Langsung ke konten utama

Makna Nomor


Makna Nomor dan Aura Pemimpin
Oleh:
RHR Dodi Sarjana

Satu jumpa satu, dua jadinya. Dua yang setuju bersatu jadinya. Semua bersatu, mari membangun negeri

ANGKA. Diyakini banyak orang membawa makna. Angka satu tentu berbeda dengan angka sembilan atau angka sepuluh yang kalau ditulis sebenarnya tetap mengandung angka satu (satu dan nol/1 & 0 = 10).
Angka kecil, kata semua orang di dunia, menunjukkan urutan terbaik. Sang juara disebut nomor satu. Juara setelah nomor tiga, selalu disebut juara harapan. Begitu seterusnya, dan yang keberuntunganya "kecil" seringkali hanya disebut masuk sepuluh besar atau lima besar.
Itu baru soal urutan, belum lagi kalau "dihitung" secara njlimet ala nuansa paragnos atawa supranatural. Persoalannya pasti berbeda dan lebih berwarna lagi. Macam-macam penafsiran akan muncul terkait angka-angka tersebut.
Angka satu bisa dimaknai satu rasa, manunggal, punya pendirian. Angka dua, dari sisi positifnya juga mengandung kebaikannya sendiri. Dua ibarat hakikat kehidupan ini, ada laki dan perempuan, ada siang dan malam, ada kebaikan dan kejahatan. Jadi dua seolah sempurna.
Angka tiga juga tidak kalah bagusnya. Tiga ibarat timbangan; ada yang ditengah sebagai penyeimbang dan dua di sisi kanan kirinya. Mendapat anugerah angka tiga, bisa dimaknai akan mampu membawa keadilan. Demikian pula untuk angka-angka berikutnya; empat, lima, dan seterusnya punya kebaikan masing-masing.
Membicarakan kemungkinan-kemungkinan di balik angka tidak akan ada habisnya. Bahkan akan mendorong munculnya perdebatan seru. Namun yang pasti setiap angka tetaplah membawa keberuntungan bagi masing-masing orang.
Contohnya angka 13. Meski saat ini banyak yang menyakini angka tersebut pembawa sial, tapi bagi orang-orang tertentu, angka tersebut katanya justru membawa keberuntungan.
Persoalan angka, lagi-lagi menjadi perbincangan menarik menyusul penetapan nomor urut partai politik peserta Pemilu (Pemilihan Umum) dan pasangan calon peserta Pilgub (Pemilihan Gubernur).
Wiranto yang partai Hanura-nya mendapat nomor satu, menyatakan beruntung karena nomor satu akan mudah diingat. Sementara PKB yang mendapat nomor urut 13 tidak khawatir akan mendapat masalah. Partai ini justru menyatakan angka tersebut akan membuat mereka beruntung.
Demikian pula partai-partai lain, meski dalam hati kecil pengurusnya ada yang tidak sreg (nyaman) dengan angka urutannya, namun ekspresi mereka tetap menyatakan keoptimisannya dengan angka yang mereka peroleh.
Mau tidak mau mereka harus menerima angka yang sudah dipilihnya, dan menyakininya ada sisi-sisi keberuntungan yang dibawa angka-angka tersebut.
Soal nomor urut, Senin (21/7/08), juga menjadi penantian dan perhatian utama masyarakat Riau. Dalam rapat pleno terbukanya, KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah) Riau menetapkan nomor urut 3 pasang calon gubernur dan wakilnya. Ketiga pasangan itu bakal berebut sekitar 3,2 juta suara masyarakat Riau.
Pasangan Chaidir-Suryadi Khusaini yang diusung PDI Perjuangan dan PBB ini mendapat nomor 1. Calon Gubernur dari pasangan yang akrab disebut CS ini adalah mantan Ketua DPRD Riau dan sebenarnya sebagai kader Golkar. "Coblos Satu," kata Chaidir seolah mempadupadankan CS sebagai Coblos Satu.
Pasangan Rusli Zainal-Mambang Mit (RZ-MM) mendapat nomor urut 2. Pasangan ini diusung Partai Golkar, PPP, PBR, dan PKB. Rusli adalah incumbent dan menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Provinsi Riau. Sedangkan Mambang Mit sebagai Ketua Korpri Riau merupakan mantan Sekda Provinsi Riau. "Itu angka dari Tuhan," kata Rusli mengomentari nomor urutnya.
Rusli memang tidak memilih nomor itu, karena kebutulan dia datang terakhir, sehingga dia hanya mendapatkan "sisa" angka saja. Namun yang pasti, angka dua kata Rusli angka di tengah. Jadi bisa membuat penyimbang (keadilan) bagi warga pemilih.
Sedangkan mantan Bupati Inhu Thamsir Rachman dengan pasangannya Ketua DPW PAN Riau Taufan Andoso mendapat nomor urut 3. Pasangan ini dikenal masyarakat dengan julukan Tampan. Akankah nomor urut 3 akan membuat nasibnya se-tampan singkatan namanya? Waktu nanti yang akan membuktikannya.
Bagaimanapun nomor 1, 2, dan 3 sudah diputus siapa pemiliknya. Masing-masing pasangan pemilik nomor tersebut suka-tidak suka, mau-tidak mau, harus menyakininya sebagai nomor keberuntungan masing-masing.
Yang pasti, dalam kiprah kampanye nanti, mereka justru dituntut untuk membuat nomor urut tersebut menjadi lebih beraura. Mereka harus bisa menyakinkan masyarakat bahwa nomor yang mereka punyailah yang cocok untuk dicoblos nantinya.
Seribu satu cara mungkin sudah direncanakan tim sukses peserta pilkada guna memikat calon pemilih. Daftar "janji kampanye" mungkin telah diketik rapi. Tinggal disuarakan. Atraksi unik hingga "nakal" pasti telah dipersiapkan. Intinya, para pemilih akan dirayu. Rayuan siapa yang paling manjur? Terlalu dini menjawabnya sekarang.
Ratusan bahkan ribuan simpatisan dihadirkan tim sukses guna membangun psikologis masyarakat akan kuat dan hebatnya calon pemimpin yang diusung. Membentuk psikologi massa pemilih akan kekuatan dan kehebatan calom pemimpin di satu sisi mungkin efektif. Tapi di sisi lain, kampanye yang tak terkontrol dan buruk bisa mempengaruhi dan menciptakan persepsi buruk masyarakat terhadap calon tersebut.
Perlu kita ingat, kampanye pada dasarnya adalah bagaimana memenangkan hati masyarakat dengan memberi contoh yang baik. Karenanya tim sukses dan calon pemimpin ditantang untuk kembali membangun optimisme masyarakat bahwa calon pemimpin yang bersangkutan dapat dipercaya. Kampanye bisa dijadikan langkah awal. Bukan ajang sesumbar.
Sementara nomor urut, tetaplah nomor. Dia akan memberikan makna baik jika pembawanya juga berkelakuan baik.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...