Sarapan pagi ini aku kepedasan. Pating crekit di mulut.
Huweh..huweh, mulut terbuka sedikit, udara kusedot cepat-cepat, deras,
lalu buru-buru kulepaskan. Sedikit terasa isis. Lumayan mengurangi rasa
panas.
Adonan cabe dengan bawang
putih dan garam sangat menggodaku. Warnanya merah, tidak lembut, bahkan
cabikan cabe marahnya masih terlihat. Selebar satu sentimeter, menjadi
daya tarik tersendiri.
Tak perlu beraneka ragam lauk untuk menemani nasi putih, pagi ini. Cukup tempe, plus ikan asin. Itu sudah cukup membuat keringat bagai rintik hujan membasahi kening.
Makanan boleh bercabe dan membuat seluruh rongga mulut pedas. Tapi dalam berkata-kata, kata bapakku, jangan sampai terasa pedas bagi orang yang mendengarnya.
Kalau ngomong yang santun, jangan menusuk hati orang lain, apa pun tema omongannya. Lagi marah pun juga berkatalah dengan pilihan kata yang biasa. Focus pada kemarahan, dan tidak mengumbar nama-nama hewan.
Dengan demikian, semoga orang lain bisa menerima dan tahu arah kemarahan kita. "Korban" omongan kita semoga juga tidak dendam karena kita tidak menyamakannya dengan hewan-hewan yang ada.
Dulu, sebuah iklan rokok pernah berbunyi " mulutmu harimaumu" (kenapa kok ngak mulutmu p
Tak perlu beraneka ragam lauk untuk menemani nasi putih, pagi ini. Cukup tempe, plus ikan asin. Itu sudah cukup membuat keringat bagai rintik hujan membasahi kening.
Makanan boleh bercabe dan membuat seluruh rongga mulut pedas. Tapi dalam berkata-kata, kata bapakku, jangan sampai terasa pedas bagi orang yang mendengarnya.
Kalau ngomong yang santun, jangan menusuk hati orang lain, apa pun tema omongannya. Lagi marah pun juga berkatalah dengan pilihan kata yang biasa. Focus pada kemarahan, dan tidak mengumbar nama-nama hewan.
Dengan demikian, semoga orang lain bisa menerima dan tahu arah kemarahan kita. "Korban" omongan kita semoga juga tidak dendam karena kita tidak menyamakannya dengan hewan-hewan yang ada.
Dulu, sebuah iklan rokok pernah berbunyi " mulutmu harimaumu" (kenapa kok ngak mulutmu p
enyumbang
kabut asap ya?). Maksudnya, kita disuruh berhati-hati dalam
berkata-kata. Karena kata-kata yang kita keluarkan pada waktu itu,
seringkali justru menyeret kita pada persoalan hukum. Banyak contohnya
deh.
Huweh.....Huweh......Jang****k, kamp****"ret, as**u, pedesnya kok nggak ilang-ilang ya!!!????
Eh, eh, sori, kenapa harus kujadikan hewan-hewan itu kambing hitam kepedasanku? Sori ya wan, hewan. Hidup memang terkadang pedas. ****
Huweh.....Huweh......Jang****k, kamp****"ret, as**u, pedesnya kok nggak ilang-ilang ya!!!????
Eh, eh, sori, kenapa harus kujadikan hewan-hewan itu kambing hitam kepedasanku? Sori ya wan, hewan. Hidup memang terkadang pedas. ****
Komentar