Langsung ke konten utama

Apalah Arti Sebuah Nama

SBY (baca:Esbeyes) atau Es Mencair 

Oleh:
RHR Dodi Sarjana


SUPERMAN, manusia atau laki-laki dengan kekuatan super hebat. Dalam keseharian kita kata itu seringkali diplesetkan menjadi Suparman. Padahal dalam khasanah Jawa, Su artinya baik, jadi bisa saja maksudnya jadilah Parman yang baik. Lalu Parman sendiri artinya apa ya? Itulah rahasia di balik nama seseorang.


MENGUTIP sepenggal dialog Romeo and Juliet karya sastrawan besar William Shakespeare, "apalah arti sebuah nama," kebanyakan orang, (lagi-lagi) memplesetkan (sengaja) dan ada juga yang terpeleset (tak sengaja), pendapat pujangga dunia itu.
Dalam suasana setengah bercanda, jika ada sesuatu yang dirasa tidak pas, orang kerap melempar pertanyaan, ah apalah arti sebuah nama? Nama tidak penting.
Jamak memang, ketika dalam perdebatan-perdebatan ringan maupun besar, terkadang pendapat tersebut dicuplik khalayak untuk mendramatisasi perdebatan yang muncul. Sementara yang lain mengutipnya agar dicap tidak ketinggalan wawasan, meski tidak mengetahui secara benar background atau latar belakang penggunaan kalimat itu.
Shakespeare, dalam sepenggal kutipan dalam karyanya menuliskan, What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.
Terjemahan kasarnya kurang lebih:
Apalah arti sebuah nama? Meskipun kita menyebut mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap harum.
Memahami "mozaik" konteks di atas, tentu kita masih meraba-raba akan maknanya. Namun pembicaraan di atas, latar belakangnya adalah dialog Romeo dengan Juliet yang tengah membahas kisah cinta mereka.
Keduanya dilahirkan dari dua "dunia" yang berbeda. Mereka berbeda marga atau fam, yang kebetulan pada waktu itu sedang berselisih. Dan Romeo mempertanyakan, "Apa sih arti nama Capulet (nama keluarganya) yang justru membuat perselisihan."
Pertanyaan Romeo, kandungan maknanya sebenarnya cukup mendalam. Salah satunya adalah; kalau sebuah nama, baik itu nama kelompok-organisasi-komunitas-atau yang lainnya, pada akhirnya hanya menyebabkan perselisihan dan pertentangan, tentulah "kantung-kantung" nama itu tiada berarti apa-apa. Justru ngisruh dan bikin kisruh.
Nama tidaklah membawa arti apa-apa sepanjang sang penyandang nama tersebut tidak mampu memberi makna atas namanya lewat perbuatan dan perilaku yang baik. Pendapat nama tiada punya arti, memunculkan perdebatan abadi yang seolah belum menemukan muara kesimpulan yang satu. Beberapa orang menganggap nama tidak penting, dan beberapa orang yang lain menganggap nama sangat penting dan berarti.
Mencoba untuk tidak memilih salah satu dari dua pendapat yang berseberangan, makna nama memang tergantung pada pandangan masing-masing orang. Tergantung latar belakang dan tujuan orang yang menolak atau menerimanya.
Namun yang pasti, dalam budaya timur atau Indonesia. Nama dipandang sebagai pendarasan doa terhadap orang yang menyandangnya. Ada pendapat yang menyatakan untuk mengenal siapa diri kita, kita harus tahu makna yang ada dibalik nama yang disematkan pada wadag (badan) dan diri kita.
Tentu sebagian besar orang tua punya alasan tertentu saat memberikan nama kepada anaknya. Menurut mereka, nama yang diberikan merupakan doa atau harapan orang tua bagi anak tersebut. Nama Surahmat misanya, diharapkan agar sang anak selalu mendapatkan rahmat atau berkah yang baik.
Sementara nama Suharto dimaknai agar sang anak sukses mengumpulkan harta yang baik dan halal.
Persoalan nama, juga tidak dipandang sebelah mata oleh Presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Cucu pertamanya yang lahir pas hari kemerdekaan juga dipilihkan nama, yang menurut mereka, baik dan diharapkan bisa mewarnai kehidupan sang anak hingga dewasa nanti.
