
LOWONGAN pekerjaan menjadi pegawai negeri sipil, menjadi incaran banyak orang. Di Indonesia, setiap tahunnya, masyarakat pencari kerja selalu berebut untuk mengisi lowongan pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil yang ditawarkan.
Saking berminatnya masyarakat, sampai-sampai mereka tidak mempedulikan lagi job atau bidang pekerjaan yang ditawarkan. Asal memenuhi syarat, maka halangan apa pun akan diterobos agar menjadi pegawai negeri.
Predikat sebagai pegawai negeri, di tanah air ini, memang seolah menjadi magnet tersendiri. Banyak kalangan yang beranggapan belum bekerja jika belum masuk menjadi pegawai negeri. Dan bagi banyak orang tua, jika sang anak diterima sebagai pegawai negeri merupakan kebanggan tersendiri.
Bahkan terkadang seseorang atau orangtua berani berkorban apa saja demi sang anak atau agar dirinya sendiri masuk menjadi pegawai negeri. Upaya dari yang irasional sampai yang rasional pun selalu ditempuh asal menjadi pegawai negeri.
Bangsa Indonesia memang juga terkenal sebagai bangsa yang percaya akan sesuatu yang irasional atau ghaib. Maka tidaklah mengherankan jika ada sebagian masyarakat yang pergi ke dukun atau paranormal agar bernasib baik dan diterima menjadi pegawai negeri.
Sementara bagi sebagian masyarakat yang terlalu "rasional" juga tidak segan-segan melakukan jalan pintas untuk memperoleh predikat sebagai pegawai negeri. Mereka berani melakukan apa saja, mulai dari praktik suap maupun mencoba menembus lewat perantaraan calo.
Menjadi pegawai negeri memang sesuatu yang menggiurkan. Selain menerima gaji dan secara berkala mengalami kenaikan gaji, pegawai negeri juga mendapat hak dana pensiun. Jadi ketika nantinya sudah tidak bekerja lagi dan harus beristirahat karena faktor usia, yang bersangkutan masih tetap menerima "gaji" berupa uang pensiun yang diterima setiap bulan.
Terkait upaya masyarakat masuk menjadi pegawai negeri, ada pendapat yang populer tersebar ke tengah-tengah masyarakat. Pendapat ini menyatakan, jika saja saat masuk sudah mempergunakan uang sebagai pelicin, maka hal itu akan merangsang yang bersangkutan untuk "mencari" uang kembalian saat bertugas nantinya.
Uang kembalian yang dimaksudkan bisa didapat lewat praktek korupsi atau yang lainnya. Sudah pasti, budaya itu bisa juga membuat yang bersangkutan saat bekerja tidak maksimal. Selalu berhitung untung rugi di saat akan melakukan tugas kantor. Atau celakanya, menjadi malas bekerja karena merasa sudah membayar banyak untuk jabatan dan perkerjaannya.
Semangat masuk menjadi pegawai negeri sebenarnya hal yang positif. Namun akan menjadi melenceng disaat mengupayakan pekerjaan tersebut dibarengi praktek-praktek curang, semisal menyuap atau lewat calo.
Praktek percaloan pegawai negeri, baru-baru ini juga terkuak di Pekanbaru Riau. Tiga orang merasa ditipu oleh seorang oknum dosen sebuah perguruan tinggi ternama di Pekanbaru. Ketiganya telah menyetorkan uang sejumlah Rp 130 kepada seorang oknum dosen dengan iming- iming masuk menjadi pegawai negeri.
Uang itu mereka berikan sebelum pelaksanaan tes CPNS pada November 2010 lalu. Saat uang diserahkan, ketiganya sempat membuat surat perjanjian dengan sang caloadi atas materai. Surat itu berisi jaminan bahwa mereka akan diterima sebagai CPNS dengan syarat mereka nantinya kembali menambah setoran sebesar Rp 100 juta
Namun apa lacur, hingga pengumuman bulan lalu, nama ketiganya tidak pernah muncul dalam pengumuman penerimaan pegawai negeri.
Kalau begini siapa yang salah? Mereka semuanya salah; baik pencari kerja maupun yang memberi iming-iming diterima. Namun di samping itu, pemerintah juga andil salah karena menciptakan peluang dan budaya yang tak sehat dalam proses penerimaan pegawai negeri. ****
(foto: antre melihat pengumuman cpns/tribunnews.com)
Komentar