Langsung ke konten utama

MAS PRAYIT TELAH PERGI



Mas Prayit......! Tak sadar, mulutku berulang-ulang menyebut nama suamiku, ketika mataku tertumbuk ke tempat tidur tua di sudut ruang tamu.

Serasa ada pisau yang merobek-robek hati ini ketika terlintas bayangan Mas Prayit tergolek di ranjang itu.

Sendiri tak berdaya ditelikung penyakit menahun. Salah satu hiburannya yang paling berharga han
yalah di saat siang. Pelukan mesra anak bungsunya sepulang sekolah, sambil bercerita berbagai peristiwa di sekolahnya, bagaikan hujan sehari di tengah kemarau berkepanjangan.

Dia hanya berdua saja bersama Gendis, yang kini sudah menginjak remaja. Aku sendiri harus bolak-balik ke kota untuk urusan kantor.

Mas Prayit sebenarnya kerap juga mengeluhkan sakitnya padaku. Tapi karena seringkali aku mengacuhkan dan menganggapnya cengeng, Mas Prayit tak pernah lagi berkeluh-kesah. Pekerjaanku jadi tak terganggu.

Kini sudah 7 hari sejak kepergian Mas Prayit. Di rumah tidak ada lagi alunan dendang tembang2 kenangan. Tidak ada lagi suara lirih yang mengatakan, "Watik hati2 di jalan ya. Kalau kerja inget kesehatan sayang."

Kupandangi ranjang tua itu. Tak terasa bulir2 airmataku berjatuhan. Banyak kebersamaan bersama Mas Prayit yang kulewatkan begitu saja. Dulu, di sore hari, kami sering ngobrol di teras depan. Kami berjanji akan saling menjaga.

Sesekali aku siapkan camilan dan teh hangat, sementara Mas Prayit mengajari dua kakak Gendis mengerjakan PR. Gendis kecil, berada di pangkuan ayahnya sambil tertawa-tawa.

Sepeninggal Mas Prayit, aku baru bisa merasakan betapa besar cintanya padaku dan keluarga. Ketika aku sedang tidak di rumah, banyak pekerjaan di luar kodratnya sbg lelaki yang diselesaikannya. Tidak pernah mengeluh dan tak merepotkan orang lain.

"Mas Prayit......." tak sadar bibirku kembali memanggil namanya. Kudekati ranjang tua itu, kuambil bantal dan kudekap kuat2. Aku tak mampu berkata-kata, selain hanya mengucap Mas Prayit, puluhan kali. ****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...