
PAKET bom buku memberikan peringatan kepada kita semua bahwa teror di tanah air belum berhenti. Tertangkap dan terbunuhnya beberapa gembong teroris, ternyata tidak juga menyurutkan aksi teror. Bahkan teror bom mengalami perkembangan, dari bom bunuh diri memakai ransel (tas punggung), bom mobil, bom sepeda, dan kini bom buku.
Bom buku yang akhirnya sempat meledak dan memutuskan tangan Kasat Kabareskrim Polres Metro Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan menyadarkan kita semua akan keberadaan para teroris.
Memang, hingga saat ini belum diketahui dan belum ada yang mengaku sebagai penanggungjawab atas bom tersebut. Dan justru, saat ini, beredar isu dan rumor beraneka ragam tentang motif bom buku tersebut.
Namun hendaknya semua itu dikesampingkan dulu. Kita harus melihat persoalan teror tersebut secara bersama dan dari satu sisi yang sama bahwa perbuatan itu merongrong keamanan negara dan mempengaruhi kenyamanan hidup masyarakat.
Siapa pun di balik perbuatan terkutuk tersebut, sudah tentu punya niatan tidak baik. Siapa pun yang menjadi sasaran bom, entah aktivis Ulil Abshar Abdalla, polisi Gories Mere, dan tokoh Pemuda Pancasila Japto Soerjosoemarno, teror bom adalah persoalan kita bersama.
Meski berdaya ledak rendah dengan rangkaian lengkap plus baterai, dapat diduga perakit bom adalah seorang yang terlatih, bahkan ahli.
Bom buku berbahan peledak potasium klorat dan switch antitarik. Bahan-bahan tersebut dengan sangat rapi disusun dalam sebuah buku. Pelaku sudah memperkirakan efek ledakan tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Dengan demikian jelas, hanya seorang ahlilah yang bisa melakukan hal itu.
Namun, mantan anggota Jamaah Islamiyah, Nasir Abas, menyebut bom buku dengan istilah booby trap, yakni perangkap yang dirancang untuk membunuh atau melukai orang secara serius. Sebagai perangkap, maka dibutuhkan umpan yang dirancang untuk memancing korban agar mau mendekat. Dalam kasus ini, umpan yang digunakan adalah buku.
Wikipedia menyebutkan, booby trap yang mematikan sering digunakan dalam perang, khususnya perang gerilya. Perangkap dirancang untuk menimbulkan luka atau sakit. Terkadang perangkap juga digunakan oleh penjahat yang ingin melindungi obat-obatan terlarang atau properti lainnya.
Kita berharap pihak kepolisian bisa segera mengungkap pelaku pengirim bom yang disimpan dalam buku. Dengan demikian, ancaman teror bisa segera diminimalkan. Karena melihat perkembangan model bom teror yang ada, bisa saja nantinya mncul bom-bom lain yang berbentuk berbeda.
Bom buku juga menjadi peringatan bagi kita semua agar kita selalu waspada. Masyarakat perlu berhati-hati dan menjaga lingkungan terdekatnya terhadap kemungkinan-kemunginan buruk yang dilakukan orang-orang tak bertanggung jawab.
Bila mengetahui di wilayah terdekatnya ada orang asing yang mencurigakan, masyarakat hendaknya proaktif dengan melaporkannya ke aparat terdekat untuk melakukan pencegahan dini. Kita tidak bisa hanya bergantung pada orang lain untuk menjaga wilayah kita sendiri.
Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala menilai, paket bom buku yang meledak di Kantor Berita Radio (KBR) 68H di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur mempunyai pesan tersendiri. Pelaku bom, menurut Adrianus, merupakan kelompok kecil yang ingin menyampaikan pesan saja, kalau dirinya terus tersudutkan akan terjadi kekacauan.
Teror bom, baik besar maupun kecil, perlu segera diatasi agar tak menimbulkan konflik horizontal serius. Kita harus selalu mengupayakan persatuan sebagai anak bangsa Indonesia. Teror yang bisa menyulut kekerasan dimana-mana harus segera diakhiri. ****
(foto:kedaiberita.com)
Komentar