Langsung ke konten utama

NAMANYA KAK ITA

Sssstt.... Sinilah, mendekat. Kuberitahu ya, dia kuberi nama lengkap Margarita Bonita Rosyita, meski dia mengaku padaku bernama Anneke Anita. Dia sendiri, dalam keseharian lebih suka dipanggil Kak Ita. Seperti halnya dia juga memanggil Bapak dan Emakku, Kakak. Emakku sih diam aja dipanggil kakak. Tapi Bapakku sempat menolak dan mengajari memanggil bapak. Tapi, karena berpuluh kali mengajari dan berpuluh kali pula Kak Ita tetap memanggil kakak, akhirnya bapakku menyerah. Aku sendiri gak tahu kenapa dia enggan memanggil bapak ke bapakku. Tidak pernah aku menanyakannya, seperti halnya bapakku yang memilih membiarkannya, karena masih banyak persoalan hidup yang lebih penting yang lebih layak dipikirkan. Dulu, hampir 20 tahun, Kak Ita pernah hidup dalam penyiksaan dunia. Gerahamnya rompal, beradu dengan kepalan tangan bekas majikannya. Trauma masa lalunya membuat dia seolah hidup di luar dirinya sendiri. Jangankan berpikir, membaca saja dia tidak mampu. Kalau diajak berbicara atau disuruh jawabannya pasti, iya, dulu. Padahal dia belum tahu maksudnya. Pernah bapakku minta lampu senter dan kacamata baca, dibawakannya kacamata hitam dan lampu duduk. Mau dicolokin kemana lampu duduk itu, wong kami lagi di teras. Lalu dg kacamata hitam mau ngapain di malam gelap itu. Minta air untuk minum.....ehhhh dibawakannya air seember lengkap dengan gayungnya. Sambil berendam minum air kali. Sejak usia 7 tahun, Kak Ita dipaksa jadi pembantu. Makan kurang dan hidup selalu dikurung. Salah sedikit, jadi sasaran bogem Kini usia Kak Ita sudah mendekati 30 tahun. Tak pernah mengenal kasih orangtua dan saudara. Tak pernah pula belajar cinta dari lelaki, selain belajar cinta dari berbagai sinetron. Orangtua Kak Ita, dua2nya sudah tiada. Tinggal kakak dan adiknya. Pernah dia cerita, rindu rasanya punya kakak, dan sedih rasanya jadi pembantu. Itu sebabnya kali, Kak Ita panggil Bapak dan Emakku, kakak. Nggak apa2 juga sih Kak Ita jadi kakak angkatku biar dia 'punya' saudara. Tapi kalau dia panggil Bapak dan Emakku, kakak.....terus aku panggil Bapak Emakku apa...? Kakak Tua, kali ya....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...