Langsung ke konten utama

Andai Gubernur, Istri Walikota




PROSESI Pemilukada (pemilihan umum kepala daerah) di wilayah Riau, sudah ada yang melewati tahap pencoblosan. Dua daerah, yakni Kabupaten Rokan Hulu dan Pelalawan, telah usai coblosan. Sementara beberapa daerah lainnya masih menunggu giliran.

Dari sisa tempat atau wilayah geografis yang akan melakukan pemilihan kepala daerahnya, yang diramalkan bakal ramai adalah pemilihan di wilayah kota Pekanbaru. Di Sini akan bertarung istri orang nomor satu Riau, Septina Rusli Zainal, melawan istri orang no satu Pekanbaru, Evie Herman Abdullah.

Bisa dibayangkan jika dua ibu “berpengaruh” tersebut berebut kursi empuk di wilayah Pekanbaru. Tentu bakal rammai ceritanya. Tak terpungkiri, diantara Gubernur Riau Rusli Zainal dengan “seniornnya” yang walikota Pekanbaru Herman Abdullah, selama ini muncul gesekan yang makin lama makin menghangat.

Herman Abdullah sebenarnya “kakak” Rusli Zainal di kancah politik. Sebagai seorang kakak, selama menjalani roda kehidupan politik, Herman tentu banyak memberikan bimbingan bagi sang adik. Namun, roda kehidupan memang laiknya perputaran roda. Rusli kini, dengan segala jabatannya (baik politik maupun non politik), berada di atas sang kakak.

Kini tidak hanya mereka berdua yang bersaing di dunia politik. Istri mereka berdua pun tengah menggelar karpet ajang persaingan untuk menjadi yang terpilih di ajang pemilihan kepala daerah mendatang. Sungguh….elok.

Sebagai istri seorang Gubernur, jika nantinnya Septina naik menduduki kursi jabatan Walikota Pekanbaru, tentu juga akan memunculkan persoalan yang tidak enteng. Bagai mengelola sebuah keluarga, mungkinkah roda pemerintahan Pekanbaru dan Riau akan dijalankan seperti itu?

Tak terbayangkan, kemana pun mereka pergi sebagai suami-istri, mereka akan selalu diembel-embeli dengan predikat jabatan masing-masing. Gubernur beristrikan Walikota dan Walikota bersuamikan Gubernur. Ah entahlah, saya takut membayangkan bagaimana mereka akan mengatur rumitnya persoalan tersebut.

Namun siapa pun yang unggul dalam pemilihan nanti, tentunya diharapkan dapat mengemban amanah para pemilihnya. Jabatan "baru" yang mereka sandang kelak, bukanlah sekadar embel- embel untuk menambah citra diri belaka. Jabatan sebagai kepala daerah adalah amanah rakyat yang harus dijaga benar fungsinya.

Model pemilihan langsung lewat pemilukada, merupakan momen penting bagi kita semua untuk menenttukan pemimpin yang benar-benar sesuai dengan selera dan harapan rakyat banyak. Pemimpin yang dibidik lewat pemilihan langsung sangat diharapkan mampu membimbing dan memberikan teladan serta berupaya untuk membangun kembali tatanan masyarakat yang lebih baik.

Lewat pemilukada, kita semua berharap nilai-nilia luhur yang diciptakan para pemimpin baru bisa muncul di tengah-tengah kehidupan kita kembali. Masyarakat sangat ingin keramahtamahan, keamananan dan ketentraman, tertib-sabar, serta selalu mengedepankan semangat persatuan dan kesatuan bangsa, bisa hadir kembali.

Sebagai instrumen penguatan demokrasi lokal, pemilukada memberikan dampak signifikan terhadap pencapaian keseimbangan tata pemerintahan di tingkat lokal, yang pada gilirannya berimplikasi terhadap peningkatan kualitas penyelenggaraan pemerintahan.

Pengamat politik Maswadi Rauf menyebutkan, ada empat alasan dilakukan Pilkada langsung, yaitu; pertama, untuk membangun otonomi daerah, kedua, menumbuhkan kepemimpinan lokal, ketiga, meningkatkan akuntabilitas publik dan transparansi pemerintah dan keempat, proses legimitasi rakyat yang kuat.

Oleh karenanya, siapa pun sosok yang terpilih nantinya, hendaklah mampu dan selalu tanggap terhadap berbagai masalah ekonomi, sosial, politik, budaya serta pertahanan dan keamanan. Pemimpin daerah diharapkan dapat mengetahui secara dini segenap peristiwa yang terjadi di daerahnya. Mampu menganalisa persoalan dan tidak terimbas pikiran negatif yang cenderung bias, tak proporsional dan terkesan subjektif.

Seorang pemimpin diharapkan senantiasa dapat menumbuhkan sifat perduli dan berjiwa nasionalisme. Setiap sudut pandangnya dalam melihat segenap kejadian selalu bersifat utuh dan merupakan representasi bangsa Indonesia.

Dengan demikian, dalam setiap pengajuan calon pemimpin daerah, rakyat sebenarnya sangat berharap, setiap calon adalah sosok yang punya semangat patriotisme dan selalu mengedepankan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Partai politik sebagai agen utama menyeleksi calon pemimpin, sudah seharusnya selektif dalam memilih figur pemimpin yang dikehendaki masyarakat karena masyarakat sudah cerdas dan kritis.

Sekali lagi, pemilukada langsung merupakan perwujudan dari partisipasi politik rakyat untuk menentukan figur pemimpinnya sebagai perwujudan kedaulatan rakyat. Sehingga dari proses pemilukada ini bisa lahir pemimpin daerah yang sesuai dengan harapan dan aspirasi rakyat, serta memiliki legitimasi politik yang kuat.

Semoga pemimpin yang terpilih nanti mampu membawa daerahnya ke arah perkembangan yang penuh inovatif dan positif. Berwawasan ke depan dan siap melaksanakan perubahan yang lebih baik bagi kepentingan daerah yang dipimpinnya. Bukan hanya demi kepentingan kelompok politiknya, dirinya sendiri, keluarga, atau demi kepentingan suaminya. *****

(foto:intenet)

Komentar

ponakan Rusli mengatakan…
Wahoooooo ini namanya provinsi keluarga Rusi dong. Bukan Provinsi Riau alias Lancang Kuning....kekekekekekeke

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...