Langsung ke konten utama

Meratapi Nasib PSSI





SEJARAH sepakbola Indonesia sepertinya dipaksa senasib dengan sejarah wadahnya, Persatuan Sepakbola Indonesia (PSSI). Ketika wadah atau tempatnya tidak pernah "dicuci", digosok, dan dibuat mengkilap, maka yang ada di dalamnya pun, termasuk prestasi sepakbola kita, tidak bakal pernah cemerlang.

Sudah cukup lama kita menanti kabar gembira tentang kesuksesan tim naional kita. Namun, jangankan berprestasi di tingkat dunia, di tingkat Asia atau Asean saja tim kita masih mlempem. Alih-alih bisa mencuat prestasinya, baru sejengkal masuk final Piala AFF, para politisi sudah berebut unjuk gigi, memperebutkan tim nasional sebagai "maskot"nya.

Sepakbola dipolitisasi, sepakbola dijadikan sarana untuk mencemerlangkan kelompok-kelompok tertentu. Bagai pahlawan yang menunggu di persimpangan, orang-orang berbondong-bondong mengandeng PSSI dan menyatakan paling berperan dalam prestasi itu.

Celakanya, belum lagi piala berhasil direngkuh, pemain sepakbola diracuni dengan atraksi tak sedap oleh para politisi kita. Sehingga akhirnya kandaslah cita-cita mengalahkan seteru bebuyutan, Malyasia, di final.

Seorang reporter olahraga, Erwiyantoro, yang sejak tahun 1985 mengamati soal sepakbola tanah air punya kesan khusus tentang PSSI sebagai wadah sepakbola tanah air. Sejak Kongres Sepak Bola Nasional (KSN) lalu, dengan keberhasilan Nurdin Halid dari gempuran berbagai pihak yang ingin melengserkannya, Erwiyantoro menetapkan diri untuk membuat sebuah buku yang akan menjadi pembuktian bahwa Nurdin Halid patut untuk mundur dari PSSI.

Buku karya Erwiyantoro, setidaknya menjadi bukti bahwa sedikitnya ada 90 persen rakyat Indonesia menghendaki Nurdin mundur dari kursi kepemimpinan PSSI. Delapan tahun berada di bawah kepemimpinan Nurdin Halid, PSSI bisa dibilang sama sekali tidak mempunyai apa-apa.

Tidak ada kaderisasi, pembinaan, apalagi prestasi. Seharusnya, PSSI bisa menciptakan sebuah mimpi bagi anak-anak Indonesia untuk menjadi pemain sepak bola yang hebat seperti halnya yang dimiliki oleh anak-anak dari negara lain di negara-negara Eropa dan Amerika Latin.

Idealnya, PSSI menjadi wadah pengembangan minat dan bakat bagi anak-anak Indonesia dalam hal sepak bola. Sepak bola, harus bisa mejadi olah raga yang mampu menyejahteraan pemainnya. Bukan sebagai alat kepentingan politik.

Di bawah kepemimpinan Nurdin, PSSI diajak berakrobat, dan "diperalat" untuk kepentingan pribadinya saja, bahkan juga untuk kepentingan orang lain yang dekat dengannya. Setelah bertemu Presiden SBY dalam AFF lalu, Nurdin juga engajak Timnas berkunjung ke Ketua Umum Golkar. Apa kepentingannya?

Selama berkuasa delapan tahun di PSSI, Nurdin telah berhasil membangun sebuah kerajaan besar bertopengkan sepakbola. Dengan posisinya sebagai penguasa, bisa dibilang tak seorangpun mampu menyentuhnya, bahkan presiden sekalipun.

Sayangnya lagi, berdasarkan aturan FIFA disebutkan bahwa tak ada pihak manapun dalam sebuah negara yang diperkenankan mencampuri urusan rumah tangga organisasi sepak bola sebuah negara, yang dalam hal ini adalah PSSI.

Aneh. Demikian menurut penilaian Direktur Pusat Kajian Antikorupsi (PUKAT) UGM Zainal Arifin Muchtar. Posisi PSSI dalam ketatanegaraan Indonesai sungguh rancu. Satu sisi, menurut Zainal, PSSI tak lebih seperti Komite Olah raga Nasional Indonesia (KONI) yang merupakan organisasi negara, tapi PSSI ternyata lebih dari sekadar sebuah organisasi.

Kalau KONI masih bisa dikontrol oleh pemerintah, karena perannya sebagai sebuah rumah bagi olah raga di Indonesia. Tapi kalau PSSI? Siapa yang bisa mengaturnya? Siapakah gerangan PSSI, sebuah organisasi yang memiliki kewenangan mutlak, dan tak bisa dikontrol pemerintah?

Hebatnya lagi, pemimpin PSSI saat ini, adalah satu-satunya pemimpin yang sempat menjalankan organisasi olah raga nasional di dalam penjara dan memiliki jaringan politik yang luar biasa kuat. Selain itu, dia juga mampu menerjemahkan perintah Robinhood menjadi seorang Sinterklas. ****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...