Langsung ke konten utama

Belajar Memerangi Rokok hingga ke Negeri China



BERITA mengenai penyakit paru-paru yang diderita Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih, baru-baru ini, menyentak kesadaran kita bersama. Seorang Menkes menderita suatu penyakit, sepertinya suatu hal yang tidak mungkin. Atau anggaplah tidak pantas. Apalagi penyakit tersebut kanker paru-paru.
Spontan, penyakit tersebut menjadi "permainan" dunia politik. Banyak tuduhan miring dialamatkan pada Menkes. Bahkan yang teramat menyakitkan, Menkes dituduh sebagai perokok aktif sehingga digerogoti penyakit mematikan tersebut.
Di dunia politik, isu mengenai hal itu sangat penting dan perlu untuk membangun image negatif terhadap yang bersangkutan. Dan ujun-ujungnya, dengan isu tersebut, diharapkan suasana politk menjadi gemuruh untuk menjatuhkan lawan politik.
Dalam tajuk ini, kita tidak hendak memperdebatkan urusan politik dengan penyakit Menkes. Kita hanya hendak menyoroti soal bahaya merokok kaitannya dengan potensi penyakit paru-paru atau kanker paru-paru. Dan pembicaraan kita, juga tidak hendak menyutujui pendapat bahwa Menkes seorang perokok.
Kanker paru-paru, dalam banyak hal, ternyata banyak diidap para perokok pasif. Artinya, diidap oleh orang-orang bukan perokok yang dipaksa hidup berdampingan dengan komunitas perokok. Perokok pasif, menurut sebuah penelitian, ternyata justru lebih rentan diserang penyakit mematikan ini, dibanding para perokok aktif.
Dalam sisi korban, penyakit kanker sebenarnya dinilai seperti penyakit lainnya yang juga diderita manusia. Penyakit itu biasa datang dan pergi. Apalagi, manusia usia di atas 40 tahun memang rentan terkena penyakit.
Memerangi penyakit paru-paru atau penyakit lain yang diakibatkan oleh kegiatan merokok, tidak bisa dilakukan dengan sekadar menyembuhkan penyakit tersebut saja. Lebih utama dan penting dari itu adalah membudayakan lingkungan bersih tanpa asap rokok.
Sulit bagi kita menciptakan budaya bersih asap, selama merokok masih dipandang sebagai style atau trend hidup serta dianggap pemerintah sebagai ladang pemasukan uang terbesar. Memang tidak terpungkiri pemasukkan uang dari cukai rokok teramat besar, namun pernahkah terpikir bahwa pengeluaran atas efek sampingnya juga tak kalah besar dan tragisnya?
Upaya memerangi rokok bukan tidak pernah dilakukan pemerintah. Sudah pernah, namun hasilnya kurang memuaskan dan kontrolnya juga kurang berkesinambungan. Mahkamah Konstitusi (MK) sendiri pernah menggelar sidang uji materi pasal 113 ayat 2 UU Kesehatan No 36 tahun 2009 yang menyebutkan tembakau sebagai zat adiktif dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Pasal 113 ayat 2 berbunyi: "Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau, padat, cairan dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan atau masyarakat sekelilingnya."
Memerangi budaya rokok, kita juga bisa berkaca pada keputusan pemerintah China. Terlihat sepele memang, namun cara ini bisa menjadi satu pendorong perubahan perilaku. Negeri ini membatasi adegan merokok di setiap tayangan film dan serial televisi, menyusul kekhawatiran atas kegagalan menolong 300 juta warganya berhenti merokok.
Badan Pemerintah tentang Radio, Film dan Televisi (SARFT) sebagai pengawas media China memerintahkan "kontrol ketat" atas adegan merokok dan melarang anak-anak hadir
di adegan yang melibatkan seseorang sedang merokok.
Merek sigaret juga dilarang muncul di film dan serial televisi dan adegan merokok harus sesingkat mungkin. Lembaga sensor dan penyiaran juga diminta rajin menggunting adegan merokok.
Menurut kantor berita resmi China, Xinhua, survei yang melibatkan 11 ribu siswa sekolah menengah di Beijing menunjukkan, nyaris 35% responden ingin mencoba merokok setelah melihat para pemain merokok di televisi.
Nah bagimana dengan kita? Meniru bukan berarti tak kreatif. Jadi tak ada salahnya belajar dari China. *****


(foto: zedomax.com)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...