
PERUBAHAN iklim selalu menjadi isu menarik untuk diperbincangkan di tingkat dunia. Membicarakan iklim, lingkungan, dan tata kehidupan yang sehat berarti peduli kehidupan masa depan.
Memang kalau diukur berapalah usia manusia. Kita yang saat ini sibuk memikirkan kehidupan masa depan, barangkali tidakk akan lama lagi menempati dunia ini.
Usia kita sungguh terbatas, namun kehidupan di bumi dan tata surya di angkasa, tidaklah kita bisa meramalkannnya. Bisa puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan tahun lagi usianya.
Namun, jika kita tidak peduli akan alam ini, berarti pula kita akan memperpendek usia bumi. Memperpendek usia kita sendiri dan anak-cucu kita. Serta yang pasti kita bukan manusia bertanggungjawab. Kita adalah manusia egois yang memikirkan diri sendiri. Manusia yang tak beadab dan berbudaya.
Dalam pertemuan G 20, soal perubahan iklim jadi sorotan bersama. Presiden Amerika Serikat Barrack Obama menawarkan kerjasama di bidang pendidikan dan penanganan perubahan iklim dengan Indonesia sebagai salah satu bagian dari kerjasama strategis kedua negara.
"Bersama kita akan membahas isu perubahan iklim dan akan membantu pengembangan studi mengenai perubahan iklim di Indonesia. Meski demikian tidak hanya untuk Indonesia, namun bisa juga berguna bagi kawasan dan secara global," kata Obama saat pertemuan bilateral di kompleks Metro Toronto Convention Centre, Kanada, saat itu.
Kesadaran Indonesia - Amerika melakukan jalinan komprehensif dengan mengelaborasi dan mendorong tumbuhnya kerjasama yang seimbangan sangat baik untuk menghadapi tantangan abad ke-21.
Hubungan dinamis dan setara antara Indonesia - Amerika Serikat menghadapi tantangan perkembangan ekonomi global dan perubahan iklim dipastikan akan memberikan kontribusi penting bagi kawasan dan juga dunia internasional.
Bagi Indonesia dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara lainnya, perubahan iklim akan menjadi salah satu risiko jangka panjang yang harus dihadapi.
Asia Tengara rentan karena memiliki garis pantai yang panjang dan tergantung pada pertanian, sumber daya alam, dan kehutanan.
Saat ini, yang kita rasakan bersama, dampak dari perubahan iklim yang sangat mencolok adalah makin memperburuknya kondisi kekurangan air, ancaman ketahanan pangan dan peningkatkan resiko kesehatan.
Diestimasikan, pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara bisa melambat hampir tujuh persen per tahun pada abad ini, kecuali ada tindakan yang diambil untuk memerangi perubahan iklim.
Fisikawan dunia paska Albert Einstein, Stephen Hawking, dan James Lovelock, kimiawan yang juga aktivis lingkungan hidup, meramalkan dampak perubahan cuaca jauh lebih mengerikan ketimbang perang nuklir
Hawking mendesak umat manusia menempuh berbagai cara guna mengatasi perubahan iklim karena bila tak dihadapi maka dampaknya akan makin merusakkan kehidupan.
Sir Martin Rees, profesor kosmologi dan astrofisika di Universitas Cambridge, Inggris, memperkuat Hawking dengan mengatakan perubahan iklim berpotensi menghancurkan peradaban umat manusia. "Perang nuklir tidak menciptakan tingkat kerusakkan seluas ditimbulkan pemanasan global," kata James Lovelock seperti dikutip Mingguan Jerman der Spiegel.
Bumi, kata Lovelock, mengatur sendiri stabilitas suhunya lewat hubungan saling memengaruhi antara daratan, air, udara, tumbuhan, bakteri, dan fauna. Semua unsur ini bekerja bersama supaya Bumi seimbang dan ketimpangan dalam mekanisme alam tak membuat dunia rusak.
Namun kondisi ini segera berubah setelah Bumi diintervensi oleh "epidemi manusia". Epidemi itu adalah nafsu manusia untuk menghancurkan hutan dan menggerus lahan pertanian sehingga kemampuan alam dalam menyeimbangkan dirinya terganggu yang akhirnya menimbulkan bencana skala besar di mana-mana.
Puncak kerusakkan terjadi dalam 50 tahun terakhir manakala temperatur Bumi terus memanas sehingga "alam" memberontak untuk kemudian menghadiahi manusia dengan bencana-bencana seperti banjir bandang dan gelombang badai.
Berkaca dari fenomena peningkatan suhu di dunia ini, kita semua patut meningkatkan kewaspadaan. Peneliti lingkungan dari Universitas Negeri Riau (UNRI) menyatakan suhu udara di Provinsi Riau saja, naik rata-rata sekitar dua derajat celcius dalam setahun.
Menurut Tengku Ariful Army, peneliti Badan Kajian Rona Lingkungan UNRI, peningkatan suhu udara yang cukup tinggi di luar batas kewajaran karena laju kerusakan hutan yang tidak terkendali.
Kita kesulitan mengaturnya karena pembalakan liar, setiap harinya, terjadi di mana-mana. Itu baru yang terjadi di Riau, Sumatera. Belum yyang terjadi di Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan pulau-pulau lainnya.
So...masihkah kita berdiam diri dan hanya berpangku tangan? Dimana rasa memiliki kita terhadap alam ini. Hanya ego kita, demi menikmati hari ini saja lah, yang membuat hati dan pikiran kita membatu. ****
(foto: tribunnews.com)
Komentar