Nama Ratu Majapahit dipilih keluarga presiden ini untuk menamai anggota keluarganya yang baru. Almira Tunggadewi Yudhoyono, itulah nama lengkap cucu pertama SBY. Menurut Agus Yudhoyono sang ayah, Almira artinya putri yang mulia. Tunggadewi itu tokoh wanita abad ke-14, Ratu Majapahit yang setia dan berani. Sedangkan Yudhoyono nama keluarga.
Keluarga Presiden beralasan nama harus cantik, elok, mengandung doa dan ada budaya yang melekat.
Dan tentu, barangkali, ada juga secuil harapan di hati keluarga besar Yudhoyono, semoga sang anak pada saatnya nanti bisa nunggak semi (mewarisi) takdir sang kakek, menjadi pemimpin bangsa, atau minimal pemimpin perusahaan, atau pemimpin di lingkungan atau komunitas terdekat mereka.
Keluarga inti Yudhoyono juga memilih saat (waktu) baik bagi awal kehidupan Almira di dunia. Keluarga presiden memilih tanggal bersejarah 17 Agustus bagi kelahiran Almira. Kenapa dikatakan memilih, karena Almira dilahirkan lewat operasi Cesar.
Sisi supranatural lain yang diyakini keluarga ini, kelahiran tersebut juga mengandung angka baik, delapan (8). Lahir bulan delapan, tahun nol delapan, dengan berat dua koma delapan delapan kg dan panjang empat puluh delapan koma delapan delapan Cm. Ajaib, tergantung dari sudut mana kita memandangnya.
Namun demikian, kelahiran Almira sangat disyukuri dan dipahami bakal membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi Presiden. Presiden mengaku, cucu pertamanya itu mampu membawa nuansa lain dalam kehidupannya. "Alhamdulillah saya sekeluarga mendapat anugerah dari Allah SWT, karena telah lahir cucu pertama kali tadi pagi," ujar Presiden usai memimpin upacara kebesaran HUT ke-63 RI di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (17/8).
Presiden kita keenam ini sangat berharap rasa syukur keluarga besarnya bisa menjadi pendorong semangat kerjanya. Sehingga dirinya mampu menyelesaikan masa tugas sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan dengan baik hingga akhir masa jabatannya. "Semoga apa yang kami terima ini lebih meningkatkan semangat kami sekeluarga menunaikan tugas hingga akhir masa bhakti tahun depan," sambung SBY didampingi istrinya Ny Ani Yudhoyono, Wapres JK (Jusuf Kalla) dan Ny Mufidah Kalla.
Di penghujung kepemimpinanya, beban SBY memang cukup berat. Banyak sorotan negatif ditujukan pada era kepemimpinanya. Beberapa kalangan menyatakan SBY belum berhasil memenuhi janjinya membawa Indonesia ke jenjang yang lebih baik.
Mungkinkah nama Presiden ikut berpengaruh dalam alur kepemimpinannya? Presiden pertama Soekarno seringkali disebut Bung Karno. Nama tersebut diuthak-athik sebagai bongkar, jadi masa kepemimpinannya diwarnai bongkar-bongkar untuk mempersiapkan pondasi bangunan negara dan bangsa ke arah yang lebih baik.
Presiden kedua, Soeharto, terkenal pandai menghimpun harta kekayaan. Barangkali hingga anak- cucu sampai tujuh turunan, kekayaan Su (baik) Harto (harta) tidak akan ada habisnya. Bagaimana dengan presiden-presiden sesudahnya? Kita bisa memaknainya sendiri-sendiri dengan versi kita masing-masing.
Namun terkait nama Presiden sekarang ini, rasanya ada satu hal yang kurang umum. Biasanya nama Bambang diletakkan di depan. Misal, Bambang Permadi, Bambang Susetyo, Bambang Maladi, dan lain-lain. Untuk SBY, nama Bambang diletakkan di urutan kedua, Susilo Bambang.....
Bambang sendiri bisa mengandung makna baik, Susilo (sila atau kelakuan atau tabiat baik) Yudhoyono (mungkin bisa diartikan pahlawan atau medan pertempuran). Seorang pakar kiratabahasa pernah mengatakan, singkatan nama SBY kalau dieja dalam bahasa sunda maknanya kurang bagus. Esbeyes. Artinya es mencair. Itulah makanya di saat awal-awal kepemimpinan SBY dan mungkin sampai saat ini bencana alam banjir seringkali terjadi.
Mungkinkah ada keterkaitan? Ah....lebih baik lupakan saja. Apalah arti sebuah nama.
Pasrah dan selalu berbuat baik serta berdoa tekun, tentu akan membuat berkah-Nya selalu tercurah buat kita semua. ***



