Langsung ke konten utama

Politisasi Bola



INILAH efek dari politisasi dunia olahraga, khususnyan sepakbola di tanah air. Polemik seputar Nurdin Halid, mantan Ketua Umum PSSI, mantan pesakitan yang akan maju lagi menjadi orang nomor satu PSSI dikecam banyak orang. Dia dianggap tak layak lagi membawa PSSI karena selama ini PSSI tak pernah beprestasi di tangannya. Bahkan PSSI dinilai menjadi sarangnya koruptor.

HARI ini, (Kamis 24/02/2011) demo anti Nurdin Halid sebagai Ketua PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) periode mendatang, direncanakan bakal digelar secara besar-besaran.

Para pendemo menolak Nurdin, karena sosok Nurdin dipandang tidak pantas lagi duduk di kursi pimpinan tertinggi organisasi sepakbola di Indonesia.

Nama Nurdin dinilai sudah tercemar kasus pidana dan yang bersangkutan juga dinilai tidak pernah mampu membawa dunia persepakbolaan tanah air mampu meraih prestasi gemilang.

Jangankan di tingkat dunia, untuk tingkat Asia Tenggara saja, PSSI di bawah Nurdin tidak pernah mampu menorehkan secuil prestasi. Bahkan ketika berhasil masuk di final Piala AFF, Nurdin sudah membawa-bawa PSSI ke ranah politik.

PSSI, pada masa pemerintahannya, dinilai banyak pihak juga menjadi sarang korupsi. Keharusan pemerintah daerah menggelontorkan dana untuk tim di daerah, adalah simpul munculnya praktek-praktek korupsi.

Tidak hanya korupsi dan melorotnya prestasi yang menghantui PSSI. Selama ini, PSSI juga dinilai telah memutar balikkan statute FIFA, organisasi sepakbola tertinggi di dunia yang menaungi PSSI.

Atas pemutarbalikkan fakta itulah, Masyarakat Pengawas Sepak Bola Indonesia (MPSI), akan melaporkan PSSI ke FIFA. Wakil Ketua MPSI Max Sopacua, mengungkapkan, akan dibentuk tim untuk melaporkan kepada FIFA bagaimana PSSI telah memutarbalikkan statuta organisasi sepak bola tertinggi di dunia itu.

Statuta FIFA yang telah diputarbalikkan adalah pasal 32 ayat 4 yang di dalamnya dijelaskan bahwa seseorang yang sebelumnya telah dinyatakan bersalah atas suatu tindakan kriminal tidak bisa dipilih menjadi pengurus.

Sementara terkait adanya gagasan membentuk PSSI tandingan dan gelombang unjuk rasa yang menuntut revolusi PSSI, merupakan sebuah bukti bahwa sepak bola Indonesia tidak lagi berada dalam jalur yang sebenarnya. Sebagai Ketua PSSI, Nurdin Halid telah salah arah.

Kasus Nurdin tentu tidak akan berdiri sendiri. Nama Nurdin, saat ini, begitu lekat dengan partainya. Meski dalam lingkungannya di PSSI, Nurdin menjadi calon kuat Ketua Umum PSSI, namun jika dipaksakan maju akan merugikan nama Golkar.

Membela Nurdin tetap maju dalam bursa ketua PSSSI, berarti Golkar hanya membela kepentingan elit, bukan kepentingan rakyat. Dalam kasus PSSI, membela Nurdin Halid berarti melawan rakyat. Nurdin sudah tidak disukai rakyat lagi.

Pengamat politik Arbi Sanit mengatakan, Nurdin yang sudah tidak disukai rakyat lagi mestinya tidak didukung oleh Golkar. Dengan menyokong Nurdin, Golkar hanya bersikap pragmatis dan membela elitnya saja. ****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...