(seri ngisruh 3)
"Sungguh Bapak Yahud"
"Sungguh Bapak Yes"
"Saya Bangga Yud"
Dada saya rasanya plong membaca spanduk-spanduk yang tertempel di tembok-tembok pasar. Meski hanya terbuat dari kertas-kertas bekas, tetap saja spanduk itu membanggakan hati.
"Sungguh Bapak Yahud"
"Sungguh Bapak Yes"
"Saya Bangga Yud"
Dada saya rasanya plong membaca spanduk-spanduk yang tertempel di tembok-tembok pasar. Meski hanya terbuat dari kertas-kertas bekas, tetap saja spanduk itu membanggakan hati.
Kuhitung jumlahnya lebih kalau hanya limabelas buah. Ada yang ditulis
dengan cat merah, hijau, kuning. Tapi yang lebih banyak dengan cat biru.
Aku senyum-senyum dalam hati setiap kali membaca tulisan2 itu. Orang-orang pada mengakui ketepatanku dalam mengambil sikap. Aku dianggap pro antipreman pasar.
"Hehehehe.....makanya jangan meremehkan aku. Setiap kali, kalian menganggap aku ibarat siput. Lambat bersikap dan peragu. Padahal, di saat-saat itulah, aku tengah menganalisa, mengevaluasi. Mencoba mencari teori2 yang pas untuk ambil tindakan. Saking banyaknya buku teori yang aku punya, aku sampai harus bongkar2 isi udang."
Kalau hanya untuk berpulitik diantara kita-kita....hmmmm jangan anggap ringan aku. Kalian ini baru anak kemarin sore, bagaimana mau mengalahkan ilmuku. Wong kalian gampang digosok, disogok, apalagi disodok dan diadu domba.
Kayak Kumis dan Rahmat, misalnya. Kuberi umpan untuk saling unjuk gigi. Mereka akhirnya berkelahi sendiri cari posisi dan atur strategi. Saling gigit dan sikut. Ujung2nya orang2 pada resah. Persoalan seolah menjadi tak terkendali.....keamanan rentan. Aksi maling bakal bangkit kembali.
Hihihi.....aku biarkan persoalan sejenak mengular. Orang2 menjadi kehilangan pegangan dan berharap ada pengayom segala pengayom segera muncul.
Kerinduan mereka kubiarkan menumpuk sebentar. Pada saatnya yang tepat, aku nantinya bakal mencuat mengambil sikap.
Di saat Kumis dan Rahmat makin kehilangan kendali, saling sesumbar dan mengeluh karena dibalut emosi, aku sigap muncul di atas panggung.
Di hadapan orang2 yang sudah mulai frustasi, aku berpidato. Kali ini aku atur suara agar terdengar berat dan mendalam, tidak seperti biasanya yang terdengar cemeng dan mengiba kayak wanita yang lagi curhat ke pacarnya.
Aku ngomong lambat2 tapi tegas, biar mereka dengan jelas menangkap maksudku. "Saudara2 sekalian. Sudah saatnya kita tinggalkan rasa muak dan takut kita. Mari sekarang kita serahkan soal keamanan ini kepada Rahmat. Mari kita dukung dia memberantas preman."
Spontan suara gemuruh memenuhi jagat ini. Orang2 pada bertepuk tangan. Semua mengelu-elukanku. Menganggapku tegas dan pengayom segala pengayom.
Esoknya orang2 pada seru membicarakan sikapku. Mereka bangga padaku. Dalam setiap kerumunan, namaku selalu disebut-sebut. Tidak lagi nama Rahmat yang dieluk-elukan, seperti di bulan2 sebelumnya.
Aku naik daun lagi. So.....kalau soal pencitraan bergurulah padaku. ****
Aku senyum-senyum dalam hati setiap kali membaca tulisan2 itu. Orang-orang pada mengakui ketepatanku dalam mengambil sikap. Aku dianggap pro antipreman pasar.
"Hehehehe.....makanya jangan meremehkan aku. Setiap kali, kalian menganggap aku ibarat siput. Lambat bersikap dan peragu. Padahal, di saat-saat itulah, aku tengah menganalisa, mengevaluasi. Mencoba mencari teori2 yang pas untuk ambil tindakan. Saking banyaknya buku teori yang aku punya, aku sampai harus bongkar2 isi udang."
Kalau hanya untuk berpulitik diantara kita-kita....hmmmm jangan anggap ringan aku. Kalian ini baru anak kemarin sore, bagaimana mau mengalahkan ilmuku. Wong kalian gampang digosok, disogok, apalagi disodok dan diadu domba.
Kayak Kumis dan Rahmat, misalnya. Kuberi umpan untuk saling unjuk gigi. Mereka akhirnya berkelahi sendiri cari posisi dan atur strategi. Saling gigit dan sikut. Ujung2nya orang2 pada resah. Persoalan seolah menjadi tak terkendali.....keamanan rentan. Aksi maling bakal bangkit kembali.
Hihihi.....aku biarkan persoalan sejenak mengular. Orang2 menjadi kehilangan pegangan dan berharap ada pengayom segala pengayom segera muncul.
Kerinduan mereka kubiarkan menumpuk sebentar. Pada saatnya yang tepat, aku nantinya bakal mencuat mengambil sikap.
Di saat Kumis dan Rahmat makin kehilangan kendali, saling sesumbar dan mengeluh karena dibalut emosi, aku sigap muncul di atas panggung.
Di hadapan orang2 yang sudah mulai frustasi, aku berpidato. Kali ini aku atur suara agar terdengar berat dan mendalam, tidak seperti biasanya yang terdengar cemeng dan mengiba kayak wanita yang lagi curhat ke pacarnya.
Aku ngomong lambat2 tapi tegas, biar mereka dengan jelas menangkap maksudku. "Saudara2 sekalian. Sudah saatnya kita tinggalkan rasa muak dan takut kita. Mari sekarang kita serahkan soal keamanan ini kepada Rahmat. Mari kita dukung dia memberantas preman."
Spontan suara gemuruh memenuhi jagat ini. Orang2 pada bertepuk tangan. Semua mengelu-elukanku. Menganggapku tegas dan pengayom segala pengayom.
Esoknya orang2 pada seru membicarakan sikapku. Mereka bangga padaku. Dalam setiap kerumunan, namaku selalu disebut-sebut. Tidak lagi nama Rahmat yang dieluk-elukan, seperti di bulan2 sebelumnya.
Aku naik daun lagi. So.....kalau soal pencitraan bergurulah padaku. ****
Komentar