Langsung ke konten utama

Catatan Kehidupan

Tayangan Ulang Kehidupan

(Thanks to Hendro "Lentho" Rumpoko yang telah mengirimkan artikel ini)



SEPERTI biasa, adik saya, rajin mengirimkan email persoalan kehidupan ke email saya. Perhatiannya begitu besar terhadap upaya olah rasa dan karsa (hati dan tindakan) agar dalam menjalani kehidupan ini penuh tuaian keseimbangan.
Email yang dia kirimkan, Kamis (14/8/08) sore, memberikan sentuhan lain ke hati saya. Mencuil sepotong artikel James Redfield dari buku THE CELESTINE VISION dia mencubit kesadaran saya lagi tentang arti perjalanan kehidupan.
Artikel itu makin menguatkan saya bahwa hidup tidak sekedar singgah untuk minum (urip ora mung mampir ngombe). Tapi hidup memang harus benar-benar dimaknai agar lebih "hidup" di kehidupan di kemudian hari. Dunia-akhirat.
Berikut kutipan artikel tersebut:




TAYANGAN Ulang Kehidupan adalah salah satu aspek paling memukau dari
pengalaman menjelang kematian. Biasanya, banyak orang yang mengaku melihat seluruh kehidupan mereka melintas di depan mata, bukan seperti film, melainkan lebih seperti gambar-gambar hologram. Mereka melihat segala sesuatunya secara mendetail dan menyaksikan kehidupan mereka dinilai oleh diri mereka sendiri, bukan oleh orang lain. Seakan kesadaran mereka berkembang dan menyatu dengan kecerdasan sejati yang lebih besar.
Berdasarkan pemahaman yang lebih tinggi ini, orang-orang yang pernah menjalani pengalaman menjelang kematian berkata bahwa selama proses tayangan ulang itu berlangsung, mereka memahami berbagai keputusan buruk yang mereka ambil dan bagaimana mereka seharusnya menangani situasi-situasi tertentu.
Tayangan ulang itu sangat menyakitkan sekaligus luar biasa menyenangkan, tergantung apa yang mereka lihat. Ketika mereka melihat insiden saat mereka menyakiti perasaan seseorang, mereka benar-benar merasakan kesakitan yang dialami orang tersebut, seakan mereka berada di dalam batin orang lain. Mereka juga bisa melihat dan merasakan kebahagiaan dan cinta yang mereka timbulkan dalam diri orang lain dengan menjadi orang tersebut.
Karena empati yang mereka rasakan begitu dalam, kebanyakan orang yang pernah menjalani pengalaman menjelang kematian kembali dan menjalani hidup dengan tekad bulat untuk tidak mengulang kesalahan yang sama serta lebih banyak membantu orang lain. Setiap kalimat yang mereka ucapkan kepada orang lain, setiap interaksi dengan teman atau anak, setiap pikiran tentang orang lain, sekarang lebih bermakna karena orang ini tahu setiap tindakannya akan diulas dan ditayangkan kembali suatu hari nanti.
Sepertinya pada konteks tertentu kita sudah lama tahu soal Tayangan Ulang Kehidupan. Pasti sudah ada yang mendengar seseorang berkata, "Seluruh hidupku melintas di depan mataku" saat hampir saja dijemput maut. Tulisan-tulisan atau kitab suci yang menggambarkan penghakiman setelah mati juga pernah menyebutkan semacam Tayangan Ulang Kehidupan.
Namun sekarang kita semakin menyadari detail-detail pengalaman tersebut. Kita dihakimi ketika kita mati, namun sepertinya kita tidak dihakimi oleh Tuhan yang penuh dendam, melainkan oleh kesadaran sejati yang berhubungan dengan diri kita sendiri.
Saat informasi ini mulai diketahui secara luas, salah satu hasilnya adalah kita menjadi lebih berhati-hati dan memikirkan segala konsekuensi tidakan kita. Kita menjadi lebih sadar kenapa kita harus menyemangati orang lain.
Mungkin penilain kita masih simpang-siur, namun sekarang kita bisa berhenti dari waktu ke waktu dan mengkaji kehidupan kita, membayangkan melihat lebih awal Tayangan Ulang Kehidupan dalam benak kita. Menurut saya, kita akan sadar inilah proses pertobatan yang sesungguhnya.......















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...