Menjelang tidur, mendadak Parto gelisah. Hatinya resah. Ingin dia sebenarnya luapkan marah, tapi tak tahu harus bagaimana.
Memang, baginya persoalan marah bukanlah hal mudah. Selama ini hatinya t
erlanjur diajari bersabar terhadap persoalan apa pun juga.
Jangankan persoalan sepele. Persoalan besar menyangkut harga diri saja, dia bisa menjaga hati. Dia beranggapan, dia orang biasa, yg tak punya kuasa atas hidup ini. Hidup sudah digariskan. Karenanya manusia lebih baik berserah saja.
Kegelisahan Parto malam ini sebenarnya gara-gara persoalan sepele. Jengkel dan marahnya tiba2 meluap ktika mendapati seekor nyamuk dengan santainya nongkrong di pipi gadis bungsunya yg dia sayangi.
Tubuh nyamuk sudah terlihat gemuk. Menandakan dia sdh lama menghisap pipi montok itu. 'Kurangajar kau,' gerutu Parto sambil mengayunkan tangannya kuat PLOK ke pipi mungil itu.
Bukan hanya nyamuk yang penyet tergencet telapak kekar itu. Tapi pipi mungil itu spontan juga memerah. Untung saja anaknya tak terbangun.
Namun gara-gara itu, Parto justru dihantui penyesalan berkepanjamgan dan tak bisa memaafkan diri.
'Bodohnya aku. Melawan nyamuk kecil saja aku tak mampu. Sampai-sampai harus kukorbankan pipi anakku. Bagaimana kalau aku dihadapkan persoalan besar, bisa-bisa semua kukorbankan,' sesalnya.
Parto lalu menyenandungkan lagu Nina Bobo di samping anaknya yg tetap pulas. Dengan itu dia mencoba menebus salah dan mengobati gelisah. ***
Jangankan persoalan sepele. Persoalan besar menyangkut harga diri saja, dia bisa menjaga hati. Dia beranggapan, dia orang biasa, yg tak punya kuasa atas hidup ini. Hidup sudah digariskan. Karenanya manusia lebih baik berserah saja.
Kegelisahan Parto malam ini sebenarnya gara-gara persoalan sepele. Jengkel dan marahnya tiba2 meluap ktika mendapati seekor nyamuk dengan santainya nongkrong di pipi gadis bungsunya yg dia sayangi.
Tubuh nyamuk sudah terlihat gemuk. Menandakan dia sdh lama menghisap pipi montok itu. 'Kurangajar kau,' gerutu Parto sambil mengayunkan tangannya kuat PLOK ke pipi mungil itu.
Bukan hanya nyamuk yang penyet tergencet telapak kekar itu. Tapi pipi mungil itu spontan juga memerah. Untung saja anaknya tak terbangun.
Namun gara-gara itu, Parto justru dihantui penyesalan berkepanjamgan dan tak bisa memaafkan diri.
'Bodohnya aku. Melawan nyamuk kecil saja aku tak mampu. Sampai-sampai harus kukorbankan pipi anakku. Bagaimana kalau aku dihadapkan persoalan besar, bisa-bisa semua kukorbankan,' sesalnya.
Parto lalu menyenandungkan lagu Nina Bobo di samping anaknya yg tetap pulas. Dengan itu dia mencoba menebus salah dan mengobati gelisah. ***
Komentar