Langsung ke konten utama

GAYA LOKAL BIKIN BEDA



Pagi ini aku, Suprapto Pangripto, bangun terlalu dini. Punggung masih terasa kaku. Mau tidur lagi, tak bisa. Tak tahu kenapa. Padahal baru jam setengah tiga rasanya aku katupkan kelopak mata ini.

Pikiranku sendiri sebenarnya tak kemana-mana. Tak juga sedang capek karena mikirin yang bukan-bukan. Cuma hati saja yang agak gelisah, tapi susah me
ncari sebabnya.

Iseng kubolak-balik tumpukan koran di meja sebelahku. Tak biasanya aku suka baca berita selebriti. Tapi pagi ini agak di luar kebiasaan. Aku membaca "Syahrini Kembali Menjomblo".

Terus terang aku bukan pemuja Si Jambul Khatulistiwa itu. Bagiku, kelakuannya banyak yang meleset. Namun demikian aku juga tak membencinya. Bukan levelku, karenanya aku tak pernah perhatian sama dia. Mau jungkir balik kek, telentang atau tengkurap, silakan saja.

Pagi ini aku kheki aja lihat berita-berita smua koran di mejaku. Kompak memberitakan tentang Syahrini. Apa sih istimewanya Si Jambul ini? Macam tak ada artis lain yang bisa jadi patron saja.

"Bubu, Raja Mohammad Syazni, bukan karena tak cinta aku lagi, balek ke Malyasia. Tapi, die tak kuat menanggung beratnya resiko memacari pesohor macam aku," kata Syahrini.

Terus kalo Syahrini dan Bubu putus mau diapain sihhh......memangnya aku, Suprapto Pangripto, harus bilang WOW gitu!!!!!???? Sori ya Rin, kalian bukan levelku.

Sejenak aku teruskan membacaku. Di bawah berita berjudul "Syahrini dan Bubu Putus" ada iklan dengan foto gadis seksi. Tulisannya begini: New. Gaya Lokal Bikin Beda. Penasaran? Hub 0809-1229000.

Iklan di sebelahnya tak kalah gendengnya. "Gelar terapi alat vital spektakuler ditangani langsung M Yusuf besar & panjang langsung di tempat".

Lama aku tepekur. Tak bisa membayangkan apa-apa. Mak...mak...mak.......dunia makin goyah. Dan aku juga makin gelisah. Tambah susah tidur lagi.

Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, aku hidup di mana ya ini? Kuteplok jidatku. Terasa sakit. Berarti aku belum tidur dan tak sedang bermimpi. ****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...