tidak tega meninggalkan Bapaknya, sendiri, di rumah terakhirnya.

Sudah 5 tahun ini, Mas Har, pergi meninggalkanku. Badannya yg renta tak kuasa menahan gempuran komplikasi diabet dan ginjal.

Dulu sempat terbersit di pikiranku, keinginan untuk tidak harus kumpul di hari Lebaran. Biarkan Lebaran seperti hari-hari biasa. Kalau mau nengok ya kapan-kapan saja, tak perlu bareng-bareng.

Dengan demikian aku tidak tersiksa manakala mereka harus pulang lagi ke kota mereka. Biar perubahan yang kurasakan juga tidak terlalu drastis.

Tapi pikiran itu langsung aku bungkam. Aku tak mau anak-anak dan cucuku justru kehilangan momen-momen indah mereka. Berkumpul, tentu peristiwa yang luar biasa bagi siapa pun.

Sementara ditinggalkan dan merasa sepi, biarlah menjadi milikku saja. Aku janji, tidak akan menceritakan penderitaan sepiku pada anak dan cucuku.

Dan seperti biasanya, aku hanya berbagi sepi dengan Mas Har. "Dah......tolong panggilkan becak ya. Ibu mau pergi ke makam Bapak," teriakku pada Saudah, yang sudah 20 tahun ikut aku.

Di depan makam suamiku, aku hanya diam terpaku saja. Hening, hanya ada suara burung. Tapi dalam sepi di samping suamiku, kesepianku terobati.

Anak-anakku, jangan tidak pernah untuk tidak pulang ya? Aku selalu merindukanmu, batinku.****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...