Langsung ke konten utama

Cer-peli (cerita pendek sekali) ATMO KETHER

(renungan atas G 30 S) Tidak seperti biasanya. Pagi ini, sebelum subuh, Mbah Atmo (95) sudah keluar rumah. Membawa kakinya menuju sudut desa. Di sana ada bongkahan batu besar, sisa letusan gunung di saat dia kecil. Pelan diletakkannya pantatnya di batu itu, sambil mendesah. Setiap kali tanggal 1 Okt, pikirannya resah. Galau, namun hatinya kosong. Dulu, di setiap akhir bulan September, dia selalu dikejar-kejar ketakutan. Selama seminggu, badannya selalu menggigil. Itu sebabnya ia dijuluki kether. Atmo Kether. Kini, ketakutannya telah membatu. Menjelma menjadi keberanian dan kepasrahan menerima apa pum juga. Mbah Atmo orang biasa dan prasojo. Buta huruf dan tak kenal ilmu pengetahuan, apalagi ilmu pulitik. Anak satu-satunya meninggal di depan matamya, saat Mbah Atmo baru saja menghabiskann bubur merah kiriman anaknya itu. Saeran, anaknya, bersama istri biasa kirim bubur di saat Mbah Atmo ulang tahun. Waktu itu pendak warsa ke-48. Tiba-tiba serombongan orang berbaju hijau datang menyeret Saeran ke semak2. Memukulinya....dan dor dor. Sejak itu Mbah Atmo tidak pernah tahu nasib Saeran. Tiada kabar ttg anaknya, selain warta anaknya kesangkut tindakan makar. Mbah Atmo tak tahu apa itu makar. Yang dia tahu Saeran biasa macul dan bermain jathilan. Tak cukup hanya itu, Mbah Atmo juga dijauhi tetangga. Oleh Pak Lurah tak dianggap warga, tak diberi ktp dan dianjurlan menyingkir ke pinggir alas saja. Sejak itu, Mbah Atmo dikutuk sebagai orang tua yang melahirkan generasi pki. Mbah Atmo yang buta huruf dan tak tahu apa-apa dipaksa mengaku jadi orang pintar dan dipaksa mengaku kenal Aidit dan ilmu2nya. Seringkali dia harus menjadi pelanggan sel penjara dan ditanya ini itu yang sebenarnya ia tak tahu apa ini itu. Kini jaman memang sudah berubah. Tidak ada lagi tekanan yang dia rasa. Tapi dia tetap galau. Dia tetap dihantui pertanyaan kenapa anaknya harus disiksa dan dibunuh, padahal bisanya hanya macul dan ndadi saat jathilan. Apakah macul perbuatan dosa karena 'menganiaya' tanah? Ataukah jathilan itu juga tindakan salah dan memalukan, seperti yang dikatakan Pak Bibit, Gubernur Jateng, belum lama ini? Sunggut Mbah Atmo sambil memegang keningnya. Mbah Atmo lalu merebahkan punggungnya di batu. Di langit dilihatnya Tuminah, istrinya, serta Saeran melambai-lambaikan tangan. Mendadak dia mengantuk berat. Badannya makin melingkar, di atas batu bertuliskan cat putih yang sudah kusam....'Tumpas PKI dan antek2nya'. Entah siapa yang menulis, yang jelas Mbah Atmo tak pernah peduli dengan tulisan itu. Apalagi dia buta huruf.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...