"Mami mlebu igd" pesan singkat tersebut kuterima pagi tadi pukul 2.30. Itu berarti baru setengah jam setelah aku mengakhiri obrolan bersama kawan2 dan masuk kamar tidur.
Aku baru sempat membaca pesan itu setengah lima tadi. Rupanya, begitu aku meletakkan kepala di bantal langsung tewas, tertidur. Bunyi pesan masuk tak terdengar.
Usia i
buku
sudah 76 tahun. Sudah melebihi dari usia yang dia targetkan sendiri.
Bukan hendak mendahului kehendak yang di atas, tapi memang karena
kondisi ibu lah yg membuat dia berserah dan tidak menuntut banyak.
Kesederhanaan dan kesabarannya menjadi inspirasi kami, anak2nya. Sejak muda penderita asma berat. Hamil anak pertama langsung dihantui sesak berat, bernafas seperti orang kelelap di kolam. Saat tersengal-sengal wajahnya memucat. Semua disuruhnya menjauh dan dilararangnya berbicara agar bisa konsentrasi menyedot udara. Jarak hisapan satu ke hisapan udara kedua hampir membutuhkan waktu seperempat menit.
Saat hamil aku dan adikku kondisinya tak jauh berbeda. Tak ada obat yang bisa menaklukkan sakitnya. Baru kenal obat semprot mulut ketika adikku hampir lulus kuliah.
Pernah kritis dan hampir tak tertolong ketika dokter mendapati usus buntunya bengkak, memerah hampir meletus. Kritis berikutnya dialami saat kandungannya diangkat.
Dan kritis ketiga dialami bersamaan saat ayah meninggal dunia. Kandungannya dibuang. Dirawat di rumah sakit yg jaraknya 100 km dari rumah. Parah tak bisa apa2. Tapi langsung minta keluar dan pulang ke rumah agar bisa memeluk dan menciumi ayah untuk terakhir kalinya.
Banyak saudara dan kawan2 ayah ibu yang mrngira ibu telah mendahului pulang ke rumah Bapanya. Tapi ternyata ayah yang terpilih harus naik kereta pertama.
Kalau sedang enak badan dan tidak sakit, jangan ditanya bgm semangat ibuku. Hampir semua pekerjaan dilakukannya sendiri. Pagi membuat kue dan es lilin untuk dijual, lalu memasak, dan sesudahnya jalan kaki pergi mengajar.
Pulang mengajar tak mau menganggur. Ada saja yan dilakukannya. Momen yang paling kukenang sampai saat ini adalah ketika dia menjahit sendiri baju untukku. Ibu biasa menjatah kami baju baru, satu atau dua tahun sekali.
Usia 58, ibuku hampir menyerah. Kondisiinya jauh dari bagus, dan dia merasa sudah tak kuat lagi. Bayangkan, hampir sepanjang hidupnya dilalui dengan rasa sakit penyakit. Tak pernah nyaman.
Bagiku, ibu teladanku. Inspirator dan pengayom. Aku salut padanya. Apa pun keadaannya suaranya selalu lembut, tak pernah keras, dan selalu terdengar menyejukkan.
Saking galau dan takutnya aku kehilangan dia, kubisikkan janji di telinganya pada waktu itu. "Tetap semangat ya bu. Kalau ibu bisa mencapai usia 65, aku punya kejutan dan hadiah untuk ibu," bisikku.
Kini usia ibu sudah 76 tahun. Berarti sudah 11 tahun selepas "target' yang kuberikan. Jangankan memberikan kejutan dan memberinya hadiah.....dalam sakitnya skrg saja, ternyata aku tak bisa menengok ibu.
Ibu, aku tahu, sebelum aku mohon maaf atas janjiku yg belum terpenuhi, engkau pasti sdh memaafkanku. Buktinya setiap kali bertemu, setahun sekali, dekapmu memenuhi jiwaku. Dan ciummu di keningku serasa menentramkan. Sekalipun engkau tak pernah mengusik janjiku. ****
Kesederhanaan dan kesabarannya menjadi inspirasi kami, anak2nya. Sejak muda penderita asma berat. Hamil anak pertama langsung dihantui sesak berat, bernafas seperti orang kelelap di kolam. Saat tersengal-sengal wajahnya memucat. Semua disuruhnya menjauh dan dilararangnya berbicara agar bisa konsentrasi menyedot udara. Jarak hisapan satu ke hisapan udara kedua hampir membutuhkan waktu seperempat menit.
Saat hamil aku dan adikku kondisinya tak jauh berbeda. Tak ada obat yang bisa menaklukkan sakitnya. Baru kenal obat semprot mulut ketika adikku hampir lulus kuliah.
Pernah kritis dan hampir tak tertolong ketika dokter mendapati usus buntunya bengkak, memerah hampir meletus. Kritis berikutnya dialami saat kandungannya diangkat.
Dan kritis ketiga dialami bersamaan saat ayah meninggal dunia. Kandungannya dibuang. Dirawat di rumah sakit yg jaraknya 100 km dari rumah. Parah tak bisa apa2. Tapi langsung minta keluar dan pulang ke rumah agar bisa memeluk dan menciumi ayah untuk terakhir kalinya.
Banyak saudara dan kawan2 ayah ibu yang mrngira ibu telah mendahului pulang ke rumah Bapanya. Tapi ternyata ayah yang terpilih harus naik kereta pertama.
Kalau sedang enak badan dan tidak sakit, jangan ditanya bgm semangat ibuku. Hampir semua pekerjaan dilakukannya sendiri. Pagi membuat kue dan es lilin untuk dijual, lalu memasak, dan sesudahnya jalan kaki pergi mengajar.
Pulang mengajar tak mau menganggur. Ada saja yan dilakukannya. Momen yang paling kukenang sampai saat ini adalah ketika dia menjahit sendiri baju untukku. Ibu biasa menjatah kami baju baru, satu atau dua tahun sekali.
Usia 58, ibuku hampir menyerah. Kondisiinya jauh dari bagus, dan dia merasa sudah tak kuat lagi. Bayangkan, hampir sepanjang hidupnya dilalui dengan rasa sakit penyakit. Tak pernah nyaman.
Bagiku, ibu teladanku. Inspirator dan pengayom. Aku salut padanya. Apa pun keadaannya suaranya selalu lembut, tak pernah keras, dan selalu terdengar menyejukkan.
Saking galau dan takutnya aku kehilangan dia, kubisikkan janji di telinganya pada waktu itu. "Tetap semangat ya bu. Kalau ibu bisa mencapai usia 65, aku punya kejutan dan hadiah untuk ibu," bisikku.
Kini usia ibu sudah 76 tahun. Berarti sudah 11 tahun selepas "target' yang kuberikan. Jangankan memberikan kejutan dan memberinya hadiah.....dalam sakitnya skrg saja, ternyata aku tak bisa menengok ibu.
Ibu, aku tahu, sebelum aku mohon maaf atas janjiku yg belum terpenuhi, engkau pasti sdh memaafkanku. Buktinya setiap kali bertemu, setahun sekali, dekapmu memenuhi jiwaku. Dan ciummu di keningku serasa menentramkan. Sekalipun engkau tak pernah mengusik janjiku. ****
Komentar