--------------------------------------------------------------------------



* Catatan Tambahan:

Di bawah ini artikel yang pernah dimuat Kompas Senin, 31 Juli 2006. Semoga memberi inspirasi pada kita semua


Hati-hati Memberi Nama Anak


ORANGTUA di Malaysia tak akan bisa lagi memberi anak-anak mereka nama yang dianggap tak pantas oleh pemerintah.
Menurut The New Straits Times, Minggu (30/7), Pemerintah Malaysia tak akan mengizinkan lagi dipakainya nama-nama yang memiliki arti tak baik dalam bahasa ketiga kelompok etnik utama negeri itu.
Penduduk Malaysia yang berjumlah 26 juta jiwa terdiri dari kelompok Melayu (60 persen), China (26 persen), dan India (8 persen). Menurut harian terbitan Kuala Lumpur tersebut, juru bicara Departemen Pendaftaran Nasional Malaysia Jainisah Noor menyatakan, pihaknya punya daftar nama yang disusun berdasarkan masukan berbagai kelompok budaya dan agama.
"Kami hanya membantu menyebarluaskan informasi yang dimiliki," kata Jainisah. Zani dan Woti adalah dua nama Melayu yang masuk dalam daftar nama terlarang karena " zani" berarti laki-laki pezinah dan "woti" artinya hubungan intim. Bagi orang India, nama Karrupan, yang artinya si hitam, juga tak boleh dipakai. Masih kata Jainisah, orangtua tak boleh menamai anak dengan nama-nama warna, binatang, serangga, buah-buahan, atau sayur-sayuran.
Dulu, sebagian orang China biasa memberi anak mereka nama yang buruk agar ia selalu beruntung dan tak diganggu roh jahat. Kini nama China Kanton, seperti Ah Kow, yang artinya anjing, atau Ah Gong (jiwa yang tak waras), juga dilarang.
Nama-nama China lain yang pantang dipakai termasuk Chow Tow dan Sum Seng, yang masing-masing bermakna kepala yang bau busuk dan penjahat. Namun, lanjut Jainisah, "Orang tua yang tetap ingin memakai nama yang dilarang tetap boleh mengajukan permohonan ke departemen dan masih mungkin bisa dikabulkan." (AFP/Reuters/muk)




Komentar

Anonim mengatakan…
oh begitu ya...
Anonim mengatakan…
setuju deh
Anonim mengatakan…
Dari Dumai nih mas. Isi dan untaian kata-kata di dalam blog ini lebih menggambarkan pribadi dan ketertarikan mas dalam dunia marketting ya. Lembut, kalem, tapi berkepribadian dan berciri khas... Ceileh... Segitu aja tanggapannya mas...
Uwak Kebon mengatakan…
Jadi tersanjung deh. Tapi yang pasti tertarik pada kehidupan yang dinamis
edi_otoya mengatakan…
kalok udah banyak kaya mana kalok dibuat buku aja? kan mantap tuh. he he he.

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...