
BAGI kita yang berusia kepala tiga (3), empat (4), atau bahkan lima (5), barangkali banyak yang mengenal penyanyi Iwan Fals. Penyanyi ini terkenal akan kritik sosialnya lewat lagu-lagu yang diciptakannya.
Salah satu lagu Iwan yang cukup menyentil dan cocok untuk suasana kekinian adalah yang berjudul "Surat Buat Wakil Rakyat". Lagu tersebut sudah lama diciptakan. Sudah puluhan tahun lalu. Namun tetap saja mengena untuk kondisi saat ini.
Selain soal liriknya, kecocokan lagu tersebut dengan masa kini, tentu membawa kegelisahan tersendiri. Hal ini menunjukkan bahwa tidak banyak perubahan yang terjadi dengan para wakil rakyat. Dari dahulu hingga kini, tetap saja sikap dan sifatnya tak berubah.
Kengototan para wakil rakyat membangun gedung super mewah dan mahal untuk tempat kerjanya, mengindikasikan tiada kepekaan di hati mereka. DPR seolah tidak peduli lagi pada suara rakyat yang berharap perhatian atas kondisi kehidupan di tanah air saat ini.
Untuk "memahami" sikap para anggota dewan, mari kita simak lirik lagi Iwan Fals.
Untukmu yang duduk sambil diskusi. Untukmu yang biasa bersafari. Di sana, di gedung DPR.
Wakil rakyat kumpulan orang hebat. Bukan kumpulan teman teman dekat. Apalagi sanak famili.
Di hati dan lidahmu kami berharap. Suara kami tolong dengar lalu sampaikan. Jangan ragu jangan takut karang menghadang.
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam. Di kantong safarimu kami titipkan. Masa depan kami dan negeri ini. Dari Sabang sampai Merauke.
Saudara dipilih bukan dilotre. Meski kami tak kenal siapa saudara. Kami tak sudi memilih para juara. Juara diam, juara he'eh, juara ha ha ha..
Wakil rakyat seharusnya merakyat. Jangan tidur waktu sidang soal rakyat. Jangan tidur waktu sidang soal rakyat. Wakil rakyat bukan paduan suara. Hanya tahu nyanyian lagu 'setuju'.
Keputusan untuk tetap meneruskan pembangunan gedung dewan senilai hampir Rp 1,2 triliun sangat mengabaikan aspirasi rakyat. Dan bahkan, keputusan itu, juga menganggap angin lalu permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar menghentikan pembangunan gedung tersebut.
Menurut pengamat politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Arie Sudjito, kebandelan DPR untuk meneruskan pembangunan gedung mewah itu menunjukkan adanya egoisme kolektif yang tengah menjangkiti sebagian besar anggota DPR.
Dengan kekerasan kepalanya lantaran tidak memperhatikan aspirasi publik, ke depan, DPR bisa mendapat resistensi sosial dari masyarakat. Sebab bagaimana pun pembangunan gedung merupakan ukuran minimal kepekaan parlemen terhadap aspirasi publik.
Ketika para wakil rakyat semakin menebalkan telinganya terhadap aspirasi masyarakat, ketika mereka tetap memaksakan kehendaknya di tengah arus kuat penolakan masyarakat, maka mereka secara tak langsung mendelegitimasi DPR.
Selama ini, rakyat berpendapat pembangunan gedung baru DPR hanya pemborosan. Daripada DPR membangun gedung baru, sebaiknya gedung lama saja yang direnovasi. Sementara uang untuk pembangunan gedung baru dialihkan untuk kepentingan rakyat banyak. Jika kelak semua sudah sejahtera, proyek tersebut silakan dilanjutkan.
Saat ini, banyak persoalan yang lebih penting untuk diurus ketimbang masalah gedung baru untuk bekerja anggota dewan. Di zaman teknologi yang serba maju seperti saat ini, kantor hanya penunjang saja, dan bukan hal utama dalam sebuah pekerjaan.
Di era teknologi yang sudah semakin maju, bekerja dapat dilakukan di mana saja dengan fasilitas internet dan laptop. Gedung hanya formalitas, yang dipergunakan sesuai fungsinya. Bukan dengan fasilitas hiburan dan kebugaran yang lebih bersifat pribadi. ****
(foto:internet)
Komentar