
IRONI tengah dipentaskan di negeri ini. Pahlawan kesiangan banyak bermunculan, pahlawan yang datang dari persimpangan jalan demikian pula adanya. Tiba-tiba mereka "memunculkan" dirinya dan berlagak bak pahlawan yang banyak jasanya.
Tak ketinggalan pula, orang yang selama ini jelas-jelas merugikan bangsa dan negara, tanpa perlu merasa malu, berani memotong di persimpangan jalan dan tampil seolah bak hero. Bercermin dari sikap Gayus yang dengan percaya diri menawarkan diri menjadi penasihat kepolisian untuk mengungkap korupsi di tanah air, semoga hal itu bukan merupakan gambaran sikap kita selama ini.
Bangsa kita, sejak dahulu terkenal sebagai bangsa yang berani bertanggungjawab dan tahu menempatkan diri. Bangsa kita yang terkenal akan senyumannya adalah bangsa yang berani mengakui kesalahannya. Bukan bangsa yang bertindak arogan ketika belangnya terkuak.
Namun, berbagai penanganan kasus hukum yang terjadi selama ini, sepertinya justru mengaburkan sikap-sikap luhur yang dipunyai bangsa ini. Mereka yang bersalah tidak mau mengakui kesalahannya.
Mereka yang bersalah, dengan pongahnya menuding pihak lainlah yang justru bersalah dan menyebar keresahan. Anehnya lagi, seringkali yang bersalah justru mendapat pembelaan yang tidak semestinya.
Dengan kekuatan uangnya, mereka yang bersalah mampu membeli dukungan. Celakanya, yang bersalah juga mendapatkan suporter dari penguasa ataupun pengusaha agar yang bersalah tidak menyeret-nyeret penguasa dan pengusaha yang bersangkutan untuk menjadi pesakitan.
Belajar dari kasus mafia pajak Gayus Tambunan, sebaiknya kita tidak mudah terpancing sehingga tidak bisa melihat dengan jernih persoalan yang muncul.
Pengakuan Gayus dijebak Satgas Mafia Hukum, janganlah sampai membuat kita terlena. Dan janganlah sampai perseteruan Gayus dengan Satgas menyita energi kita. Perseteruan itu tidak penting. Tidak substansial. Sehingga tidak perlu terlalu ditanggapi agar masalah utama soal mafia pajak dan hukum tidak kabur.
Kriminolog Universitas Indonesia Prof Dr Adrianus Meliala menyebutkan, pernyataan Gayus kepada Satgas adalah luapan kekesalan seorang tahanan yang tengah terpojok. Sebuah pernyataan dari yang merasa desperate, yang sudah tahu dirinya salah dan kalah. Karena apa yang dia harapakan tidak sesuai dengan kenyataanya.
Mengenai tudingan Gayus ada rekayasa dari Satgas dan ada campur tangan CIA dalam kasusnya, diharapkan penegak hukum menyaring informasi apapun yang disampaikan Gayus tersebut. Justru jika dicermati dengan teliti, dari pledoi dan curhat Gayus kemarin, jelas menunjukkan ada aktor lain yang ikut andil dalam kasus mafia pajak ini.
Aparat dan pemerintah harus mengambil hikmah dari perkembangan kasus Gayus ini. Terlebih untuk satuan tugas bentukan Presiden SBY itu. Ke depan Satgas harus fokus dulu arah kerjanya, apakah dia mengurusi kasus, pola kasus, menejemen kasus atau mengurusi kebijakan. Fokus kerja akan mempengaruhi cara kerjanya.
Gayus dengan perangainya, adalah sebuah fenomena mafia hukum yang tengah memilin negeri ini. Bisa kita lihat, seusai vonis justru sang terdakwa berkoar-koar menuduh sana-sini sebagai perekayasa kasusnya.
Padahal jelas dalam persidangan Gayus mengakui semuanya. Menceritakan dengan detil siapa saja yang dia layani dan kemana saja arah uang sawer dia alirkan. Mana yang mau kita percayai? Pengakuan di persidangan atau "jumpa pers" usai sidang?
Tentu yang di persidanganlah yang kita percayai. Sementara yang di luar sidang, bisa jadi adalah upaya dari pihak-pihak tertentu untuk mengecoh agar para mafia hukum dan pajak makin tak terjamah. ****
(foto:internet)
Komentar