Itulah sebutan untuk ibu kita, ketika kita sudah omah-omah atau berumahtangga dan punya anak. Ibu adalah orangtua kita. Dia istrinya ayah kita, papa kita, atau apa pun sebutan lainnnya buat bapak kita.
Sebagai
oma, nenek, eyang, dan lain-lain, kehadiran ibu kita tentu teramat
penting buat anak-anak kita. Tanpa mereka, tentu anak-anak kita tidak
akan hadir di dunia ini, karena tanpa mereka kita pun juga pasti tidak
ada.
Simbah atau nenek, seringkali memberikan ketenteraman dan kedamaian tersendiri bagi anak-anak kita. Kehadiran eyang seringkali menjadi pengayom alternatif, manakala anak-anak butuh tempat mengadu yang lain. Tema mengadu menjadi lebih luas ketimbang saat-saat mengadu kepada kita. Bahkan kita pun tak jarang jadi tema aduan anak-anak.
Ungkapan kasih sayang oma atau eyang kepada cucunya, di banyak hal, biasanya lebih besar dibandingkan rasa sayang ibu kepada anaknya. Oma lebih memanja, sedang ibu banyak cerewet atau marahnya.
Bahayanya, kemanjaan yang diberikan seorang nenek, kerapkali membuat anak menjadi "lebih" nakal. Susah diatur, semau gue, sehingga makin membuat bawel sang ibu.
Bagi kita, nenek anak-anak kita adalah inspirasi. Dialah simbol perjuangan hidup, simbol kesabaran dan cinta. Sampai-sampai disebutkan dalam petuah-petuah, di bawah telapak kaki nenek anak-anak kita, di sanalah letaknya surga.
Mau mencicipi surga? Menikmati nikmatnya surga? Bagi yang masih didampingi nenek atau eyangnya anak-anak, mari kita curahkan kasih sayang dan perhatian kita kepada mereka.
Sembilan bulan mereka bergulat melawan "bahaya" mengandung kita, lalu seumur hidupnya mereka berikan perhatin kepada kita. Bahkan kepada cucu-cucu atau anak kita pun, nenek tak henti mencurahkan cintanya.
Kini, sudah saatnya nenek, oma, eyang, dll......menikmati hidup dan menerima perhatian serta cinta kita semua. Selamat hari nenek sedunia (eh, ada nggak ya?) ****
Simbah atau nenek, seringkali memberikan ketenteraman dan kedamaian tersendiri bagi anak-anak kita. Kehadiran eyang seringkali menjadi pengayom alternatif, manakala anak-anak butuh tempat mengadu yang lain. Tema mengadu menjadi lebih luas ketimbang saat-saat mengadu kepada kita. Bahkan kita pun tak jarang jadi tema aduan anak-anak.
Ungkapan kasih sayang oma atau eyang kepada cucunya, di banyak hal, biasanya lebih besar dibandingkan rasa sayang ibu kepada anaknya. Oma lebih memanja, sedang ibu banyak cerewet atau marahnya.
Bahayanya, kemanjaan yang diberikan seorang nenek, kerapkali membuat anak menjadi "lebih" nakal. Susah diatur, semau gue, sehingga makin membuat bawel sang ibu.
Bagi kita, nenek anak-anak kita adalah inspirasi. Dialah simbol perjuangan hidup, simbol kesabaran dan cinta. Sampai-sampai disebutkan dalam petuah-petuah, di bawah telapak kaki nenek anak-anak kita, di sanalah letaknya surga.
Mau mencicipi surga? Menikmati nikmatnya surga? Bagi yang masih didampingi nenek atau eyangnya anak-anak, mari kita curahkan kasih sayang dan perhatian kita kepada mereka.
Sembilan bulan mereka bergulat melawan "bahaya" mengandung kita, lalu seumur hidupnya mereka berikan perhatin kepada kita. Bahkan kepada cucu-cucu atau anak kita pun, nenek tak henti mencurahkan cintanya.
Kini, sudah saatnya nenek, oma, eyang, dll......menikmati hidup dan menerima perhatian serta cinta kita semua. Selamat hari nenek sedunia (eh, ada nggak ya?) ****
Komentar