Langsung ke konten utama

NgosekAti



Mencari Kebenaran dari Sejarah

oleh : RHR Dodi Sarjana


Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa pahlawannya


JAS MERAH. Jangan sekali-kali meningalkan sejarah. Akronim itu begitu populernya sejak dilontarkan proklamator kemerdekaan Indonesia Soekarno, hingga saat ini. Apa yang menjadi harapan Soekarno dengan Jas Merah-nya cukup jelas, bahwa sebagai manusia yang mencintai hidup kita tidak bisa meninggalkan masa lalu.
Tentu maksudnya bukanlah sekadar untuk bernostalgia. Namun dengan mengingat, mengenang, dan melakukan perjalanan kembali ke masa lalu, kita bisa belajar mengenai kehidupan dan hidup untuk menyongsong kehidupan ke depan agar lebih baik lagi.
Dengan melihat jejak langkah ke belakang, kita bisa mengetahui kesalahan yang pernah kita goreskan sekaligus bisa merunut kesuksesan, keberhasilan atau kebaikan yang telah kita torehkan bersama. Melihat kesalahan dan kegagalan, sudah pasti bukan untuk menyesalinya dan menangisinya. Melihat kesalahan adalah untuk belajar agar tidak mengulanginya kembali.
Ada slogan animal yang cukup menggelitik dan tak gampang dilupakan. Keledai saja tidak akan terperosok untuk keduakali dalam lubang yang sama. Kita semua tahu, hewan keledai, selama ini, diasumsikan dengan dunia kebodohan. Keledai dianggap hewan dungu yang hanya bisa menuruti perintah saja.
Jika hewan yang selama ini dianggap tidak mempunyai kemauan sendiri dan bodoh, mampu untuk tidak mengulang kesalahan, tentu manusia yang dianggap mahluk lebih tinggi derajatnya akan mampu bertindak lebih baik dan sempurna dibanding keledai. Keledai mampu belajar dari sejarah masa lalunya, manusia tentu lebih pandai lagi .
Saat ini momentum untuk belajar kembali dari sejarah muncul seiring dengan pangakuan Andaryoko Wisnu Prabu sebagai pahlawan PETA (Pembela Tanah Air) Supriyadi yang puluhan tahun lalu dikabarkan hilang.
"Supriyadi" Andaryoko, tokoh pemberontakan pasukan PETA melawan tentara Dai Nippon ini, menunjukkan keberadaannya Sabtu (8/8/2008). Pejuang kemerdekaan itu muncul dalam sebuah acara peluncuran buku di Toko Buku Gramedia Semarang, Jalan Pandanaran. Buku yang dibedah juga terkait dirinya, 'Mencari Supriyadi, Kesaksian Pengawal Utama Presiden', tulisan sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Baskara T. Wardaya
Supriyadi sempat diwawancarai wartawan Jerman. Dia mengaku dirinya tidak mati atau hilang. Usianya sudah sangat lanjut, yakni sekitar 89 tahun. Menurut pengakuannya, untuk menghindari penangkapan tentara Jepang, dia mengganti nama. Saat bertemu Bung Karno di Pegangsaan Timur No 56, Supriyadi diminta pergi ke Semarang. Dia harus menemui Wakil Residen Semarang, Wongsonegoro.
"Saya diterima menjadi staf Kantor Residen Semarang. Nama saya diganti menjadi Andaryoko," kata Supriyadi seperti dikutip detik.com
Sejak memulai hidup di Semarang, Supriyadi memelihara kumis. Meski punya nama baru, di Jakarta, dia tetap dikenal sebagai Supriyadi.
Kemunculan "Supriyadi" Andaryoko sudah pasti membawa banyak kontroversi. Dengan versinya, Supriyadi yang ini menceritakan realita-realita yang lain tentang sejarah masa lalunya, berbeda dengan sejarah yang selama ini dibaca dan didengar orang.
Soal naskah proklamasi misalnya. "Supriyadi" Andaryoko mengatakan konsep naskah proklamasi yang baru berupa coretan tangan sempat diremas-remas tangan oleh Sayuti Melik. Setelah ditik dan dianggap tak berguna lagi, Sayuti membuangnya ke tempat sampah. Namun Bung Karno yang ingat akan konsep itu menanyakan kembali sehingga naskah dipungut dan disterika ulang hingga akhirnya
disimpan Bung Karno
Sementara versi yang selama ini kita ketahui, BM Diah-lah yang menyadari pentingnya arti hostoris naskah tersebut. Seperti ditulis sejarawan Nina Lubis, Diah memungut naskah coretan proklamasi dan diam-diam menyimpannya sendiri. Baru pada 19 Mei 1992, BM Diah menyerahkan naskah itu pada negara yang diterima sendiri oleh Presiden Soeharto.
Masih banyak pengakuan "Supriyadi" Andaryoko yang lain yang sangat berbeda dengan kisah yang saat ini beredar di permukaan. Bahkan soal Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dia juga mempunyai versi tersendiri yang berbeda sama sekali.
Mencoba mendalami kisah "Supriyadi" Andaryoko, tentunya tidaklah sekadar untuk menguak sosok Supriyadi yang sebenar-benarnya. Menelusuri Supriyadi ini adalah untuk menguak kebenaran yang terjadi di masa lalu. Meluruskan sejarah yang barangkali ada yang terbengkokkan sekaligus mempelajarinya sungguh-sungguh agar ke depan kita tidak tergelincir lagi oleh kesalahan yang sama.
Menyambut kemunculan Supriyadi, yang pasti dan sebaik-baiknya, bukanlah untuk makin mengkultuskan tokoh yang bersangkutan. Murca atau sirnanya sosok Supriyadi selama ini begitu kuat muatan supranaturalnya. Sehingga dengan kehadirannya, diharapkan mampu menyingkap tabir misteri yang selama ini menyelimuti tokoh tersebut.
Dengan kehadiran Supriyadi asli nantinya, biarkan semuanya menjadi jelas dan terang. Biarkan kebenaran masa lalu muncul ke permukaan, sehingga kita bisa belajar darinya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa belajar dari sejarah masa lalunya. ***

Komentar

Anonim mengatakan…
Very fine......

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...