Langsung ke konten utama

OMA/EYANG/SIMBAH/NENEK


Itulah sebutan untuk ibu kita, ketika kita sudah omah-omah atau berumahtangga dan punya anak. Ibu adalah orangtua kita. Dia istrinya ayah kita, papa kita, atau apa pun sebutan lainnnya buat bapak kita.
Sebagai oma, nenek, eyang, dan lain-lain, kehadiran ibu kita tentu teramat penting buat anak-anak kita. Tanpa mereka, tentu anak-anak kita tidak akan hadir di dunia ini, karena tanpa mereka kita pun juga pasti tidak ada.
Simbah atau nenek, seringkali memberikan ketenteraman dan kedamaian tersendiri bagi anak-anak kita. Kehadiran eyang seringkali menjadi pengayom alternatif, manakala anak-anak butuh tempat mengadu yang lain. Tema mengadu menjadi lebih luas ketimbang saat-saat mengadu kepada kita. Bahkan kita pun tak jarang jadi tema aduan anak-anak.
Ungkapan kasih sayang oma atau eyang kepada cucunya, di banyak hal, biasanya lebih besar dibandingkan rasa sayang ibu kepada anaknya. Oma lebih memanja, sedang ibu banyak cerewet atau marahnya.
Bahayanya, kemanjaan yang diberikan seorang nenek, kerapkali membuat anak menjadi "lebih" nakal. Susah diatur, semau gue, sehingga makin membuat bawel sang ibu.
Bagi kita, nenek anak-anak kita adalah inspirasi. Dialah simbol perjuangan hidup, simbol kesabaran dan cinta. Sampai-sampai disebutkan dalam petuah-petuah, di bawah telapak kaki nenek anak-anak kita, di sanalah letaknya surga.
Mau mencicipi surga? Menikmati nikmatnya surga? Bagi yang masih didampingi nenek atau eyangnya anak-anak, mari kita curahkan kasih sayang dan perhatian kita kepada mereka.
Sembilan bulan mereka bergulat melawan "bahaya" mengandung kita, lalu seumur hidupnya mereka berikan perhatin kepada kita. Bahkan kepada cucu-cucu atau anak kita pun, nenek tak henti mencurahkan cintanya.
Kini, sudah saatnya nenek, oma, eyang, dll......menikmati hidup dan menerima perhatian serta cinta kita semua. Selamat hari nenek sedunia (eh, ada nggak ya?) ****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...