Langsung ke konten utama

Kado dari Bapak


Namaku Kuntho, tapi orang-orang dekatku memanggilku Saha. Entah apa artinya nama panggilan itu, namun yang pasti aku suka-suka saja mendengarnya.
Jarum jam belum lagi menunjukkan angka setengah lima ketika aku mendadak terbangun. Keningku terasa hangat. Aneh, batinku dengan mata masih terpejam. Sejurus kemudian, seperti ada hembusan angin di ujung-ujung rambutku.
Ketika kupencet knop lampu, tak kutemukan apa-apa di depanku. Di samping kanan dan kiri, juga tak kulihat siapa-siapa. Perlahan aku kembali ke tempat tidur lalu kubaringkan badanku lagi. Belum semenit kupejamkan mata, keningku terasa hangat lagi.
Lagi-lagi aneh, mendadak dalam diam dan pejaman mata, kurasakan bapakku mencium keningku. Semakin aku diam dan merapatkan mata, ciuman bapakku terasa makin hangat dan kuat.
Bapak, benar kamukah itu? Bukan kah kamu sedang tidak di sini? Kapan Bapak datang? Tanyaku dalam hati bertubi-tubi, sementara pagi semakin sunyi.
Entah datangnya suara dalam hati ini dari mana. Lembut kudengar, "Selamat ya nak, kamu bertambah dewasa. Tumbuhlah kuat dan besar serta teguh dalam imanmu..... Jangan khawatir aku akan selalu di dekatmu."
Aku tak mampu berkata-kata. Hanya diam, sementara gantian mataku yang terasa hangat oleh buliran airmata. Bapakku datang di hari istimewaku. Memang bukan fisiknya, tapi spiritnya kurasakan begitu lekat.
Aku tahu cinta itu tak akan pernah berhenti, habis, atau hilang dibawa jarak. Aku yakin cinta itu justru terus bertumbuh dalam keabadian.
Ketika aku hendak mencoba melingkarkan tangan di leher bapakku, tiba-tiba badanku terangkat dari kasur. Sepasang tangan yang mulai keriput membopongku, lalu mengayunkanku dalam buaian pagi.
Dadaku membuncah. Senyumku sambung-menyambung. Pipiku belepotan air mata dan sisa air liur tadi malam.....****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...