Cer-peli (cerita pendek sekali)
Berita penangkapan Pak Rudi yang gencar diekspose televisi dan koran membuatku ngeri juga. Tiap kali berita itu tayang di televisi, jantungku deg-degan. Berdegup kencang, sampai terkadang membuatku lemas.
KPK memang semakin edan dan ngawur. Pejabat-pejabat ditelanjangi dan dibuat malu. Sama sekali tidak menghormati marwah pejabat, batinku. Hmmm, kalau makin banyak pejabat dan penggede yang ditangkap, bagaimana citra negara kita?
Siapa sih yang tak kenal kesantunan dan kesederhanaan Bos SKK Migas Pak Rudi Rubiandini? Pejabat dan Penggede lain saja banyak yang terkejut atas peristiwa itu.
Aku yang sesama pejabat penting juga terkejut. Tapi keterkejutanku terlebih pada gerak KPK yang mulai sabet sana sabet sini kepada semua pentolan bangsa ini. Dan kini, keterkejutanku ditimpali ketakutanku.
"Tulit...." tiba-tiba hp di genggamanku berbunyi. Kubuka SMS: "Pak, jadi merapat? Sebaiknya jam berapa. Sekarang ya Pak? Saya sudah siapkan bunga tujuh warna."
Jantungku makin berdegup baca SMS itu. Aku ngedumel, ini pengusaha nggak baca berita Pak Rudi apa? mbok ya cooling down dulu toh. Aku benar-benar ketakutan sekarang.
Ini memang kali kelima aku bakal terima "sumbangan" darinya. Biasanya kami menyamarkan dana itu dengan kata-kata bunga. Pada pertemuan pertama aku dikirimi bunga 5 rupa, maksudnya 5 M. Kedua 4 M. Ketiga 6, kempat 3, dan kelima rencananya 7 lagi.
Pertama, kedua dan seterusnya lancar dan rapi. Tapi kelima ini, semesthinya pengusaha itu agak tahu dirilah. Wong KPK lagi nginceri semua gitu kok.
Bulan depan memang akan ada lelang proyek super premium di negeri ini. Dan akulah pejabat yang berwenang menentukannya. Karena premium, maka jumlah sumbangannya juga tidak main-main. Belum ada yang bisa menandingi, termasuk kasus terbaru yang ditangani KPK.
Belum lagi kujawab SMS itu, tiba-tiba pintu kamar hotelku diketuk. Ya...malam ini aku memang lagi sedikit nyantai di hotel bintang lima plus. Badanku yang sudah kuajak kerja keras sudah selayaknya mendapat servis plus.
Kuintip di kaca kecil bulat di pintu. Pengusaha itu sudah di depan pintu. Segera kubuka pintu. "Eh lu, kenapa sih main slonang-slonong. Ini lagi gawat, goblok. Lu gak liat tu berita penangkapan KPK," semburku sambil menariknya masuk.
"Sorry bos. Ini mendesak. Justru kalau lagi ada berita begitu, biasanya pengawasan agak kendur. Semua fokus ke sana. Ini gw sudah siapin bunganya. Tenang...aman-aman," sahutnya.
Usai dia menyodorkan bungkusan koran, tiba-tiba buk. Perutku seperti ditimpa benda tumpul. Lalu byar......cahaya yang semula redup menjadi terang benderang.
Kutengok di sebelahku. Anakku masih pulas. Kakinya menindih perutku. Aku urut dadaku dan ambil nafas dalam-dalam. "Syukurlah aku cuma mimpi," kataku.
Syukur lainku yang tak kalah penting adalah, aku bukan pejabat. Aku hanya pegawai swasta kecil.
Hidupku sederhana. Tapi aku tak pernah merasa kekurangan dan selalu berbahagia. Selama ini, tak pernah secuilpun kepikiran cari tambahan penghasilan dengan upaya tak halal.
Kutarik punggungku menyandar tembok. Dalam batinku aku memohon negeri ini segera bersih. KPK terus diberi semangat dan keberanian membuka borok-borok yang ada. Semua, tak terkecuali.
