Langsung ke konten utama

Cabul Temannya Porno




Mencabuli Dunia Pendidikan
Oleh: RHR Dodi Sarjana



Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Guru kencing berlari, murid kencing sambil menari.


COBALAH tengok Kamus Umum Bahasa Indonesia, susunan W.J.S. Poerwadarminta. Buka pada bagian huruf C, lalu cari kata-kata Cabul. Menurut kamus tersebut, Cabul artinya keji dan kotor (spt melanggar kesopanan); perbuatan yang buruk (melanggar kesusilaan); berbuat --, berbuat tidak senonoh (melanggar kesusilaan); gambar (bacaan) --, gambar (bacaan) yg melanggar kesusilaan; perempuan --, perempuan lacur:
Selesai!? Sekarang giliran buka Kamus Inggris Indonesia bikinan John M. Echols dan Hassan Shadily. Pada huruf P, carilah kata-kata Pornography kb. 1. kecabulan. 2 porno, gambar/bacaan cabul.
Dua kata tersebut, akhir-akhir ini begitu sering dipergunakan dalam kosa-kata di media. Tentu yang pertama menyangkut disahkannya RUU Antipornografi dan Pornoaksi. Dan yang kedua, ini sangat memprihatinkan kita, seringnya kedua kata tersebut muncul dalam pembicaraan, karena akhir-akhir ini ternyata lagi marak aksi porno dan pencabulan.
Masyaallah! Aksi porno dan pencabulan yang tengah santer jadi pembicaraan orang beberapa hari terakhir ini, ternyata menyangkut sosok guru yang seharusnya digugu dan ditiru (dipatuhi dan dicontoh).
Si guru Erwin Ronaldo, di Tapanuli Tengah Sumatera Utara (Sumut), melakukan dosanya di depan murid-muridnya. Entah setan apa yang sedang merasuki otak Erwin, dengan teganya memaksa dua siswinya melakukan oral seks, di depan kelas.
Aksi guru sebuah sekolah di Riau, seolah melengkapi aksi buruk rekannya dari Sumut dalam mengikis nama baik guru di mata masyarakat kita. Bersama rekan-rekan "sepermainannya", dia melakukan aksi preman asmara terhadap pasangan muda-mudi yang tengah memadu kasih.
Mereka mengintip pasangan yang sedang berpacaran, lalu mengintimidasinya, menelanjangi mereka dan akhirnya memeras meminta uang. Ancamannya, jika mereka tidak memberikan uang, maka foto bugil pasangan tersebut akan disebarluaskan.
Duh...dunia nampaknya memang sedang dilanda sakit...!?
Erwin yang seharusnya memberikan teladan baik kepada siswanya, justru memberikan contoh bejat. Lalu, apa jadinya dengan peribahasa "guru kencing berdiri, murid kencing berlari"? Akankah semakin terealisasi? Kita bisa membayangkan betapa mengerikann akibat buruknya nanti.
Bayangan mengerikan akan kondisi bangsa ini pun makin mengental. Upaya pembatasan meluasnya aksi porno dengan menelorkan undang-undang antiporno sertinya hanya akan menembus ruang kosong belaka.
Pencabulan dan porno yang kelahirannya seumur dengan keberadaan manusia di bumi ini, bak penyakit menular yang tak gampang dibasmi. Ibarat menangani penyakit, keberadaan undang- undang anticabul dan porno, hanyalah mengobati saja. Bukan melakukan pencegahan sejak dini.
Memerangi pencabulan dan aksi porno akan sukses jika bertamengkan isu moral dan bersenjatakan budi pekerti. Dengan menanamkan budi pekerti sejak dini, baik lewat sekolah dasar maupun keluarga, penularan pencabulan dan porno aksi akan bisa dikikis.
Dua perilaku oknum guru di atas, sudah cukup membuktikan dan memberi gambaran betapa bangsa ini tengah menghadapi krisis kehidupan. Jika relung pendidikan sudah tercemari virus seperti itu, bagaimana dengan output yang dihasilkannya?
Sungguh kita membutuhkan guru yang bisa membimbing kita memahami secara utuh konteks kehidupan, baik lewat keberagaman kultur, etnis, dan agama. Kita merindukan sosok yang bisa merajut kembali nilai-nilai kesopanan dan budi pekerti yang berperikemanusiaan.
Ayo guru bangsa yang berada di dunia pendidikan, guru bangsa yang ada di dunia politik, di pemerintahan, dan di mana saja, kamu bisa memberi contoh yang lebih baik. Yes...you can!!

Pangeling-eling:
Cabul = Cacat Budi Luhur
Porno = Pikiran Orang Norak
(foto ilustrasi diambil dari situs di internet)

Komentar

Anonim mengatakan…
Ya gitu deh, itu satu contoh krusial mental ala Dr.Jekyll and Mr.Hyde
Anonim mengatakan…
Dunia makin kolaps bo!
Yang waras jadi edan, tang edan makin gak karu-karuan. Alamak...dunia mau kiamat

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...