Langsung ke konten utama

Ajakan Boikot Media




KRITIK Sekretaris Kabinet Dipo Alam, ada media yang terkesan hanya menjelek- jelekkan pemerintah menjadi bahan introspeksi bagi kita semua.
Dipo Alam menyebut tiga media massa yakni Metro TV, TV One dan Media Indonesia, menyebarkan berita kebencian pada pemerintahan. Mengkritik pemerintah boleh saja, namun jangan sampai menyebarkan kebencian, katanya.
Namun sayang Dipo tidak hanya mengkritik saja, dia juga menyatakan media tersebut selayaknya diboikot. Bahkan jelas-jelas Dipo menyebutkan pemerintah akan memboikot ketiganya.
Dalam era keterbukaan seperti saat ini, pelarangan atau ajakan boikot tentu kurang tepat. Sepertinya, dengan keputusan itu kita akan kembali lagi ke massa lalu, di mana kebebasan pers dipasung.
Di masa Orde Baru, rakyat tidak boleh menyuarakan isi hatinya yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah. Pers dikebiri sehingga tidak mampu menjadi salah satu pilar demokrasi dan sebagai alat kontrol pemerintah.
Namun di sisi lain, media memang tidak bisa hanya berlindung di balik kebebasan pers, untuk hal-hal yang tidak benar. Pers tetap harus mengedepankan independensi dan tanggungjawabnya. Pers harus tetap berimbang dengan mengakomodasi semua pihak yang terlibat. Dan yang lebih penting lagi, pers harus mengabdi kepada kebenaran.
Dalam menyajikan berita, media tetap perlu memberikan ruang kepada pihak-pihak yang terkait dalam pemberitaannya. Jika hanya mengakomodasi kepentingan satu pihak saja, maka media yang bersangkutan sudah terjebak pada kepentingan individu atau kelompok tertentu.
Menanggapi berita yang dianggap menyerang pemerintah, Dipo Alam selanyaknya tidak membalasanya dengan "menyebarkan" kebencian pula dengan mengajak memboikot media bersangkutan
Sebagai salah satu unsur pimpinan bangsa, Dipo seharusnya memberikan contoh dengan mempergunakan jalur yang benar untuk menyelesaikan masalah. Dia bisa melaporkan hal itu ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan biarkan KPI yang memproses apakah benar ada materi yang menyiarkan kebencian.
Sebenarnya, apa yang disampaikan Dipo Alam juga masih belum jelas. Dipo tidak merinci informasi mana yang mengandung muatan kebencian. Dan perlu pembuktian di mana letak muatan kebencian tersebut.
Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD pun menyatakan kesedihannya mendengar pernyataan Seskab Dipo Alam yang akan memboikot media yang menjelekkan pemerintah.
Menurut Mahfud, memperjuangkan kebebasan pers membutuhkan waktu cukup lama. Kalau hanya beda pendapat lalu mengajak boikot apalagi resmi institusional, hal itu sangat mengecewakan dan menyedihkan.
Pers dan pemerintah ibaratnya adalah dua sahabat. Sebagai sahabat yang baik, mencubit juga mengelus. Kalau media salah, jalurnya jelas, ada Dewan Pers dan Komisi Penyiaran
Kita berharap statemen Dipo tidak kotraproduktif dengan ucapan Presiden SBY. Presiden dalam hari pers menyatakan pujiannya pada pers dan menganggap perlu adanya pers yang kritis. ****


Foto: Dipo Alam (Tribunnews)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...