Sejak pukul setengah lima tadi aku menyusuri tol Bandung-Jakarta. Pagi tadi jalanan masih lengang.
Sesekali kutengok spedometer di depan tubuh kurus berjaket hitam. Jarumnya tidak pernah di bawah 120 km/jam.
Mantap. Aku tertidur pulas, merasakan nikmatnya jalan tol. Tak terbayangkan seandainya tidak ada jalan itu, mau berapa lama aku berla
ma-lama di atas jalanan menuju Jakarta.
Sekitar pukul setengah tujuh, goyangan mobil ke kiri ke kanan membangunkanku dari mimpi. Kutengok spedometer hanya di angka 20. Si kurus terkantuk-kantuk pula di belakang kemudi.
"Ngantuk Bang?" tanyaku.
"Ia Pak, kalo jalanan macet begini bikin ngantuuuk. Namanya tol kok macet ya Pak?" jawabnya sambil kucek2 mata.
"Sampai di mana sih kita?" sambungku.
"Mau masuk pintu tol Halim. Satu kilo lagi Pak," ujarnya.
Kutengok alroji, hampir pukul tujuh. Kulihat semua jalur padat merayap. Di depan, pintu tol belum juga terlihat.
Tiba2 kurindu Menteri Dahlan Iskan. Dia dulu pernah beraksi di sebuah pintu tol. "Dikeluarkannya kursi2 penjaga tiket yang kosong. Lalu dibukanya pintu tol yang tak bertuan itu. Plong, sumbatan mobil macet terbuka.
"Mulai besok saya tidak mau ada antrean sampai sepuluh mobil. Saya akan tegur pejabat yang berwenang," kata Dahlan seperti dikutip media masa.
Sontak Pak Dahlan makin ngetop. Sosoknya sbg pejabat pro perubahan jadi makin kuat.
Di tengah-tengah kemacetan jalan tol aku makin melamunkan sosok Dahlan. Aku hitung mobil di depanku lebih dari limabelas, duapuluh mobil. Pintu tol masih jauuuh di depan. Adakah Pak Dahlan di pintu sana ya, batinku.
Ahhhh.....ngaco, emangnya Pak Menteri tugasnya di pintu tol. Pekerjaan penting lainnya banyak yang menunggu kok.
Dalam kegundahan hatiku terjebak macet, aku bersenandung tembang kenangan...."janji janji...tinggal janji...." ****
Sekitar pukul setengah tujuh, goyangan mobil ke kiri ke kanan membangunkanku dari mimpi. Kutengok spedometer hanya di angka 20. Si kurus terkantuk-kantuk pula di belakang kemudi.
"Ngantuk Bang?" tanyaku.
"Ia Pak, kalo jalanan macet begini bikin ngantuuuk. Namanya tol kok macet ya Pak?" jawabnya sambil kucek2 mata.
"Sampai di mana sih kita?" sambungku.
"Mau masuk pintu tol Halim. Satu kilo lagi Pak," ujarnya.
Kutengok alroji, hampir pukul tujuh. Kulihat semua jalur padat merayap. Di depan, pintu tol belum juga terlihat.
Tiba2 kurindu Menteri Dahlan Iskan. Dia dulu pernah beraksi di sebuah pintu tol. "Dikeluarkannya kursi2 penjaga tiket yang kosong. Lalu dibukanya pintu tol yang tak bertuan itu. Plong, sumbatan mobil macet terbuka.
"Mulai besok saya tidak mau ada antrean sampai sepuluh mobil. Saya akan tegur pejabat yang berwenang," kata Dahlan seperti dikutip media masa.
Sontak Pak Dahlan makin ngetop. Sosoknya sbg pejabat pro perubahan jadi makin kuat.
Di tengah-tengah kemacetan jalan tol aku makin melamunkan sosok Dahlan. Aku hitung mobil di depanku lebih dari limabelas, duapuluh mobil. Pintu tol masih jauuuh di depan. Adakah Pak Dahlan di pintu sana ya, batinku.
Ahhhh.....ngaco, emangnya Pak Menteri tugasnya di pintu tol. Pekerjaan penting lainnya banyak yang menunggu kok.
Dalam kegundahan hatiku terjebak macet, aku bersenandung tembang kenangan...."janji janji...tinggal janji...." ****
Komentar