Tak peduli negeri ini akan dicap sarang koruptor. Yang penting setelahnya menjadi negeri yang ditakuti koruptor. ****
Berita penangkapan Pak Rudi yang gencar diekspose televisi dan koran membuatku ngeri juga. Tiap kali berita itu tayang di televisi, jantungku deg-degan. Berdegup kencang, sampai terkadang membuatku lemas.
KPK memang semakin edan dan ngawur. Pejabat-pejabat ditelanjangi dan dibuat malu. Sama sekali tidak menghormati marwah pejabat, batinku. Hmmm, kalau makin banyak pejabat dan penggede yang ditangkap, bagaimana citra negara kita?
Siapa sih yang tak kenal kesantunan dan kesederhanaan Bos SKK Migas Pak Rudi Rubiandini? Pejabat dan Penggede lain saja banyak yang terkejut atas peristiwa itu.
Aku yang sesama pejabat penting juga terkejut. Tapi keterkejutanku terlebih pada gerak KPK yang mulai sabet sana sabet sini kepada semua pentolan bangsa ini. Dan kini, keterkejutanku ditimpali ketakutanku.
"Tulit...." tiba-tiba hp di genggamanku berbunyi. Kubuka SMS: "Pak, jadi merapat? Sebaiknya jam berapa. Sekarang ya Pak? Saya sudah siapkan bunga tujuh warna."
Jantungku makin berdegup baca SMS itu. Aku ngedumel, ini pengusaha nggak baca berita Pak Rudi apa? mbok ya cooling down dulu toh. Aku benar-benar ketakutan sekarang.
Ini memang kali kelima aku bakal terima "sumbangan" darinya. Biasanya kami menyamarkan dana itu dengan kata-kata bunga. Pada pertemuan pertama aku dikirimi bunga 5 rupa, maksudnya 5 M. Kedua 4 M. Ketiga 6, kempat 3, dan kelima rencananya 7 lagi.
Pertama, kedua dan seterusnya lancar dan rapi. Tapi kelima ini, semesthinya pengusaha itu agak tahu dirilah. Wong KPK lagi nginceri semua gitu kok.
Bulan depan memang akan ada lelang proyek super premium di negeri ini. Dan akulah pejabat yang berwenang menentukannya. Karena premium, maka jumlah sumbangannya juga tidak main-main. Belum ada yang bisa menandingi, termasuk kasus terbaru yang ditangani KPK.
Belum lagi kujawab SMS itu, tiba-tiba pintu kamar hotelku diketuk. Ya...malam ini aku memang lagi sedikit nyantai di hotel bintang lima plus. Badanku yang sudah kuajak kerja keras sudah selayaknya mendapat servis plus.
Kuintip di kaca kecil bulat di pintu. Pengusaha itu sudah di depan pintu. Segera kubuka pintu. "Eh lu, kenapa sih main slonang-slonong. Ini lagi gawat, goblok. Lu gak liat tu berita penangkapan KPK," semburku sambil menariknya masuk.
"Sorry bos. Ini mendesak. Justru kalau lagi ada berita begitu, biasanya pengawasan agak kendur. Semua fokus ke sana. Ini gw sudah siapin bunganya. Tenang...aman-aman," sahutnya.
Usai dia menyodorkan bungkusan koran, tiba-tiba buk. Perutku seperti ditimpa benda tumpul. Lalu byar......cahaya yang semula redup menjadi terang benderang.
Kutengok di sebelahku. Anakku masih pulas. Kakinya menindih perutku. Aku urut dadaku dan ambil nafas dalam-dalam. "Syukurlah aku cuma mimpi," kataku.
Syukur lainku yang tak kalah penting adalah, aku bukan pejabat. Aku hanya pegawai swasta kecil.
Hidupku sederhana. Tapi aku tak pernah merasa kekurangan dan selalu berbahagia. Selama ini, tak pernah secuilpun kepikiran cari tambahan penghasilan dengan upaya tak halal.
Kutarik punggungku menyandar tembok. Dalam batinku aku memohon negeri ini segera bersih. KPK terus diberi semangat dan keberanian membuka borok-borok yang ada. Semua, tak terkecuali.
Tak peduli negeri ini akan dicap sarang koruptor. Yang penting setelahnya menjadi negeri yang ditakuti koruptor. ****
Komentar