
TUBUH kecil Dewa (6) tergolek tak berdaya di halaman Purna MTQ Pekanbaru. Lehernya terluka, seperti diiris
benda tajam. Dewa sudah tak bergerak lagi. Tubuhnya
sudah menjadi jasad. Dewa lagi-lagi menjadi korban
pembunuhan. Dia diduga melengkapi daftar korban aksi
sodomi sebelum dibunuh sang pelaku.
Kejadian tragis ini memang sudah berlangsung sekitar 2-3 tahun lalu. Namun kejadian itu masih membekas dan meninggalkan trauma serta kekhawatiran tersendiri.
Pekanbaru tercatat seringkali menjadi saksi kasus
sodomi terhadap bocah. Kasus Dewa sudah pasti bukan
yang pertama. Sebelumnya, beberapa anak juga diketahui
menjadi korban praktek seks menyimpang ini oleh
tetangganya sendiri.
Jauh sebelumnya lagi, juga pernah terjadi aksi
pembunuhan terhadap bocah, setelah terlebih dahulu
bocah tersebut dipaksa untuk disodomi. Kasus
penyimpangan seks ini, buntutnya seolah menjadi
kebiasaan di Pekanbaru. Sudah banyak anak-anak yang
menjadi korban. Kita pun lalu melemparkan tanya, ada
apakah dengan kasus sodomi di Pekanbaru?
Belajar dari kasus Dewa dan kasus-kasus yang lain,
ternyata ditemukan adanya benang merah persoalan yang
membelit kehidupan anak-anak di sini. Baik pelaku
kekerasan terhadap Dewa ataupun kasus sebelumnya,
selalu mengaku pernah mengalamai hal yang sama,
disodomi.
Terjadi derita berkesinambungan dalam kasus ini.
Lingkaran setan seolah lalu menghantui kehidupan
anak-anak, susah dilepaskan, dan mengancam siapa saja.
Dalam pengakuan Eka Putra (20) pelaku pembunuhan
terhadap Dewa, dia melakukan aksi-aksi sodominya
karena dorongan bawah sadarnya akibat pernah mengalami
hal yang sama.
"Sebenarnya saya bukan homo. Saya suka dengan wanita.
Tapi sejak saya pernah disodomi saat umur 17 tahun,
saya sering berfikir untk melakukan hal yang sama
dengan orang lain. Begitu selanjutnya," kata Eka saat
diwawancarai Tribun.
Lewat pengakuan Eka, tentulah bisa tergambarkan
ancaman kehidupan masa depan yang cukup
mengkhawatirkan. Eka tentu bukan satu-satunya korban
sodomi di provinsi kita ini. Banyak Eka- Eka lain yang
kemungkinan juga mempunyai desakan bawah sadar yang
sama.
Kita berduka dan prihatin atas kekerasan berujung
kematian yang menimpa Dewa. Namun kita juga prihatin
atas lingkaran setan yang menimpa Eka dan kehidupan
kanak-kanak lain yang mengalami nasib sama seperti
Eka.
Secara teoritis, kekerasan memang terjadi dari satu
generasi ke generasi dan terus menjadi satu potensi.
Umumnya pelaku kekerasan adalah orang yang pernah
mengalami kondisi yang sama. Misalnya, mengalami
kekerasan pada masa kanak-kanak atau menyaksikan
kekerasan di waktu kecil.
Lewat kajian psikologis terkuak, bahwa dari dalam diri
orang yang pernah mengalami kekerasan akan terbentuk
pola respons atas kejengkelan atau frustrasi yang
dialami. Respons itu akan dilepaskan dalam bentuk
kekerasan terhadap orang yang lebih lemah.
Korban sekaligus pelaku, kemungkinan memiliki kendali
untuk tidak melakukan kekerasan, tetapi hanya kepada
orang yang lebih kuat atau di posisi yang lebih
tinggi.
Dalam studi ilmiahnya, seorang pekerja sosial Patricia
D. McClendon (1991) menyatakan, kira-kira 40 persen
anak korban kekerasan seksual menderita akibat
psikologis yang serius.
Gangguan psikologis akibat kekerasan seksual atau trauma post sexual abuse,antara lain tidak mampu mempercayai orang lain,
khawatir dalam berhubungan seksual, depresi, ingin bunuh diri dan perilaku merusak diri sendiri yang lain, harga diri yang rendah, berdosa, marah, menyendiri dan tidak mau bergaul dengan orang lain,
makan tidak teratur.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita bisa secara
sinergis dan bersama-sama membasmi aksi kejahatan
seksual jika ternyata tingginya angka kekerasan
terhadap anak umumnya tidak terekam pada catatan
kepolisian.
Kekerasan yang tercatat dan dilaporkan ke
kepolisian biasanya hanya pada kategori parah.
Seringkali masyarakat masih beranggapan tabu dan hanya
akan membuka rahasia keluarga saja jika melaporkan
kasus kekerasan seksual yang menimpa anak mereka.
Kini. sudah saatnya kita mengubah pola pikir dan
memutus mata rantai lingkaran setan kekerasan seksual
terhadap anak. ***
(foto: ist/internet)
Komentar