Langsung ke konten utama

Amuk Massa Salah Siapa




AKHIR-akhir ini, kita kerap kali disuguhi berita dan tayangan tentang amuk massa. Di beberapa wilayah tanah air, tak jarang amuk massa disebabkan persoalan sepele. Namun warga atau rakyat dengan mudahnya tersulut emosinya.
Amuk massa juga kerap disulut oleh persoalan laten, kecemburuan sosial. Dan tidak jarang pula, amuk massa juga digerakkan untuk kepentingan politik atau kepentingan kelompok, atau kepentingan yang lainnya.
Yang lebih menyakitkan lagi, amuk massa seringkali juga ditunggangi kelompok massa yang mengatasnamakan agama. Agama seolah-olah dibuat main-main untuk melegitimasikan kepentingan mereka. Menyedihkan.
Berita amuk massa, juga terjadi di wilayah Riau. Rabu (23/2/2011) malam, ribuan warga menyerang Markas Polsek Kampar di Air Tiris. Markas Polsek porak-poranda. Rusak dilempari massa dengan bebatuan dan benda keras lainnya.
Kaca-kaca pecah, dua sepeda motor dirusak, begitupula televisi yang ada di ruang jaga. Menurut kabar, tindakan anarkis tersebut dipicu oleh peristiwa salah tangkap dan main pukul tiga oknum polisi terhadap seorang warga dengan tuduhan menjual kupon judi sie jie.
Meski tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden tersebut, tetap saja peristiwa itu merugikan dan memalukan. Kantor polisi sebagai "simbol" pengayom keamanan dan kewibawaan keamanan negara, telah dinistakan.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, mengapa warga menjadi demikian kalap dan nekad melakukan aksinya? Adakah yang salah dengan perilaku warga, ataukah ada susuatu yang tidak pas dengan aparat keamanan kita, saat ini, hingga harus ada peristiwa seperti itu?
Warga atau rakyat, saat ini, seolah gampang tersulut emosinya.Tentu kondisi ini tidak muncul begitu saja dengan sendirinya. Banyak faktor yang membuat massa emosional dan dengan mudahnya mengumbar amarah.
Dalam perspektif gejala sosial, perilaku anarkis bisa didorong oleh mulai turunnya tingkat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah atau aparat keamanan. Kepentingan masyarakat, selama ini, jarang terakomodasi dan bahkan seringkali mereka hanya menjadi objek penderita saja.
Ambil contoh dalam kasus Kampar ini, insiden penyerangan dipicu sikap arogan tiga polisi saat menangkap Zulkifli (27), seorang pedagang di Pasar Air Tiris, dengan tuduhan menjual kupon judi sie jie. Tidak hanya menangkap, ketiga polisi tersebut ternyata juga melakukan penganiayaan terhadap korban yang dinilai melawan karena tidak mengakui perbuatannya.
Ketidakpercayaan warga terhadap aparat keamanan, terlihat jelas pula saat Kapolres Kampar AKBP AZ Muttaqien menyampaikan permohonan maaf, sembari menyatakan ketiga polisi sudah diamankan di Markas Polres Kampar. Warga tidak percaya dan tetap menuntut ketiga polisi dihadirkan di hadapan mereka.
Amuk massa atau keberingasan massa lainnya yang juga terjadi di pelosok tanah air kita, hendaknya menjadi pembelajaran kita semua, terutama pemerintah. Agar kepercayaan masyarakat pada aparat keamanan dan hukum kita muncul kembali, pemerintah harus berani melakukan tindakan tegas kepada siapa saja yang melanggar hukum.
Selama ini, pemerintah terkesan tebang pilih dalam menyelesaikan kasus atau persoalan yang berkaitan dengan hukum. Peristiwa korupsi dibiarkan berlarut-larut. Kasus mafia hukum dan pajak yang melibatkan orang-orang penting di tanah air dibiarkan berlalu begitu saja.
Penangananan kasus hukum yang melibatkan orang-orang besar dan penting di tanah air, tidak pernah tuntas diselesaikan. Sementara kasus hukum yang melibatkan rakyat kecil, dengan mudahnya diputuskan tanpa melihat aspek kemanusiaan.
Tengok saja kasus seorang nenek yang dituduh mencuri tiga biji kakao, atau pencuri buah di suatu perkebunan diganjar hukuman hampir sama lamanya dengan hukuman seorang koruptor.
Kerusuhan di Kampar mengundang keprihatinan Gubernur Riau Rusli Zainal. Gubri berharap masyarakat Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar dan seluruh masyarakat Riau, jangan mengambil tindakan anarkis dalam menyelesaikan persoalan.
Rusli meminta, seluruh masyarakat Riau, khususnya masyarakat di Kabupaten Kampar, agar dapat tenang dan tidak terpancing untuk melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Serahkan semua persoalan kepada proses hukum yang berlaku. Mari kita tetap menjaga suasana kondusif di tengah masyarakat dengan menjunjung tinggi nilai adat dan marwah melayu, kata Rusli.
Lebih dari itu, ada hal yang lebih penting lagi, yakni Gubri sebaiknya juga meminta seluruh jajaran pejabat dan aparat keamanan di Riau untuk bisa memberikan contoh perilaku yang baik bagi rakyatnya. Pejabat dan aparat hendaknya bisa bersikap melayani dan mengabdi pada kepentingan rakyat agar kepercayaan rakyat timbul kembali.
Soal layan-melayani ini, tentu tidak hanya untuk aparat dan pejabat di lingkungan Riau saja, namun juga berlaku untuk aparat dan pejabat di seluruh wilayah Indonesia. ****

(Foto: Republika.co.id)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...