
INIKAH potret pemimpin kita? Menimpakan kesalahan kepada rakyatnya, ketika ada tudingan atau penilaian negatif dari negara lain yang diarahkan kepadanya? Semoga saja, pernyataan salah satu petinggi kita ini tidak mewakili kondisi pemimpin kita secara umum, namun hanya sekolompok atau syukur-syukur hanya mewakili pribadinya belaka.
Pahlawan devisa kita, "duta" atau wakil rakyat Indonesia di luar negeri, menurut salah pemimpin kita ini, makin memperburuk citra Indonesia di mata dunia. Menurutnya, perilaku dan kemamupuan kerja para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berada di luar negeri sangat memalukan.
Dari sudut pandang pemimpin kita ini, kurangnya kemampuan itu bersumber dari individu TKI yang bersangkutan. Bukan karena biro yang mengirimkannya atau pemerintah yang tidak siap dan sigap mempersiapkan tenaga kerja yang mumpuni.
Adalah Ketua DPR Marzuki Alie yang meminta Menaketrans untuk menyetop pengiriman tenaga kerja wanita (TKW) pekerja rumah tangga ke berbagai penjuru dunia. Dia menilai, TKW mencoreng citra Indonesia di luar negeri.
Marzuki menilai kualitas pembantu rumah tangga Indonesia yang bekerja di luar negeri sangat buruk, sehingga membuat citra Indonesia tercoreng di luar negeri. Alhasil Indonesia terkesan sebagai negara yang sangat miskin.
Dengan kesan sebagai negara miskin ditambah lagi kemampuan kerja yang tidak bagus, membuat tenaga atau pegawai profesional dari Indonesia dibedakan standar gajinya dengan pekerja profesional negara lain.
Meski mengaku sebagai pendapat pribadi, sebaiknya statement itu tidak dikeluarkan Marzuki. Dia musti tetap ingat, statusnya sebagai Ketua DPR tidak akan pernah bisa dilepaskan darinya dimana pun dan kapan pun juga.
Sebagai elemen dari pimpinan bangsa, tentu Marzuki tidak pantas menghina para pembantu rumah tangga asal Indonesia yang bekerja ke luar negeri. Mereka telah berjasa menghasilkan devisa triliunan rupiah bagi negara ini.
Apalagi Marzuki melemparkan statementnya tanpa didukung bukti atau hasil survei yang kuat. Dia hanya menceritakan, ketika bertemu Presiden Suriah beberapa waktu lalu, salah satu pembicaraan mereka adalah soal pembantu rumah tangga di Suriah asal Indonesia. Presiden Suriah, kata Marzuki, menjelaskan banyak kasus yang terjadi di Suriah karena kekurangan skill pembantu asal Indonesia.
Para TKW ada yang tidak bisa membedakan cairan setrika. Akhirnya menggosok baju seenaknya. Makanya majikannya marah. Dan menjadi wajar saja ketika setrika menempel di tubuh pembantu, kisah Marzuki. Pertanyaannya, wajarkah Marzuki menyatakan setrika menempel di muka sebagai hal yang wajar? Tentu tidak elok.
Masih menurut Marzuki, ada pula TKW kita yang pura-pura gila. Ada yang menggoda anak majikan karena ingin punya anak yang hidungnya mancung. Lalu ketika sudah lahir dan ingin pulang ke Indonesia karena anaknya tidak punya dokumen.
Sayang sekali, Marzuki tidak memberikan solusi atas masalah tersebut. Padahal sebenarnya dan sebaiknya, sebagai Ketua DPR, Marzuki mendorong pemerintah menyediakan balai latihan kerja (BLK) bagi para calon TKI yang akan dikirim ke luar negeri.
Dengan pelatihan-pelatihan yang tepat. Pendapatan para TKI tentu nantinya bisa lebih baik. Pemerintah seharusnya melakukan pembenahan kualitas ini lewat kementerian pendidikan dan bekerja sama dengan pemerintah daerah. Saat ini, banyak sekali Balai Latihan Kerja (BLK) di daerah-daerah yang terbengkalai.
Sungguh parah memang pernyataan salah satu pemimpin kita ini. Terlihat sekali tidak ada penghargaan bahwa devisa RI terbesar ke dua adalah dari TKI. Sikap Marzuki adalah bentuk viktimisasi korban. Jika kualitas TKW tidak baik, tentu bukanlah karena kesalahan TKW yang bersangkutan, tapi karena pemerintah dan DPR tidak pernah memberikan sentuhan secara langsung lewat pelatihan-pelatihan yang berkualtas. ****
(foto: poskota.co.id)
Komentar