Mas Prayit......! Tak sadar, mulutku berulang-ulang menyebut nama suamiku, ketika mataku tertumbuk ke tempat tidur tua di sudut ruang tamu.
Serasa ada pisau yang merobek-robek hati ini ketika terlintas bayangan Mas Prayit tergolek di ranjang itu.
Sendiri tak berdaya ditelikung penyakit menahun. Salah satu hiburannya yang paling berharga han
yalah
di saat siang. Pelukan mesra anak bungsunya sepulang sekolah, sambil
bercerita berbagai peristiwa di sekolahnya, bagaikan hujan sehari di
tengah kemarau berkepanjangan.
Dia hanya berdua saja bersama Gendis, yang kini sudah menginjak remaja. Aku sendiri harus bolak-balik ke kota untuk urusan kantor.
Mas Prayit sebenarnya kerap juga mengeluhkan sakitnya padaku. Tapi karena seringkali aku mengacuhkan dan menganggapnya cengeng, Mas Prayit tak pernah lagi berkeluh-kesah. Pekerjaanku jadi tak terganggu.
Kini sudah 7 hari sejak kepergian Mas Prayit. Di rumah tidak ada lagi alunan dendang tembang2 kenangan. Tidak ada lagi suara lirih yang mengatakan, "Watik hati2 di jalan ya. Kalau kerja inget kesehatan sayang."
Kupandangi ranjang tua itu. Tak terasa bulir2 airmataku berjatuhan. Banyak kebersamaan bersama Mas Prayit yang kulewatkan begitu saja. Dulu, di sore hari, kami sering ngobrol di teras depan. Kami berjanji akan saling menjaga.
Sesekali aku siapkan camilan dan teh hangat, sementara Mas Prayit mengajari dua kakak Gendis mengerjakan PR. Gendis kecil, berada di pangkuan ayahnya sambil tertawa-tawa.
Sepeninggal Mas Prayit, aku baru bisa merasakan betapa besar cintanya padaku dan keluarga. Ketika aku sedang tidak di rumah, banyak pekerjaan di luar kodratnya sbg lelaki yang diselesaikannya. Tidak pernah mengeluh dan tak merepotkan orang lain.
"Mas Prayit......." tak sadar bibirku kembali memanggil namanya. Kudekati ranjang tua itu, kuambil bantal dan kudekap kuat2. Aku tak mampu berkata-kata, selain hanya mengucap Mas Prayit, puluhan kali. ****
Dia hanya berdua saja bersama Gendis, yang kini sudah menginjak remaja. Aku sendiri harus bolak-balik ke kota untuk urusan kantor.
Mas Prayit sebenarnya kerap juga mengeluhkan sakitnya padaku. Tapi karena seringkali aku mengacuhkan dan menganggapnya cengeng, Mas Prayit tak pernah lagi berkeluh-kesah. Pekerjaanku jadi tak terganggu.
Kini sudah 7 hari sejak kepergian Mas Prayit. Di rumah tidak ada lagi alunan dendang tembang2 kenangan. Tidak ada lagi suara lirih yang mengatakan, "Watik hati2 di jalan ya. Kalau kerja inget kesehatan sayang."
Kupandangi ranjang tua itu. Tak terasa bulir2 airmataku berjatuhan. Banyak kebersamaan bersama Mas Prayit yang kulewatkan begitu saja. Dulu, di sore hari, kami sering ngobrol di teras depan. Kami berjanji akan saling menjaga.
Sesekali aku siapkan camilan dan teh hangat, sementara Mas Prayit mengajari dua kakak Gendis mengerjakan PR. Gendis kecil, berada di pangkuan ayahnya sambil tertawa-tawa.
Sepeninggal Mas Prayit, aku baru bisa merasakan betapa besar cintanya padaku dan keluarga. Ketika aku sedang tidak di rumah, banyak pekerjaan di luar kodratnya sbg lelaki yang diselesaikannya. Tidak pernah mengeluh dan tak merepotkan orang lain.
"Mas Prayit......." tak sadar bibirku kembali memanggil namanya. Kudekati ranjang tua itu, kuambil bantal dan kudekap kuat2. Aku tak mampu berkata-kata, selain hanya mengucap Mas Prayit, puluhan kali. ****
Komentar