Langsung ke konten utama

NGOBROL SAMA BAPAK



Selamat malam pap. Papi sehat2 saja kan? Pasti sekarang lebih sehat. Diabetnya sudah sembuh dan semua sakitnya pun sudah menghilang.

Malam2 begini aku selalu teringat saat engkau mendongeng untukku. Banyak cerita yang engkau dongengkan. Namun seringkali aku tak pernah tau endingnya karena keburu tertidur.

Kini, aku membiasakan mendongeng pula u
ntuk cucumu. Tapi maaf pap, tak bisa aku menirumu dengan sempurna, karena kebiasaanku tertidur sebelum dongeng selesai masih saja berlangsung.

Pap.....apakah kakimu masih sering terasa kebas dan badan sakit semua? Tentunya sudah tidak lagi kan? Aku yakin engkau sekarang bisa lebih banyak senyum dan selalu mendoakan kami, anak2mu dan cucu2mu.

Oh iya, cucumu tertua, anak dari Mas Nano, baru saja melahirkan. Jadi engkau sudah punya cicit sekarang. Kemarin mami sudah menengok si kecil, "warga" baru itu.

Di tengah upayanya menahan sakit, mami banyak terlihat tersenyum bahagia, sampai2 meneteskan ratusan bulir air mata.

Pap, seringkali aku kasihan melihat mami. Tiap kali mengeluh sakit dan kesepian, kami kerap tak mempedulikannya. Ada saja alasan yang terlontar dari mulut kami agar terbebas dari keluhan itu.

Maafkan kami ya Pap. Seandainya engkau masih di sini, tentu hal itu tak akan terjadi. Kepandaianmu bercerita dan menciptakan lelucon pengusir sepi, tentu akan mengobati sepinya hati mami.

Atau kalau tidak, engkau akan membawa mami berkeliling dengan Honda CB tua-mu menelusuri kota, mencari kedai gule sate.

Oh iya Pap. Cucu terkecilmu, anakku, sekarang lagi di rumah budenya. Lucu dan kenes dia. Suka menyanyi lagu karangannya sendiri. Di usianya yg baru 5 tahun, dia anak pemberani dan tabah. Sudah pernah pentas nyanyi, dan mau dititipkan sendirian di rumah budenya.

Sayang engkau belum pernah kenal secara fisik dengan anak2ku, cucu2mu. Yg besar, kini sudah kuliah. Nomor dua masih SD, dan yg kecil baru TK besar. Jauh di mata memang, tapi kami bisa merasakan kedekatanmu.

Menantumu, cantik dan pekerja keras. Keteguhan dan kemauan kerasnya sepertinya menurun ke si bungsu.

Pap, hari sudah malam. Aku belum selesai dengan pekerjaanku. Aku rampungkan dulu ya. Nanti sebelum berangkat tidur, aku pengin ngobrol lagi. ****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...