
PERNIKAHAN abad ini, antara Pangeran William Arthur Philip dan Kate Middleton, berlangsung khidmat dan penuh makna, Jumat (29/4). Pernikahan terakbar keluarga Kerajaan Inggris selama tiga puluh tahun terakhir tersebut, disaksikan seluruh dunia dengan liputan media massa, terutama televisi.
Tidak "semewah" gaun pengantin ibu mertuanya, Lady Diana saat menikah dengan Pangeran Charles di tahun 1981, Kate mengenakan gaun putih gading dengan renda menjuntai panjang rancangan Sarah Burton dan Alexander McQueen. Kate didampingi ayahnya, Michael Middleton memasuki Westminster Abbey hingga ke depan Altar. Sementara Pangeran William didampingi adiknya Pangeran Harry.
Ada pemandangan istimewa dalam prosesi pernikahan tersebut. Saat Uskup Agung Canterbury Dr RowanWilliams memandu Pangeran William dan Kate Middleton mengucapkan janji pernikahan, William mengucapkan janji dengan tatapan penuh keyakinan kepada Kate. Seperti pasangannya, Kate juga menatap William saat mengucapkan janji pernikahan.
Bagi sebagian orang, peristiwa tersebut barangkali dianggap hal yang biasa. Namun dalam pernikahan akbar, di bawah sorot mata seluruh dunia, pandangan mata keduanya saat mengucapkan janji pernikahan, bisa menjadi sinyal keberlangsungan hidup mereka berdua kelak.
Dr Rowan menilai, Kate dan William, menunjukkan ketulusan dan kesederhanaan mengenai pernikahan yang akan mereka jalani. Kate dan William membuat sendiri sumpah setia pernikahan dengan mengusung empat janji setia.
Bahwa pasangan kerajaan ini akan saling menyintai, memberikan kenyamanan, saling menghormati dan saling menjaga. Sumpah setia ini berbeda dengan tradisi kuno kerajaan. Istri, dalam pernikahan kerajaan Inggris, biasanya mengucap janji setia berisi "menyintai, menghargai, mematuhi" suami.
Janji keduanya, semoga mampu menginspirasi pasangan suami istri di dunia, bahwa kedudukan suami maupun istri dalam biduk rumah tangga adalah sama dan sejajar, serta saling melayani. Selain mempunyai ikatan dengan yang di atas, perkawinan pada hakikatnya adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan merupakan suatu pranata dalam budaya setempat.
Pernikahan bagi setiap orang, seyogyanya tidak perlu diwarnai keraguan dalam keutuhan rumah tangganya. Seperti halnya William dan Kate yang dibayang-bayangi perceraian Pangeran Charles dan Putri Diana serta pamannya Pangeran Andrew dan Sarah Ferguson, mereka tetap mantap dalam mengangkat sumpah setia.
Pernikahan William dengan Kate yang berbeda kelas, selayaknya juga menjadi cermin kita semua, bahwa dalam ikatan sebuah perkawinan, seluruh perbedaan yang ada akan melebur jadi satu. Dua pribadi akan menjadi satu pribadi yang saling menguatkan dan menolong.
Kate dari orang kebanyakan. Kakek buyutnya adalah seorang petambang di pertambangan di Inggris timur laut. Tetapi orang tua Kate adalah seorang milioner yang mampu memberi pendidikan yang terbaik yang menghantarnya ke lingkaran dalam Istana Kerajaan Inggris.
Kate juga seorang pribadi yang terbuka terhadap kritik. Penampilan pertamanya di depan publik bersama Pangeran William juga mendapat pujian. Meski Kate anak orang kaya, dia membangun dirinya sebagai orang biasa yang kebetulan jatuh dalam pelukan seorang pangeran.
Dalam sebuah awal pernikahan, perlu menjadi kesadaran bersama bahwa pernikahan adalah sebuah rahmat yang harus senantiasa dipelihara. Dan pernikahan, pada akhirnya bukanlah sebuah keputusan yang harus disesali, karena sebenarnya di dalamnya banyak ditemukan solusi hidup.
Hidup dalam pernikahan, bagi banyak orang merupakan rumah peristirahatan yang damai. ****
Komentar